Pertama-tama, vaksinasi kedua udah beres, sembilan minggu setelah vaksinasi pertama selesai dilakukan. Seperti yang pertama, nggak ada keluhan apa-apa setelah selesai divaksin. Dan sebagai bahasan untuk tulisan kali ini adalah, ngapain sih selama enam bulan di Solo? Kenapa harus menetap buat sementara di Solo?
Jawabannya adalah karena harus mengimplementasikan suatu software ERP, ERP-nya bukan Electronic Road Pricing tetapi Enterprise Resource Planning. Bisa ikutan karena ada yang menginformasikan kalau untuk proyek itu membutuhkan konsultan dan ditawari untuk gabung.
Setelah menyatakan berminat, pada hari yang telah ditentukan pergi ke Jakarta buat wawancara (saat itu menetap di Bandung) yang bertempat di bank Upindo dan kemudian diterima untuk ikut sebagai anggota tim. Sebagai catatan, sedari awal hingga tiba di Solo nantinya, nggak ngerti sama sekali bahwa pekerjaan utamanya adalah implementasi perangkat lunak ERP karena informasi awalnya adalah untuk soal perencanaan (dan juga implementasinya tentu) tata letak. Memang ada untuk soal tata letak ini tapi sekunder.
Singkat cerita, ada empat orang yang akan menetap di Solo selama enam bulan. Saat itu sebagai orang ketiga, pimpronya lulusan Farmasi ITB, masih relatable dengan proyeknya yang di pabrik permen. Merek permennya cukup terkenal saat itu, sekarang juga masih ada sih di pasaran.
Di Solo baru tau ternyata yang harus dikerjakan adalah implementasi suatu ERP software dalam hal ini untuk process manufacturing. Jadi pabrik itu udah punya software-nya beberapa lama tapi tim Teknologi Informasi internalnya nggak bisa mengimplentasikan sendiri. Memang biasanya untuk software kayak gitu belinya termasuk implementasinya juga, dan padahal sebelumnya pun udah mengimplementasikan satu modul accounting software, General Ledger, dengan konsultan yang memberi saran untuk membeli process manufacturing software itu.
Persoalannya adalah, keempat orang ini nggak ada yang pernah tau soal implementasi perangkat lunaknya meskipun punya latar belakang yang mendukung. Orang kedua mengerti soal basis data dan orang keempat lulusan Teknik Industri yang baru lulus. Dan sebagai orang ketiga dapet jatah buat mempelajari software-nya selama satu bulan, yup satu bulan, untuk kemudian melakukan transfer knowledge. Pusing pala Barbie dah.
Pertanyaan yang muncul saat menghadapi layar komputer, harus mulai dari mana nih? Maksudnya, sebelum memulai kan harus tau dulu ujung pangkalnya karena kalau nggak tau data apa yang harus diisi di awal ya software-nya nggak akan bisa digunakan. Dari situ jadi tau bahwa ada dua jenis data, statis dan dinamis, dan yang harus diisi lebih dulu adalah data statis. I'm not going into detail karena pasti bahasannya bakalan panjang banget.
Setelah beberapa saat proyek berjalan, terjadi insiden data hilang yang lumayan bikin heboh. Sebenernya bukan datanya yang hilang tapi file-nya yang terhapus karena folder aplikasi software-nya dikosongkan untuk di-install ulang. Udah gitu mereka nggak bikin backup-nya, jadi ya wassalam. Gara-gara kasus itu orang kedua dari tim terpaksa untuk dipulangkan. Hingga akhir proyek (yang jadinya nggak selesai) tersisa tiga orang, orang ketiga jadi kedua dan yang keempat jadi yang ketiga.
Proyek ini beneran bikin senewen, mana sempat kena herpes di daerah sekitar perut, untungnya cepet diobati jadi nggak parah. Entah ketularan dari mana. Pernah juga kena radang tenggorokan parah, dan terakhir yaitu gejala demam tifoid sehingga harus rehat selama dua minggu.
Sebab di awal belum ngerti alur software-nya, jadi sering konsultasi dengan principal software-nya untuk wilayah Asia Pasifik di Auckland melalui surel pada saat setiap pulang ke Bandung (thanks to Melsa). Kalau software-nya buatan Amerika, tergolong bagus sebenernya, kalau dikasih nilai A- lah. Harga nggak begitu mahal (sekitar 1,500an dolar setiap modul) dan nggak ribet dari segi perawatan. Oleh karena sering berkirim surel dengan principal yang di Auckland ini, di kelak kemudian hari direkomendasikan untuk menjadi konsultan software itu di suatu pabrik di Cikarang.
Manufacturing software yang dibeli oleh pabrik permen itu udah lengkap tapi sulit untuk diimplementasikan karena nggak diintegrasikan dengan accounting software yang udah dibeli duluan. Masih perlu dua modul lagi (Accounts Payable dan Accounts Receivable) supaya bisa diintegrasikan dengan manufacturing software-nya.
Di Indonesia udah lumayan banyak juga yang menggunakan software-nya. Pabrik yang bikin Oreo juga dulunya menggunakan software itu sebelum digantikan oleh software yang lain. Kok tau? Sebab pernah dua tahun di sana sebagai konsultan pengembangan dan perawatan sistem. Memanglah betul ujaran peribahasa bahwasanya kegagalan itu adalah kesuksesan yang tertunda ;-)