Jadi, selama kuliah di ITB pernah ngekos di dua tempat, pertama yang di Sulanjana dan kedua di Tengku Angkasa. Di Sulanjana ada enam kamar dan di Tengku Angkasa ada lima kamar. Awal-awal di Sulanjana dapet kamar yang paling depan tapi nggak lama dan kemudian pindah ke kamar yang paling belakang (tempat kosnya memanjang). Kalau di Tengku Angkasa kamar kosnya terletak di lantai dua, dua kamar di sisi kanan dan tiga kamar di sisi kiri. Awalnya dapet kamar di yang kanan belakang dan kemudian pindah ke kamar di kiri ujung. Soal pengalaman pindah kamarnya mirip-miriplah.
Kos di Tengku Angkasa hingga sekitar awal Mei 1993, sebelum lanjut kuliah ke Amerika. Seperti pada saat pertama kali pergi ke Bandung, meninggalkan Bandung pada saat itu juga dengan menggunakan 4848 ke Jakarta, cuma nggak ditemenin bapak lagi tapinya sendirian. Setelah lulus kuliah Oktober 1992 dan kerja di Jakarta sebelum ke Amerika di Bandung hanya pada Sabtu Minggu. Dari Senin pagi hingga Jumat sore ada di Jakarta. Jadi punya dua tempat kos, satu di Jakarta dan satu di Bandung. Untuk soal yang kos di Jakarta sebelumnya pernah dibahas.
Apakah perbedaan pada saat kos di Sulanjana dan di Tengku Angkasa? Jika di Sulanjana sistemnya adalah kontrak kamar selama satu tahun, maka di Tengku Angkasa adalah bener-bener tempat kos yang bayarnya setiap bulan. Jadi nggak harus repot-repot buat cari makan dan manggil bibik untuk cuci-cuci karena semuanya udah disediakan, all in. Untuk makannya disiapin mulai dari makan pagi hingga makan malam, tiga kali sehari. Yang juga berbeda, di Sulanjana ibuk kosnya biasa dipanggil tante, ibuk kos di Tengku Angkasa dipanggilnya emak, udah sepuh juga.
Saat awal di Tengku Angkasa yang kuliahnya di ITB tiga orang (including me) dan juga jadi awal kenal dengan temen sejurusan satu angkatan di bawah, padahal sejurusannya udah lumayan lama, yang kemudian jadi suaminya buk dokter gigi Evy Indriani Vyati yang adalah temen sekolah saat di Malang. Seperti katanya, asam di gunung garam di laut, dalam belanga bertemu jua. Cuma nggak tau juga deh apakah sekarang buk dokter masih terpesona oleh khayangan.
Biaya kos di Tengku Angkasa saat itu 200 ribu rupiah setiap bulannya, lumayan mahal juga tapinya udah all in dan ukuran kamarnya pun lebih luas dari yang di Sulanjana, dua kalinya kira-kira. Worth it lah meskipun penghasilan dari les privat yang juga waktu itu 200 ribu rupiah setiap bulannya jadi langsung ludes buat bayar kosan. Konsekuensinya, untuk keperluan lain-lain jadi mengandalkan kiriman ortu. Cuma aja pada saat itu jarang banget sih minta kiriman ortu, kecuali memang harus. Kalau dikirim alhamdulillah nggak dikirim juga tetep alhamdulillah.