Monday, December 27, 2021

Do You Remember?

Tulisan terakhir di tahun ini yang juga di Senin terakhir tahun ini, 2021. Nggak ngebahas soal gimana-gimana selama tahun 2021 hanya masih mau nerusin bahasan saat masih kuliah di ITB. Yang pasti sih tahun ini not bad at all.

Hal yang juga harus dilalui selagi kuliah di ITB adalah kerja praktek atau biasa disebut dengan KP. KP ini wajib dilakukan sebanyak dua kali, tapi dulu melakukan KP sebanyak tiga kali. Yang ketiga nggak harus sih, itu karena diajakin temen dan karena pengen tau juga, tempatnya di IPTN, masih di Bandung juga, jadi nggak begitu repot.

Kalau untuk KP yang pertama dan kedua tempatnya yaitu di Surabaya, di Philips Ralin Electronics dan di Karpindo Bahagia, durasinya masing-masing selama satu bulan. Milih di Surabaya supaya bisa sekalian mudik ke Malang karena waktunya saat libur semester. Juga sekalian kalau lagi libur Sabtu Minggu bisa ke Malang.

Nggak kesulitan mendapatkan tempat sementara di Surabaya saat KP pertama karena dibolehkan untuk menempati rumah kontrakan temen-temen saat masih di SMA yang kuliah di ITS. Karena libur semester jadi kontrakannya kosong sebab mereka semuanya pada pulang ke Malang. Makasih banget karena udah mengijinkan kontrakannya buat ditempati. Di kontrakan nggak sendirian karena ada dua temen kuliah juga yang ikutan numpang sementara karena KP di tempat yang sama.

Kalau untuk yang KP kedua, selama masa KP numpang sementara di rumah bulik atau tante yang adiknya bapak karena ternyata tempat KP di Waru nggak jauh dari rumah beliau, suatu hal yang tidak disangka-sangka. Kalau dari arah Malang lokasinya berada di sebelah kiri jalan setelah melewati bunderan Waru. Tapi pabrik di tempat itu sepertinya udah lama tutup. Seperti di KP yang pertama, nggak sendirian juga di rumah tante. Ada juga yang ikutan, seorang aja tapinya nggak dua orang. Sungguh berterima kasih karena telah bersedia untuk direpoti.

Jadi, nggak kuliah di Surabaya tapi KP di Surabaya. Dan seperti yang pernah dituliskan sebelumnya, males ke Surabaya karena selain sumuk juga nyamuknya banyak amat. Dan supaya selama KP bisa survive dari gangguan para nyamuk bermodalkan obat nyamuk oles, obat nyamuk semprot, dan obat nyamuk elektrik, hehe...

Jumpa lagi di tulisan berikutnya tahun depan. Happy New Year and may you all have a great year ahead!

Sunday, December 12, 2021

Get Closer

Hal yang diperlukan setiap orang pada saat akan pergi ke luar negeri, untuk hal apapun, adalah paspor. Pada saat akan melanjutkan sekolah ke Amerika dulu juga harus punya paspor supaya bisa berangkat. Bukan suatu hal yang sulit untuk mendapatkan paspor di Bandung karena juga diurusin oleh Triad sebagai bagian dari pendaftaran ke LCP, seperti tiket pesawat. Jadi untuk urusan paspor tau beres lah istilahnya.

Yang lumayan merepotkan adalah, sebelum bisa mendapatkan paspor kan harus punya KTP dulu. Dan di Indonesia nggak seperti di Amerika yang untuk mendapatkan kartu identitas cukup lapor ke DMV dan kartu akan diterbitkan pada hari itu juga. Di Amerika yang lebih penting itu adalah SSN, kalau kartu identitas palingan hanya untuk hal-hal yang berhubungan dengan 17+.

Sejak dari awal kuliah di ITB nggak punya KTP Bandung, tapinya aman-aman aja oleh sebab sebelumnya nggak pernah mengalami ada suatu urusan yang harus melampirkan KTP Bandung. Trus, gimana caranya supaya bisa mempunyai KTP Bandung? Ya tentu harus numpang alamat kepada yang berdomisili di Bandung. Dan beruntung ada yang berbaik hati dengan bersedia mengijinkan alamat rumahnya digunakan sebagai alamat KTP. Bukan di Sulanjana ataupun di Tengku Angkasa, akan tetapi di Imam Bonjol.

Kok bisa gitu? Jadi, semenjak pindah ke Tengku Angkasa lumayan sering berkunjung ke rumah temen seangkatan sejurusan yang rumahnya di Imam Bonjol. Sebelumnya mon maap jikalau bahasannya lokal banget, Tengku Angkasa dengan Imam Bonjol jalannya deketan. Dari tempat kos ke rumah temen cuma jalan kaki bentar nyebrang taman yang dideket Teuku Umar disebabkan lokasi rumah temen lebih deket ke Teuku Umar daripada Hasanudin. Kalau tempat kos lebih deket ke Hasanudin, nggak begitu jauh juga dari toko You, masih lebih jauh ke gado-gado Tengku Angkasa. By the way, sudahkan berkencan di Tizi? ;-)

Karena lumayan sering berkunjung itu makanya menjadi lebih deket juga secara personal sehingga temen membolehkan alamat rumahnya untuk digunakan sebagai alamat KTP. Termasuk juga ikutan berepot-repot buat pengurusan pembuatan KTPnya hingga tuntas. Sungguhlah sangat berterima kasih karena jadi bisa bikin paspor di Bandung.

Ada pengalaman yang agak lucu dengan temen di Imam Bonjol itu gara-gara diajak buat ikutan jadi panitia saat kakaknya akan menikah. Waktu itu, sore-sore, lagi rapat perdana di rumah calon istri kakaknya temen dan tetiba ada seorang cewek, yang tanpa babibu langsung masuk buat ikutan rapat. Suasana rapat menjadi hening karena peserta rapat jadi diem dan bengong ngeliatin. Ngeliatinnya bukan karena heran sih, tapi lebih karena yang lewat itu orangnya cantik, hehe... Setelahnya barulah tau ternyata yang datengnya telat adalah mahasiswi FH Unpad yang jadi pemenang dari wajah Femina, wah... pantes aja.

Featured Post