Monday, October 26, 2020

The Journey Continues

Masih akan ngebahas soal LCP serta pada saat di Covina dan Glendora. Terkagum dengan yang dapet ide bikin LCP karena kejeliannya untuk "menangkap" peluang bisnis dari, saat itu, banyaknya warga asing yang berkeinginan untuk melanjutkan studi di Amerika. Yang mendirikan LCP atau owner-nya adalah seorang perempuan, Nay Farsadi.

Yang ikutan LCP bukan hanya dari Indonesia aja, dari negara lain juga ada. Saat masih di Glendora yang juga banyak dari Jepang, ada juga dari Turki. Kalau yang dari Indonesia sekitar 50 orang sih ada. Sempat merekomendasikan LCP ke dua orang dan dua-duanya juga langsung dapet sekolah di Amerika, di Buffalo dan di Rochester. LCPnya yang ada di Sacramento.

Ikutan LCP merupakan suatu berkah karena awalnya nggak ngerti sama sekali LCP itu gimana, hanya mengikuti saran dari owner-nya Triad, dan berbuah manis. Gara-gara ke LCP juga jadi berkesempatan jalan-jalan ke Hollywood, Six Flags Magic Mountain, juga Universal CityWalk dan Universal Studios. Selain itu juga bisa berkunjung ke Los Angeles dan San Francisco, dua kota yang terkenal di California. Kalau San Francisco adalah kota yang paling diinginkan untuk dikunjungi dan alhamdulillah kesampaian. I couldn't leave my heart in San Francisco.

Nggak berencana dari awal untuk ke San Francisco sebenernya, bisa ke San Francisco karena diajak nganterin temen yang keterima di Berkeley School of Law. Jadi tujuannya bukan langsung ke San Francisco tapi ke Berkeley, dan karena Berkeley lokasinya deket dengan San Francisco makanya bisa sekalian dikunjungi. Tapi memanglah San Francisco itu kotanya sungguh cantik.

Kelak, meninggalkan Amerikanya melalui San Francisco, bukan melalui New York ataupun Los Angeles. Mungkin karena dulu setiap kali pulang ke Indonesia untuk liburan kalau beli tiketnya selalu dari San Francisco, di Borneo International. Tau Borneo International dari yang udah duluan di Amerika. Jaman segitu di Amerika udah canggih, tinggal di Troy tapi beli tiket di San Francisco.

Jadi, selama tiga bulan lebih ikutan LCP banyak banget hal yang bisa dilakukan. Nggak hanya belajar demi meningkatkan nilai TOEFL dan GMAT dan lainnya, tapi juga bisa dapet ID Card dan Driver License dan juga piknik. Makan KFC pertama kalinya di Amerika juga saat di Covina, kebetulan ada gerai KFC yang nggak begitu jauh dari rumah host family. Nonton lebih dari satu film di bioskop dengan hanya membeli satu tiket juga pada saat di Covina dan Glendora.

Saat-saat yang menegangkan di LCP adalah pada saat menerima surat dari RPI karena kemungkinannya kan diterima atau ditolak. Lega banget rasanya setelah tau ternyata diterima. Sebelumnya udah ada universitas yang menerima juga, tapinya yang ditunggu-tunggu adalah yang dari RPI.

Meskipun seneng tapi berasa agak sedih setelah tau bahwa diterima di RPI. Karena udah banyak hal yang dilakukan di Covina dan Glendora. Berpisah dengan temen-temen LCP dari Indonesia yang akan pindah juga untuk melanjutkan studinya ke berbagai kota di Amerika sesuai dengan pilihan masing-masing, Berkeley, Irvine, Twin Cities, Oklahoma City, Denver, Washington, Buffalo, Atlanta, Rochester, St. Louis, dan kota-kota lainnya. Menyaksikan LCP yang perlahan-lahan menjadi sepi karena banyak yang udah pindah ke kota tujuannya sementara kelas baru belum dimulai. But life goes on.

Monday, October 12, 2020

The Beginning

Untuk edisi tulisan kali ini masih akan membahas soal pada saat awal-awal di Amerika, di Covina dan Glendora to be exact.

Hari pertama di LCP dimulai dengan melakukan pendaftaran ulang untuk verifikasi serta menyelesaikan urusan administrasi. Jadi LCP ini letaknya di lantai dua suatu gedung yang ada di Citrus College. Untuk kelas LCP juga menggunakan kelas-kelas di Citrus College. Pada saat pendaftaran diberikan informasi secara lebih detil untuk fasilitas-fasilitas apa yang disediakan oleh LCP. Tapi yang terutama adalah mendapatkan bantuan supaya bisa diterima di universitas di Amerika. Maksimal bantuan untuk lima universitas, kalau lebih akan ada biaya tambahan. Biaya selama di LCP yaitu 3 ribu dolar, udah nggak ada biaya-biaya tambahan lainnya. By the way, di Citrus College ada mahasiswa Indonesia juga.

Untuk bantuan pendaftaran, hingga diterima tentunya, di universitas di Amerika ini ada advisor yang mendampingi. Pemilihan universitas juga dibicarakan terlebih dulu dengan advisor, kira-kira peluang untuk bisa diterima gimana, supaya nggak sia-sia daftar ke universitasnya. Yang jadi advisor namanya Debbie. Kelak, nggak lama setelah pindah ke Troy Debbie ini ngabarin kalau resign dari LCP karena mau sekolah master juga.

Saat menunggu urusan administrasi selesai sempat mikir gini ternyata rasanya sendirian di negeri orang yang jaraknya beribu-ribu kilometer, on the other side of the world. Eh, nggak lama setelah itu dari suatu ruangan keluarlah segerombolan orang dan berbahasa Indonesia. Nggak jadi deh merasa sendiriannya. Ternyata mereka itu calon mahasiswa untuk S2 yang dikirim oleh Pertamina, ada sekitar 30 orang yang dikirim Pertamina ke LCP Glendora. Ada juga yang dikirim ke LCP di tempat lain karena ada temen seangkatan sejurusan (dan pernah sekosan bareng di Sulanjana) juga yang dikirim Pertamina ke LCP tapi berbeda lokasi, di Redlands. LCP ini ada di beberapa lokasi, nggak cuma di Glendora. Kalau Redlands dengan Glendora jaraknya nggak jauh.

Untuk urusan placement, LCP ini memang boleh dibilang hebat. Orang-orang Indonesia yang tadinya luntang-lantung di Amerika karena nggak dapet sekolah atau universitas, setelah ikutan program LCP jadi dapet universitas. As for myself, daftar ke 5 universitas dan alhamdulillahnya diterima di semuanya.

Setelah urusan pendaftaran dan administrasi beres siangnya langsung dianter oleh pihak LCP, dengan beberapa orang lain, untuk bikin Social Security Number (SSN) dan rekening bank. SSN ini diperlukan karena hampir untuk setiap urusan di Amerika yang ditanyakan pastilah SSN, bukan ID Card. Kalau ID Card biasanya diperlukan untuk hal-hal yang ada hubungannya dengan usia 17+. Di Amerika, cukup dengan modal paspor dan visa pelajar (F-1) udah bisa bikin SSN dan rekening bank. Nantinya juga bikin Driver License dan ID Card tetapi bareng temen-temen yang di LCP, bukan dengan LCP.

Meskipun ada kartunya tapi untuk SSN belum pernah ada permintaan buat menunjukkan kartu karena yang diperlukan hanya nomornya yang berformat 9 digit, xxx-xx-xxxx. Beda halnya dengan ID Card atau DL yang kartunya harus ditunjukkan. Di Amerika kalau udah mempunyai DL maka nggak harus punya ID Card karena bikinnya di tempat yang sama, Department of Motor Vehicles (DMV), tapi kalau mau punya dua-duanya boleh. Waktu itu bikin dua-duanya karena punya rencana menukarkan DL California dengan DL New York, jadi masih punya ID Card California. Buat gegayaan biar keren dan beken, di New York tapi yang ditunjukin ID Card California, hehe...

Di Amerika, waktu itu, mudah banget untuk bikin identitas resmi biar kata bukan warga negara sana, prosedurnya juga nggak berbelit. In my case, hanya dalam waktu tiga hari di Amerika udah daftar buat SSN dan bikin rekening bank, dan pada saat di Covina dan Glendora juga udah bikin DL dan ID Card. Bikin DL cuma dengan ikut sekali ujian praktek langsung lulus, padahal nyetir pertama kalinya di Amerika pada saat ujian praktek bikin DL itu. Kalau untuk ujian teorinya dapet contekan dari temen-temen di LCP. Emang orang Indonesia ini harus diakui jago kalau untuk urusan beginian, kok ya bisa-bisanya dapet contekan.

Featured Post