Monday, October 31, 2022

Still The One

Hari ini, Senin, adalah Senin keempat di bulan Oktober. Besok, Selasa, udah masuk ke November. Saat musim penghujan mulai mengintip. Tapi kalau menurut sahibul hikayat perbuatan mengintip itu adalah pamali, ora ilok orang Jawa bilang, dapat menyebabkan bintitan, hehe... :-p

Seperti biasa, setiap memasuki musim penghujan tentu kewaspadaan harus ditingkatkan supaya nggak mengalami serbuan air gegara hujan deras. Alhamdulillah pada dua tahun ini, tahun lalu dan tahun sekarang, aman-aman aja. Mudah-mudahan tahun depan 2023 nanti juga akan aman-aman. Amin.

Selain harus waspada dengan serbuan air tak diundang, yang juga perlu diperhatikan adalah supaya tidak terjadi kebocoran di bagian atap alias genteng. Repot kalau nggak diantisipasi, bakalan serasa jadi generasi sandwich.

Jadi, hal apakah yang dibahas pada tulisan kali ini? Lagi nggak pengen ngebahas apa-apa sih sebenernya, hehe... Soalnya lagi agak males buat nulis. Satu hal, kalau yang sering baca tulisan-tulisan sejak dari blog sebelumnya, pastilah udah tau jika jarang membahas soal jalan-jalan karena memang nggak begitu suka jalan-jalan.

Cuma dulu malah kerjaannya sering "jalan-jalan". Jarang banget ada di kantor sendiri, lebih seringnya ada di kantor orang. Di satu kantor klien malah dibikinin akses sendiri buat masuk kantornya gegara sering ke sana. Jadi setiap ke kantornya nggak usah lapor resepsionis dulu.

Pernah sekali waktu menjelang siang baru nyampe kantor di Bandung, eh nggak lama kemudian ditelfon buat meeting sore di kantor klien di Wisma Pondok Indah. Mau nggak mau, suka nggak suka, berangkat lagi deh ke Jakarta.

Pernah juga yang kayak di Solo, sekitar enam bulan gitu di kantor orang oleh karena kantornya di Lawang, Jawa Timur. Berdua temen sekantor padahal secara kerjaan lebih rumit. Bala bantuan hanya dipanggil jika memang sungguh diperlukan. Nginepnya saat itu di Malang, jadi setiap hari mondar-mandir Malang - Lawang. Tapi kalau yang paling sering ke Cikarang sih, entah ke Delta Silicon atau ke Jababeka.

 

Watching the rain flow down my window
Won't wash away the memories we knew
Though you're not with me
Everything reminds me of you

Tuesday, August 23, 2022

Teach Me How To Write

Bertahun lalu dapet email dari seorang yang pernah disuka saat masih awal-awal kuliah di Bandung. Dia ngirim email gegara baca blog yang sebelum ini (yang sekarang udah ditutup) dan ingin memastikan apakah memang I wrote that blog setelah dia liat nama penulisnya. Dia bilang, bakat menulisnya tersampaikan juga.

Sebenernya agak heran juga dibilang gitu, soalnya kan kalau dibilang berbakat berarti dia pernah tau kalau pernah nulis sebelumnya. Padahal sebelum nulis di blog nggak pernah nulis di medium apapun. Dan juga nulis di blog juga untuk diri sendiri, makanya sejak jaman dulu jarang banget yang namanya komen-komen di blog orang lain, cuma baca aja dan terkagum-kagum dengan orang yang bisa menulis di blog dengan panjang lebar dan bahasannya nggak membosankan.

Cuma sekarang sayangnya jaman menulis di blog sepertinya udah lewat, lebih banyak yang berekspresi melalui instagram atau twitter atau juga facebook. Banyak blog favorit yang udah nggak ter-update lagi, padahal dulu setiap tulisannya selalu ditunggu-tunggu.

Berikut adalah cuplikan tulisan dari satu blog menjadi favorit:

"Pasalnya, selama hidup di dunia yang penuh kepalsuan ini, makin lama saya makin sadar bahwa saya adalah satu dari banyak orang yang memiliki phobia.

Rupanya phobia ini berbeda dengan ketakutan biasa. Ya, kalau cuma takut doang sih, banyak. Takut hantu, takut serangga, takut bulu ayam dan takut gak cukup baik buat kamu. Hih." *ngakak*

Kemudian lagi:

"... Awalnya biasa aja. Lama-lama kok sayang ya.

Bukan.

Bukan gitu." *ngakak* lagi.

Tulisannya dianulir sendiri, hehe... Tapi beneran mengagumkan lho bisa nulis kayak gitu, yang dibahas bukan soal sepele tapi bacanya nggak bikin pusing. By the way, jangan-jangan yang bikin tulisan itu udah lupa kalau pernah nulis karena ditulisnya udah lama juga, empat tahun lalu, hehe... ;-)

Daripada nulis sebenernya lebih suka baca sih, terutama bacaan yang fiksi. Lebih suka dengan fiksi daripada yang non-fiksi oleh karena fiksi menstimulasi imajinasi dan juga kreativitas. Yang fiksi tuh misalnya novel. Sebagai contohnya, "A Tale of Two Cities", "Pride and Prejudice", "To Kill a Mockingbird", dan sebagainya. Siapa cobak yang nggak tau nama-nama seperti, Agatha Christie, Enid Blyton, Sidney Sheldon, Dan Brown, Lewis Carroll, dan masih banyak lagi.

Tapi kalau untuk novel yang paling berkesan sih dari dulu tetep masih "Tia" dari Kembang Manggis. Dan kalau untuk penulis terfavorit masih Alistair Maclean dan Morris West. Suka dengan novelnya Alistair Maclean semenjak baca "The Golden Rendezvous", kalau Morris West semenjak baca "The Salamander".

Dulu suka diledekin sama mantan temen baik, katanya jangan-jangan taunya cuma "Tia" doang, hehe... Iya deh, yang literaturnya seabrek-abrek. Dan supaya tak kepanjangan, maka disudahi dulu. Berjumpa lagi di Oktober nanti karena tulisan ini merupakan satu-satunya, the one and only, tulisan di Agustus dan di September libur bikin tulisan ;-)

 

More than the greatest love the world has known
This is the love I give to you alone
More than the simple words I try to say
I only live to love you more each day
 
...
 
I know I've never lived before and my heart is very sure
No one else could love you more

Sunday, July 31, 2022

"Every Step Of The Way"

Sebelum dimulai, judul tulisan nyontek dari judul lagu David Benoit, biar nggak menjadi keliru sangka. Di satu lagunya Karen Carpenter pernah bilang gini, 'ingin bintang tinggal bilang, ingin bulan tinggal pesan'. Eh... bentar, bentar, kalau itu sih yang bilangnya siapa lagi kalau bukan Trie Utami, hehe... Karen Carpenter bilangnya gini, 'the best love songs are written with a broken heart'.

The best love songs. Kalau membahas soal the best love songs, secara personal nggak ada sih lagu mana yang dianggap sebagai the best love songs. Karena, as for me, setiap lagu punya peristiwanya sendiri sebagai suatu pengingat. Lagi suka dengan si ini lagunya ini, suka dengan si itu lagunya itu, dan selanjutnya.

Bukan hanya soal pada saat lagi suka dengan seseorang, tapi misalnya pada saat lagi bete karena nilai ujian yang nggak bagus pun bisa juga tentu ada lagu yang menyertai. Atau misalnya selagi dalam perjalanan ke suatu tempat, ada juga lagu yang mengiringi meskipun lagunya ya lagu cinta juga karena memanglah kebanyakan lagu bahasannya adalah soal cinta, hehe...

Sebagai contohnya, sewaktu masih awal-awal di Troy nyaris setiap pagi sebelum pergi kuliah ada lagu Mariah Carey, "Dreamlover", yang sering diliat karena disiarin mulu oleh VH1. Atau juga "All I Want" yang lagunya Toad The Wet Sprocket yang selalu setia untuk menemani di saat-saat repot, dan masih banyak lagi.

Tapi kalau lagu untuk seseorang yang I'm in love with, deeply in love for sure, the best love song yang paling terpikirkan udah pasti adalah lagu berjudul "You're The First, The Last, My Everything". Demikian ;-)

 

My first, my last, my everything
And the answer to all my dreams
You're my sun, my moon, my guiding star
My kind of wonderful, that's what you are

I know there's only, only one like you
There's no way they could have made two
You're, you're I'm living for
Your love I'll keep forever more
You're the first, you're the last, my everything

In you I've found so many things
A love so new only you could bring
Can't you see if you, you make me feel this way
You're like a first morning dew on a brand new day

I see so many ways that I can love you 'till the day I die
You're my reality, yet I'm lost in a dream
You're the first, the last, my everything

Saturday, July 30, 2022

The Beginning And The End

Tulisan kali ini adalah sesuatu bahasan soal hubungan dengan seorang mantan teman baik. Yup, mantan teman, soalnya udah nggak diakui lagi sebagai teman sejak beberapa tahun lalu setelah si teman pergi secara semena-mena pada saat lagi ketemuan di suatu tempat di Setiabudi One dan juga di-unfriend di facebook, hehe...

Gimana kenalnya? Udah lama banget juga sih kenalnya, tahun dua ribu berapa di suatu forum online. Pada awal mulanya hanya saling bertukar komen tapi kemudian malahan ngebahas hal yang lain. Setelah selesai dari forum lalu bahasannya dilanjut lagi dengan melalui email. Saat itu cuma tau adalah ibuk dari seorang anak perempuan. Sekarang anaknya udah dua, yang kedua laki-laki.

Di awal-awal sempat ke kantornya dua kali. Saat itu masih berkantor di Kuningan, itu di gedung yang ada jamnya, kalau dari arah Plaza Festival sebelumnya Granadi. Pertama kali ke kantornya belum ketemu karena masih ada urusan lainnya jadi cuma nitipin oleh-oleh aja di resepsionis. Ketemu di yang kedua.

Oleh-olehnya dibawain langsung dari Bandung pagi-pagi dan setelah di Jakarta mampir dulu ke kantor si ibuk sebelum ketempat lain. Batagor yang tempatnya ada di deket San Francisco dan dari Kartika Sari yang ada di Dago. Bandung tuh hebat, deket kalau mau ke San Francisco :-p

Di kali pertama ke kantornya sempat berpapasan sih, cuma aja si ibuk nggak ngeh. Bisa berpapasan karena tau si ibuk bakal nyariin setelah dikabari resepsionisnya, makanya berbalik arah dulu biar nggak kesusul. Setelah berkunjung untuk kali kedua ke kantornya barulah kemudian ketemu dan ngobrol lumayan lama. Setelah itu sempat ketemuan juga di Setiabudi One karena deket dengan kantornya.

Mulai jarang berkomunikasi tuh sepertinya sejak si ibuk hamil anaknya yang kedua dan makin jarang lagi setelah anak keduanya lahir. Apalagi kemudian tau kalau anaknya yang kedua deket banget dengan si ibuk. Pernah waktu lagi ketemuan di Kokas si ibuk dikirim pesen supaya cepet pulang, hehe... Selama kenal cuma sempat beberapa kali ketemuan aja dengan si ibuk.

Hingga tibalah pada pertemuan terakhir beberapa tahun lalu bertempat di Setiabudi One. Saat lagi membahas sesuatu si ibuk menjadi nggak suka dan kemudian pergi begitu aja. Hanya bisa terbengong-bengong, tapi ya udah sih. Nggak berusaha untuk mengejar juga karena memang udah maunya begitu. Jadi, demikian akhir dari suatu pertemanan yang telah berlangsung bertahun-tahun. Nggak happy ending, hehe... ;-)

 

You just call out my name
And you know wherever I am
I'll come running to see you again
Winter, Spring, Summer, or Fall
All you have to do is call
And I'll be there
You've got a friend

Sunday, July 24, 2022

A Little Secret

Kebetulan. Yang tadinya dicari-cari tau-tau malah muncul sendiri pada saat nggak dicari-cari. Dulu pernah suka dengan seseorang yang pada awalnya aja nggak tau entah siapa namanya. Ketemu sekilas di suatu acara tanpa sempat kenalan. Tapi karena suka jadi penasaran pengen tau lebih jauh lagi. Dengan berbagai usaha tau juga siapa namanya.

Masih belum cukup, dimanakah rumahnya? Jaman dulu kalau berniat mau kenalan ya tentu harus ketemu orangnya secara langsung. Dengan berbagai usaha lagi kemudian jadi tau juga dimana daerah rumahnya. Ini daerah lho ya, bukan alamat. That was the best I could get. Berbekal nama daerahnya maka selama beberapa malam berjalan-jalan di daerah tersebut demi sekedar mencari tau dimanakah gerangan alamatnya itu. Udah kesana kemari tetapi nggak ketemu juga, hingga berpikir untuk menyerah.

Pada suatu malam saat udah hampir menyerah dan bersiap pulang tiba-tiba ngeliat yang disuka itu lagi duduk di rumahnya. Bisa tau karena tirai jendelanya belum ditutup. Tanpa berlama menunggu, setelah beberapa malam kemudian berkunjung ke rumahnya buat kenalan, modal nekat. Untungnya diterima dan nggak disuruh pulang, hehe...

Peristiwa yang lain. Mirip-mirip juga. Suka dengan seseorang pada saat berpapasan di jalan. Dia saat itu lagi jalan ke kampusnya. Setelahnya cuma tau namanya dan dimana tempat kuliahnya, di Fakultas apa gitu, belum tau dimana rumahnya. Waktu berlalu.

Kemudian, pada suatu senja menjelang malam, saat lagi dengerin radio, radio Oz, 'turn the radio up for that sweet sound' *nyanyik*, tau-tau ada yang ngirim lagu buat yang lagi disuka itu. Disebutkan dengan lengkap nama plus alamatnya, kan biar nggak keliru kirim. Kebetulan lagi, tanpa dicari-cari jadilah tau alamatnya. Tengkiu buat yang ngirimin lagu lho, sungguhlah berjasa banget, hehe...

Langsung kenalan setelah itu? Enggak lah, kenalnya sekitar dua tahun kemudian, hehe... Lama yak. Soalnya merasa percuma juga kalau harus kenalan pada saat itu juga. Dan tidaklah sia-sia menunggu selama dua tahun karena pada akhirnya tau punya perasaan yang sama. Dengan yang sebelumnya juga gitu, usahanya nggak sia-sia karena ternyata dia punya perasaan yang sama juga.

Satu lagi, tapi kali ini bukan soal kebetulan. Saat itu, pada suatu siang, lagi jalan dengan seseorang yang lagi disuka dan dia juga udah tau tapi belum mengungkapkan apakah suka juga atau enggak. Karena belum makan mampir di Hokben Setiabudi, di Bandung ini, buat makan siang.

Di tempat makan nggak duduk di depannya akan tetapi di sebelahnya. Sempat kayak agak gimana gitu dianya tapi tetep dibiarin aja duduk di sebelahnya. Yang sungguhlah nggak disangka, setelah selesai makan malah ditawari buat menyicipi minumannya dia. Tentunya nggak ditolak dong. Apakah dia kemudian punya perasaan yang sama? Well... biarlah itu menjadi rahasia kami berdua ;-)

 

Darlin' all I wanna do is be with you
Twenty four hours a day
All the other dreams I've had, have faded away
Darlin' all I wanna do is be with you
Twenty four hours a day
 
If you wanna be with me
Then here's where I'll stay
 
...

And the place for me isn't history
It's with you forever more

Thursday, July 14, 2022

"The Road Not Taken"

Selain beribadah haji, umrah juga udah pernah dan udah juga pernah dibahas di blog sebelumnya. Tapi nggak apa-apa dibahas lagi, masih dengan perspektif yang lain tentu, juga untuk menyegarkan ingatan akan peristiwa yang telah lalu ;-)

Nggak seperti saat berhaji yang boleh dibilang banyak perjuangannya karena hajinya menggunakan haji biasa, umrah relatif lebih enak dan nyaman karena fasilitasnya setara dengan haji plus atau plus plus. Oleh karena umrahnya dilakukan setelah berhaji, yang dilakukan merupakan definisi dari bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Jikalau menginginkan bersenang-senang dahulu bersenang-senang kemudian tentulah untuk ibadah hajinya menggunakan yang plus atau plus plus, hehe...

Pada waktu itu segala urusan untuk umrah dipercayakan kepada Tiga Utama. Memang pelayanannya sungguh memuaskan, mulai sejak dari berangkat hingga pulang. Hotelnya di Jeddah, Madinah, dan Mekkah bintang empat atau bintang lima dan satu kamar hanya ditempati oleh dua orang. Hotel yang di Madinah ternyata berhadapan dengan tempat penginapan saat haji dan hotel yang di Mekkah tempatnya di depannya Masjidil Haram, jadi enak banget kalau mau ke Masjidil Haram, setiap saat bisa. Pintu di Masjidil Haram tuh banyak banget tapi pintu favorit untuk keluar masuk sejak haji adalah pintu 78.

Kalau di Masjid Nabawi nggak buka 24 jam seperti di Masjidil Haram, dan tempat yang paling favorit adalah raudhah. Saat ibadah haji untuk bisa dapet tempat di raudhah harus cepet-cepetan, jadi pada banyak yang nunggu di pintu masjid yang paling deket dengan raudhah dibuka dan kemudian adu cepet lari supaya bisa dapet tempat di raudhah buat shalat subuh. Soal lari cepet-cepetan di dalem masjid sepertinya cuma terjadi di Masjid Nabawi. Dulu juga ikutan lari cepet-cepetan sih, selalu dapet tempat untungnya, hehe... Kalau saat umrah enak karena nggak harus rebutan tempat.

Yang enak juga kalau umrah, dari Madinah ke Mekkahnya naik pesawat, nggak seperti saat berhaji yang naik bus terbuka, yaitu bus yang nggak berpintu dan jendelanya nggak menggunakan kaca. Waktu dari Jeddah ke Madinah juga gitu, kalau umrah naik pesawat dan saat berhaji naik bus. Kalau pada saat berhaji jadwal di Madinah disesuaikan dengan 40 kali shalat lima waktu di Masjid Nabawi secara berturut-turut.

Hal yang sungguh sulit dilakukan saat ibadah haji yang bukan hal wajib dari rangkaian ibadah hajinya adalah mencium hajar aswad. Sebabnya karena harus berdesak-desakan. Pernah sekali nyaris mencium hajar aswad tapi nggak keburu karena nggak mudah untuk mempertahankan diri di antara kerumunan. Mencium hajar aswad berkali-kali saat umrah karena suasananya sepi, yang perempuan juga punya kesempatan buat mencium hajar aswad karena nggak harus berdesak-desakan, cukuplah dengan ikut antrian.

Yang agak menjadi persoalan pada saat berumrah adalah hal makanan. Bukan berarti makanannya nggak berkualitas, hanya rasanya kurang sesuai untuk selera, padahal jika ditilik dari penampilannya sungguhlah menggiurkan serta menggugah selera. Nggak buat semua makanannya tentu. Untungnya setiap mau makan ngambilnya sedikit-sedikit, jadi tau mana yang sesuai selera mana yang enggak karena hampir semuanya dicoba. Besok-besoknya hanya mengambil makanan yang sesuai selera.

Dan sehubungan dengan judul, karena bertahun-tahun kemudian baru menyadari bahwa pada saat umrah itu sebetulnya juga adalah untuk menentukan soal pilihan jalan mana yang harus dilalui. Memilih untuk meneruskan jalan yang sebelumnya telah dilalui, udah diwanti-wanti untuk memilih jalan yang lain tapi saat itu diabaikan. I didn't take the one less traveled by.

Gimana jadinya kalau memilih yang the one less traveled by? Hmm... bisa jadi blog ini nggak pernah ada dan nggak pernah juga ngirim email soal I love you ;-) Seandainya ada mesin waktu, pengen juga kembali lagi ke saat itu, to change the future, not back to the future ;-)

 

We'll be shadows in the moonlight
Darlin' I'll meet you at midnight
Hand in hand we'll go
Dancin' through the milky way

Wednesday, June 29, 2022

Don't Judge A Book By Its Cover

Jangan menilai sesuatu dari tampak luarnya atau dari penampilannya, idiom yang udah sangat umum yang mana hampir setiap orang tentu tau. Dan memang di tulisan kali ini sebagai bahasan adalah soal idiom tersebut berdasarkan pengalaman saat melakukan ibadah haji dulu. Masih belum terlalu lama kok, cuma sekitar 25 tahun yang lalu, hehe... :-p

Hanya beberapa hal yang mau dibahas, nggak banyak. Dan sebelum dimulai, ada juga yang akan dibahas disini tapi udah pernah dibahas di blog sebelumnya, diulang tapi dari perspektif yang lain.

Sebagai pengantar, ibadah hajinya pada saat itu yang haji biasa, bukan yang plus apalagi yang plus plus, totalnya sekitar 30 hari dengan kloter yang awal-awal dan berangkatnya melalui embarkasi Balikpapan. Dari pengalaman berhaji, berangkat di awal-awal kurang mengenakkan sih karena harus pinter-pinter jaga stamina supaya nggak loyo pada saat melakukan ibadah haji yang ada diujung.

Sebagai bahasan yang pertama yaitu berhubungan dengan hal menjaga stamina. Ibadah haji merupakan ibadah fisik, makanya stamina harus dijaga dan diperhatikan. Jadi pada saat itu udah semingguan menjelang dilaksanakannya ibadah haji, dan pada suatu sore merasa agak pusing. Agar pusingnya nggak berkelanjutan lalu pergi ke apotek buat beli obat seperti yang biasa dibeli di Indonesia kalau merasa agak pusing.

Setelah minum obat memang nggak pusing lagi tapi kemudian malah jadinya mengalami alergi. Padahal saat meminum obat yang sama di Indonesia nggak pernah mengalami alergi. Ternyata, meskipun merek sama tapi efek yang ditimbulkan tidaklah sama, masih ada lanjutannya. Dapet obat buat alergi dari dokter rombongan.

Berikutnya, justru malah nggak pengen liat atau tau lebih lanjut, cukup hanya dengan tau tampak luarnya aja. Peristiwanya saat itu pada suatu siang di tempat penginapan di Mekkah selagi menunggu waktu untuk pergi ke Masjidil Haram buat shalat ashar. Lagi baca-baca sendirian di kamar. Sebagai catatan, kamarnya ditempati oleh sepuluh orang yang masing-masing lima perempuan dan lima laki-laki.

Saat lagi baca-baca tetiba seorang ibuk-ibuk, masih muda juga, yang juga menempati kamar yang sama masuk. Wajar si ibuk masuk kamar karena memang tempatnya juga. Yang bikin tercengang adalah ternyata ibuk itu mau ganti baju. Taunya pada saat udah mau mengangkat baju yang dipake.

Tapi nggak ngeliat saat ibuk itu ganti baju sih, ngelirik aja enggak. Bisa merepotkan. Jadi si ibuk mengganti baju as if I wasn't there, mungkin yang lagi baca buku dikiranya ghost, hehe... Setelah selesai ganti baju kemudian keluar kamar dengan lempengnya. Menjadi misteri mengapa ganti baju di kamar karena biasanya pada ganti baju di kamar mandi.

Berikutnya lagi, terjadi di bandar udara Tjilik Riwut, Palangkaraya saat udah pulang ke Indonesia lagi setelah selesai melakukan ibadah haji. Waktu itu bareng dengan anggota rombongan yang lain akan menuju pintu keluar. Pada saat memasuki suatu ruangan tiba-tiba dihampiri seseorang yang mengatakan bahwa yang dibolehkan di ruangan itu hanya yang baru pulang berhaji.

Dapat dimaklumi sebabnya kostum yang dipake nggak kayak anggota rombongan lain yang menggunakan kostum ala timur tengah. Saat itu kostumnya hanyalah baju kaos kerah dengan celana kain yang nggak ada sama sekali nuansa timur tengahnya.

Tak hendak mengatakan sebagai anggota rombongan juga, dan bersiap meninggalkan ruangan. Tapi sebelum meninggalkan ruangan ternyata ada anggota serombongan yang tau dan bilang jika termasuk anggota rombongan juga. Lalu diperbolehkan untuk keluar berbarengan dengan anggota rombongan lainnya. Looks can be deceiving.

Jadi begitulah sekelumit pengalaman yang berhubungan dengan judul tulisan ini pada saat melakukan ibadah haji dahulu. Semoga yang lagi pada galau atau pusing dapat terhibur juga ;-)

Monday, June 20, 2022

Desire To Return

Hasrat untuk kembali. Kembali ke mana? Judul tulisan ini sebenernya berasal dari kalimat "the desire to return to an earlier state of things" atau yang lebih dikenal dengan istilah repetition compulsion. Sebagai penyebabnya yaitu karena "humans seek comfort in the familiar" atau kalimat lainnya "humans are hardwired to find comfort in repetition". Dapat menjadi persoalan disebabkan oleh "the law of repetition states that repeating a behavior makes it more powerful".

Nggak berniat untuk membahas secara lebih detil karena bukan orang yang berkompeten untuk membahas hal tersebut, ringkas aja. Tetapi bahasannya ya nggak ngawur-ngawur juga, palingan ngalor ngidul lah, hehe... Dari beberapa artikel yang dibaca, bahasannya lebih mengarah ke persoalan kenapa sering terjadi pengulangan unhealthy atau abusive relationship, yang bisa juga disebabkan oleh obsessive love disorder.

Kalau untuk yang sering membaca blog ini pastilah udah tau kalau isi tulisannya banyak yang membahas soal masa lalu. Pertanyaan yang muncul adalah apakah hal ini berarti karena hasrat untuk mengulang masa lalu tadi? Enggak juga sih (denial), menulis soal masa lalu lebih sebagai pengingat agar tidak mengulangi hal yang tidak mengenakkan di masa lalu dan yang enak supaya bisa lebih enak lagi. Biar bisa move forward, gitu kan? ;-)

Jadi, hal apakah lagi di masa lalu yang mau ditulis lagi di sini? Singkat aja, dulu, jaman masih di Bandung, pernah kencan, makan malam gitu, di Eldorado sebagai tempatnya dan pada saat itu dari sekian lagu yang diperdengarkan di tempat kencan sebagai musik latar ada yang judulnya "How Deep is Your Love". Merasa awkward saat denger lagunya karena pertanyaan yang jadi judul lagunya. Cinta yang terlalu bisa aja menjadi obsessive love disorder, tetapi kalau biasa-biasa aja bisa-bisa malahan dikira hanya sekedar main-main. Repot bukan.

Yang kedua, masih pada soal perkencanan di Bandung juga akan tetapi di tempat serta waktu yang berbeda. Di Pagoda pada siang menjelang sore, masih dengan acara makan bareng juga. Nggak ada persoalan sih, cuma aja kelupaan naruh uang di dompet. Yang tadinya berniat untuk ngebayarin jadinya malahan dibayarin, hehe... Untungnya nggak dapet marah dari yang ngebayarin.

And before it's too late, I love you ;-)

 

If I knew back then what I know now
If I understood the what, when, why, and how
Now it's clear to me
What I should've done

Monday, May 9, 2022

Always

Idul Fitri udah seminggu berlalu, gimana dengan pesta pora perayaan kemenangannya? Sepertinya rame dan meriah ya, ditambah lagi dengan kemacetan yang terjadi. Libur Idul Fitri memang gitu sejak dulu, selalu diiringi dengan kemacetan, udah lumrah. Jadi nggak usah sewot atau ngedumel kalau mengalami kemacetan. Pernah mengalami kemacetan parah gegara liburan Idul Fitri, ya dinikmati aja. Ngomel-ngomel juga percuma, hehe...

Trus, gimana caranya biar nggak mengalami kemacetan saat libur Idul Fitri? Gampang banget sih caranya, yaitu dengan cara nggak usah pergi kemana-mana, hehe... :-p Cara yang paling jitu untuk mengantisipasi kemacetan. Kan tahun depan bakal ada lagi libur Idul Fitri, nah... boleh deh diaplikasikan daripada, katanya Utha Likumahuwa, tersiksa lagi ;-)

Membahas singkat soal perayaan kemenangan, sepertinya nyaris nggak ada yang nggak ikutan untuk merayakan kemenangan. Pertanyaannya adalah, kalau semua merayakan kemenangan trus siapakah yang nggak menang? Setan merah? Setan kan katanya udah dibelenggu, jadi nggak bisa ngapa-ngapain. Hawa nafsu? Gimana caranya tau kalau hawa nafsu udah nggak menang? Atau menang melawan diri sendiri? Mengalahkan diri sendiri kemudian merasa menang, hmmmh... ribet juga ya ternyata. Jadi, kesimpulannya yaitu kemenangan merupakan suatu keniscayaan, bukan begitu?

Anyway, karena bulan Mei ini udah bukan lagi musim penghujan jadi kalau berkeinginan demi bisa ngopi berteman hujan di senja tentunya hanyalah sebatas angan-angan, harus menunggu hingga tiba musim penghujan berikutnya. Tapi nggak ada yang perlu untuk dikuatirkan, sambil menunggu musim penghujan berikutnya masih bisa juga untuk ngopi berteman hujan di bulan Juni, mengasyikkan juga kok ;-)

Dan sebelum tulisannya disudahi, berikut adalah cuplikan dari syair lagu untuk yang lagi kasmaran. Cuplikan syairnya hasil nyontek postingan instagram milik Okky Kumala Sari. Thanks karena telah menginspirasi. Dan untuk yang lagi kasmaran, warm regards ;-)

 

Kala surya menghilang
Bulan dan bintang kan bersemi lagi
Bagaikan pelita yang datang
Menyinari sukma
Yang dilanda lara, duka nestapa

Kala burung berkicau
Mentari pagi akan datang lagi
Menghangatkan hati
Yang sedang dimabuk asmara
Dan menyiksa raga

Monday, April 25, 2022

Ready For May!

Karena masih di suasana puasa, mau ngebahas gimana puasa, dan juga Idul Fitri tentu, di kota-kota di mana pernah bertempat tinggal. Udah pernah dibahas di tulisan-tulisan sebelumnya pernah berdomisili di kota mana aja, yaitu, sesuai urutan, Tanjungkarang, Palangkaraya, Malang, Bandung, Covina - Glendora, Troy, Solo, Jakarta Selatan, serta Jakarta Timur sebagai tempat tinggal saat ini.

Untuk yang pernah merasakan puasa serta Idul Fitri juga yaitu di kota Tanjungkarang, Palangkaraya, Malang, Troy, dan Jakarta Selatan serta Jakarta Timur. Ada enam kota. Yang hanya pernah merasakan puasa aja di kota Bandung dan Solo. Kalau sewaktu di Covina - Glendora nggak pernah merasakan gimana rasanya puasa dan Idul Fitri.

Untuk di Bandung, meskipun boleh dibilang lama menetap di Bandung, merupakan kota terlama kedua yang pernah ditempati, sekitar sebelas tahun secara penuh, sekitar tujuh tahun sebelum pergi ke Amerika dan sisanya setelah pulang dari Amerika, kemudian juga beberapa tahun berikutnya bolak-balik Jakarta - Bandung, nggak pernah satu kali pun merayakan Idul Fitri karena selalu mudik. Hanya merasakan puasanya aja.

Seperti halnya dengan di Bandung, di Solo hanya sempat merasakan puasa Ramadhan tanpa Idul Fitri, cuma sekali aja tapinya. Pengalaman paling berkesan selama berpuasa adalah setiap sahur menunya selalu nasi goreng. Untungnya tergolong sebagai penyuka nasi goreng jadinya nggak merasa bosan sahur dengan nasi goreng melulu.

Gimana rasanya puasa di Tanjungkarang? Meskipun saat itu masih SD tapi udah bisa puasa penuh semenjak kelas tiga kalau nggak keliru inget. Karena masih kecil, merasa lapar, terutama merasa haus adalah suatu hal yang wajar, tapi nggak menjadi halangan apalagi cuaca di Tanjungkarang boleh dibilang sejuk. Sempat juga merasakan sekolah diliburkan selama bulan puasa. Dibeliin baju baru juga buat Idul Fitri. Kalau pada saat Idul Fitrinya seringnya malah mainan dengan temen-temen di deket rumah. Rame dan menyenangkanlah.

Kalau sewaktu di Palangkaraya puasanya ngos-ngosan sebab cuacanya terik. Apalagi di Palangkaraya tuh tanahnya bukan tanah yang biasa akan tetapi berupa pasir kayak di pantai, cuma nggak ada lautnya aja, sehingga bikin cuaca lebih terik lagi. Untungnya sih setelah sekolah di Malang puasa di Palangkaraya nggak selalu penuh karena baru pulang ke Palangkarayanya menjelang Idul Fitri. Sejak pindah ke Palangkaraya udah nggak ada lagi tradisi dibeliin baju baru buat Idul Fitri. Idul Fitri di Palangkaraya repot sebab banyak yang berkunjung, dan diperbantukan jadi tukang cuci piring gelas.

Berikutnya kota Malang, tempat paling enak untuk berpuasa dan ber-Idul Fitri meskipun waktu di SMA dapet tugas buat mencatat khotbah tarawih dan harus ditandatangani oleh yang jadi penceramah. Pernah sekali Idul Fitri sendirian di Malang karena nggak sempat pulang ke Palangkaraya sebab harus mengerjakan sesuatu dulu di Bandung, jadi pulang ke Malangnya juga udah menjelang Idul Fitri. Waktu itu masih kuliah di ITB.

Untuk pengalaman puasa dan Idul Fitri di negeri orang yaitu pada saat di Troy. Rasanya biasa aja, tapi beruntung waktu itu jadwal puasanya di musim dingin jadi nggak terasa berat, selesai sahur jam enam pagi dan jam lima sore udah buka. Terkadang ikut shalat tarawih berjamaah di tempat orang Indonesia juga yang sekolah di sana. Idul Fitri nggak libur jadi kalau kebetulan ada kelas ya harus bolos kalau mau ikutan shalat. Acara Idul Fitrinya bukan saling kunjung-mengunjungi tapi ngumpul-ngumpul.

Untuk yang di Jakarta nggak usah dibahas karena sekarang kan puasa juga di Jakarta, hehe...

Selanjutnya, karena minggu depan udah Idul Fitri, mengucapkan 'minal aidin wal faidzin, maafkan lahir dan batin'. May you all have a great Idul Fitri holidays!

Monday, April 4, 2022

"April Love"

Senin pertama pada puasa hari kedua karena mulai berpuasa di hari ketiga bulan yang keempat. Gimana, kalimatnya udah berima belum? Hehe... Jadi, karena mulai puasanya Minggu kemarin maka jumlah hari puasa di April ini adalah sebanyak 28 hari. Kalau yang mulainya Sabtu ya puasanya 29 hari. Nggak apa-apa sih, toh nanti Idul Fitrinya sama-sama di bulan kelima, hehe...

Karena puasa udah menjadi kebiasaan sejak dulu maka nggak begitu menganggap puasa sebagai suatu hal yang teristimewa. Lapar dan haus juga nggak begitu terasa meskipun nggak makan dan minum sejak dari Subuh hingga Maghrib. Karena boleh dibilang nggak mendapatkan lapar dan haus semoga bisa mendapatkan yang lebih berharga, amin!

Untuk makanan atau minuman juga nggak menyiapkan sesuatu yang spesial atau khusus juga buat sahur ataupun buka. Lagian males juga sih karena semuanya harus nyiapin sendiri soalnya di rumah nggak ada yang bisa bantu-bantu kayak asisten gitu. Makanya diusahakan yang sepraktis mungkin.

Repot nggak kalau nggak ada yang bantu-bantu? Ya repot juga tentu, kan nggak cuma nyiapin sahur atau buka aja, nyapu, ngepel, dan hal-hal lainnya juga harus dilakukan sendiri. Sebagai contohnya, nyetrika baju jam empat pagi meskipun nggak gitu banyak yang harus disetrika karena di rumah cuma berdua dengan ibuk. Bangun tidur kalau pengen minum kopi atau teh harus bikin sendiri dulu. Cuma karena udah jadi kebiasaan jadinya nggak terlalu berasa kerepotan. Untungnya, nggak perlu pusing dengan acara asisten pulang kampung atau mudik.

Udah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah sedari masih kecil, udah gape lah. Dulu jaman masih SMP dapet kerjaan buat ngepel dan setrika baju setiap pulang libur sekolah ke Palangkaraya. Memasak juga bukan suatu hal yang sulit, seperti misalnya masak nasi, masak air, atau juga masak mie instan. Masaknya yang ringkes-ringkes, jadinya nggak bikin dapur kayak masak abis buat kenduren, hehe...

'1 2 3 4 come on baby say you love me, 5 6 7 times'

Monday, February 28, 2022

Not The Last Monday

Tiba juga di penghujung Februari dan besok udah di Maret. Suatu hal yang sungguhlah melegakan karena berarti drama banjir hampir pasti tidak akan terjadi, probabilitasnya boleh dibilang zero to none. Tapi ya nggak kemudian langsung bisa bikin bahagia juga sih, hehe.... Karena kan siklusnya terus berulang setiap tahunnya, selama masih adanya musim penghujan.

Makanya berharap ibukota cepet pindah supaya Jakarta bebannya nggak semakin berat sehingga bisa menghilangkan potensi drama banjir, selain kemacetan yang udah semakin parah, dan nggak akan tenggelam. Kalau Jakarta lengang kan jadinya enak dan nyaman.

Berbicara soal hujan, sebagai seorang yang biasa mengaku-aku sebagai penyuka hujan, sedih juga sebetulnya jadi curiga mulu dengan hujan. Padahal, mon maap sebelumnya nih, menyeruput kopi pada saat hujan, yang nggak deras tentu, kan sungguhlah sangat mengasyikkan, apalagi jikalau ngopinya berteman hujan di senja, udah deh, nggak ada lawan. Beneran, suer, kalau Kylie Minogue bilangnya sih my heart is oh so true, sumprit kalau katanya temen-temen saat masih remaja dulu di Malang. Sekarang mah bukan remaja lagi tapi udah kewut, hehe...

Demikian untuk tulisan kali ini, singkat aja, semoga dapat menghibur setiap hati yang sedang galau. Tapi kalau galaunya gegara pacar yang nggak suportif sehingga bikin jadi senewen katanya Charly Van Houten sih cari pacar lagi, hehe...

Sebelum kelupaan, just in case belum tau, dimulai sejak 14 Februari lalu udah nggak lagi menggunakan picsart sebagai sarana untuk pamer foto. Untuk gantinya pindah ke... yak you guess right, instagram. Buat yang penasaran boleh tengok ke psetyowardono ;-) 

Monday, February 14, 2022

Rain Talk

Selasa minggu lalu daerah di sekitar rumah diguyur hujan deras sejak dari pagi hingga siang hari. Tentunya hujan yang intensitasnya tinggi dengan waktu yang lumayan lama bikin perasaan jadi kuatir atau was-was. Tapi alhamdulillah tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Cuma ya gitu, gegara sempat kehujanan jadi agak-agak flu dengan tambahan sedikit batuk. Untungnya selalu menyimpan obat flu di rumah sehingga bisa segera diobati dan flunya nggak menjadi parah.

Memang, sejak drama banjir dua tahun lalu jadi selalu was-was, kuatir setiap kali ada hujan deras, bawaannya curiga mulu kayak diselingkuhin gebetan. Kalau gini, kapan mau bahagianya cobak. padahal kan katanya 'bahagia itu sederhana, hanya dengan melihat senyummu', atawa baru bahagia setelah belanja dulu? Hehe...

Padahal sebelum adanya drama banjir, sebagai penyuka hujan *ngaku-ngaku*, hujan, yang nggak deras tentu, adalah suatu hal yang selalu ditunggu-tunggu. Seneng aja gitu ngeliat hujan membasahi tanah yang kering dan dedaunan. Apalagi kalau hujannya yang hujan di senja gitu, cakep! Eh, kok cakep sih, gerimis-gerimis yang dimaksud. Mon maap *menjura*. Bisa betah untuk berlama-lama di depan jendela cuma demi ngeliatin hujan sembari ngelamun jorok, merenung, atau apapun itulah istilahnya. Katon Bagaskara sih bilangnya ngelangutkan jiwa.

Jaman masih kecil dulu, saat masih di SD, lumayan sering mandi hujan kalau hujannya deras, tentunya setelah dibolehin. Tapinya ya setelahnya harus mandi lagi supaya nggak malah jadi sakit. Pernah sekalinya saat awal-awal kuliah di ITB kehujanan selagi jalan pulang sore-sore setelah selesai UTS. Bukannya langsung mandi malahan tidur karena kecapekan juga, hasilnya begitu bangun badan nggreges nggak karu-karuan.

Kehujanan memang bukan suatu hal yang dapat dikata mengasyikkan, akan tetapi kalau hujannya masih sebatas rintik-rintik bolehlah. Seperti yang dibilang oleh Gene Kelly, 'I'm dancing and singin' in the rain' ;-)

Saturday, January 8, 2022

Prolog

Sebagai tulisan pertama di tahun 2022, mau ngebahas dulu soal IHSG. Jadi, pada tahun lalu IHSG tidak mencapai angka 7,500 sesuai dengan yang diharapkan, angka 7,000 pun tidak tercapai. Memang mengalami kenaikan tapi pada akhir tahun 2021 hanya mencapai di sekitar 6,600. Boleh dibilang cukup bagus tapi mostly kenaikannya hanya didominasi pada kenaikan di Januari yang mencapai sekitar 500 poin. Sejak bulan Februari hingga Desember hanya mengalami kenaikan sekitar 100 poin meskipun sempat hampir menuju ke 6,800.

Pergerakan angka IHSG tahun lalu nggak begitu dipengaruhi oleh kasus viruskorona yang sempat meningkat dengan varian delta. Jadi, apakah faktor yang menjadi penentu utama dari pergerakan IHSG? Oleh karena IHSG tidak bergerak secara linear, meskipun secara jangka panjang tren IHSG mengalami kenaikan.

Untuk tahun ini, setelah seminggu IHSG berada di kisaran 6,700an. Dan disebabkan pada tahun lalu masih jauh dari 7,500 maka untuk tahun ini angka yang diharapkan untuk bisa dicapai dibuat menjadi tiga tahapan, yaitu tahap pertama mencapai 7,000, tahap kedua mencapai 7,500 dan pada tahap ketiga mencapai 8,000. Apakah angka-angka tersebut akan dapat tercapai? Mudah-mudahan di tahun 2022 ini selalu lancar tanpa mengalami banyak hambatan. Amin!

Demikian sebagai tulisan awal pada tahun ini, singkat aja. Once again, may you all have a great year!

Featured Post