Wednesday, July 28, 2021

Help Yourself

Masih dalam edisi nggak nulis berpanjang-panjang. Jadi, sejak dimulai dari SD hingga universitas, sekolahnya dan kuliahnya selalu di negeri, dengan perkecualian pada saat di Palangkaraya yang SDnya di swasta. Kenapa di negeri? Karena biayanya murah, SPPnya murah, dan kalau beruntung bisa dapet sekolah negeri yang kualitasnya bagus dengan biaya murah.

Di Malang, SMPN 3 dan SMAN 3 reputasinya udahlah nggak usah lagi diragukan, sekolah negeri yang tergolong top meskipun dulu daftarnya bukan karena topnya. Seperti yang udah pernah dibahas sebelumnya ke SMPN 3 karena lokasinya yang deket dengan rumah bude dan daftar ke SMAN 3 karena banyak temen SMP yang daftar ke SMAN 3.

Ke ITB juga gitu, alasannya milih bukan karena yang paling top untuk kuliah di bidang teknologi pada waktu itu tapi lebih ke karena cuaca Bandung tempat dimana ITB berada yang mirip-mirip dengan Malang. Topnya adalah bonus. SPP di ITB saat kuliah di sana biayanya 60 ribu rupiah untuk satu semester. Murah bukan? Ibarat beli Mercedes S Class seharga Toyota Agya.

Memang sih untuk sekolah negeri pada waktu itu nggak sesuai dengan peribahasa Jawa ono rupo, ono rego. ITB kualitasnya nggak diragukan lagi tapi biaya kuliahnya murah, universitas swasta yang paling mahal aja kualitasnya belum bisa ngalahin ITB. Eh, tapi kalau ada yang nggak setuju boleh protes lho, hehe... ;-)

Itu tadi untuk bahasan sekolah yang di Indonesia ya, kalau untuk yang di Amerika, RPI adalah institusi swasta dan biaya kuliahnya juga nggak murah. Dulu, satu semesternya sekitar 6 ribuan dolar. Bedanya dengan di Indonesia, universitas-universitas top Amerika banyaknya malah yang swasta. MIT ataupun Stanford misalnya, itu swasta. Universitas yang tergabung di Ivy League semuanya swasta atau privat, nggak ada yang negeri.

 

'You're all that matters to me
The ground that you walk
The air that you breathe
Someday you'll discover
I don't want no other
Believe me
You're all that matters
All that matters to me'

Tuesday, July 6, 2021

Halfway Through

Yuhuuu, gimana nih kabarnya setelah separuh tahun 2021 terlampaui? Masih pada baek-baek aja kan, meskipun setiap hari disuguhi berita soal viruskorona yang ternyata malah semakin banyak variannya, lebih bikin kuatir daripada saat awal muncul. As for me, sejak dari awal munculnya viruskorona hingga sekarang ini kebiasaan yang dilakukan nggak banyak berubah sih, selalu waspada dimanapun berada, terutama kalau lagi di tempat dimana ada orang berkerumun.

Perjalanan untuk menuju akhir tahun 2021 masih panjang, jadi energy saving menjadi hal yang penting, nggak menghabiskan energi untuk hal-hal yang nggak perlu. Apalagi dengan banyaknya orang yang sakit juga bikin hawanya jadi nggak enak karena banyak energi negatif yang keluar. Sakit ringan yang harusnya bisa cepet sembuh jadi butuh waktu lebih lama untuk sembuh.

Dan karena udah memasuki paruh kedua 2021, mau ngebahas sedikit soal IHSG yang sekarang masih berkutat di level enam ribuan setelah di awal tahun bisa mencapai level 6,500an. Apakah masih mungkin untuk mencapai level 7,500an? Tentu masih lah, bukan 'harap yang tak ada', setengah tahun bukan waktu yang sebentar. Wong viruskorona aja bisa melesat mosok IHSG nggak bisa, pasti bisa. Amin!

Demikian untuk tulisan kali ini, singkat demi menghemat energi ;-)

Featured Post