Monday, December 27, 2021

Do You Remember?

Tulisan terakhir di tahun ini yang juga di Senin terakhir tahun ini, 2021. Nggak ngebahas soal gimana-gimana selama tahun 2021 hanya masih mau nerusin bahasan saat masih kuliah di ITB. Yang pasti sih tahun ini not bad at all.

Hal yang juga harus dilalui selagi kuliah di ITB adalah kerja praktek atau biasa disebut dengan KP. KP ini wajib dilakukan sebanyak dua kali, tapi dulu melakukan KP sebanyak tiga kali. Yang ketiga nggak harus sih, itu karena diajakin temen dan karena pengen tau juga, tempatnya di IPTN, masih di Bandung juga, jadi nggak begitu repot.

Kalau untuk KP yang pertama dan kedua tempatnya yaitu di Surabaya, di Philips Ralin Electronics dan di Karpindo Bahagia, durasinya masing-masing selama satu bulan. Milih di Surabaya supaya bisa sekalian mudik ke Malang karena waktunya saat libur semester. Juga sekalian kalau lagi libur Sabtu Minggu bisa ke Malang.

Nggak kesulitan mendapatkan tempat sementara di Surabaya saat KP pertama karena dibolehkan untuk menempati rumah kontrakan temen-temen saat masih di SMA yang kuliah di ITS. Karena libur semester jadi kontrakannya kosong sebab mereka semuanya pada pulang ke Malang. Makasih banget karena udah mengijinkan kontrakannya buat ditempati. Di kontrakan nggak sendirian karena ada dua temen kuliah juga yang ikutan numpang sementara karena KP di tempat yang sama.

Kalau untuk yang KP kedua, selama masa KP numpang sementara di rumah bulik atau tante yang adiknya bapak karena ternyata tempat KP di Waru nggak jauh dari rumah beliau, suatu hal yang tidak disangka-sangka. Kalau dari arah Malang lokasinya berada di sebelah kiri jalan setelah melewati bunderan Waru. Tapi pabrik di tempat itu sepertinya udah lama tutup. Seperti di KP yang pertama, nggak sendirian juga di rumah tante. Ada juga yang ikutan, seorang aja tapinya nggak dua orang. Sungguh berterima kasih karena telah bersedia untuk direpoti.

Jadi, nggak kuliah di Surabaya tapi KP di Surabaya. Dan seperti yang pernah dituliskan sebelumnya, males ke Surabaya karena selain sumuk juga nyamuknya banyak amat. Dan supaya selama KP bisa survive dari gangguan para nyamuk bermodalkan obat nyamuk oles, obat nyamuk semprot, dan obat nyamuk elektrik, hehe...

Jumpa lagi di tulisan berikutnya tahun depan. Happy New Year and may you all have a great year ahead!

Sunday, December 12, 2021

Get Closer

Hal yang diperlukan setiap orang pada saat akan pergi ke luar negeri, untuk hal apapun, adalah paspor. Pada saat akan melanjutkan sekolah ke Amerika dulu juga harus punya paspor supaya bisa berangkat. Bukan suatu hal yang sulit untuk mendapatkan paspor di Bandung karena juga diurusin oleh Triad sebagai bagian dari pendaftaran ke LCP, seperti tiket pesawat. Jadi untuk urusan paspor tau beres lah istilahnya.

Yang lumayan merepotkan adalah, sebelum bisa mendapatkan paspor kan harus punya KTP dulu. Dan di Indonesia nggak seperti di Amerika yang untuk mendapatkan kartu identitas cukup lapor ke DMV dan kartu akan diterbitkan pada hari itu juga. Di Amerika yang lebih penting itu adalah SSN, kalau kartu identitas palingan hanya untuk hal-hal yang berhubungan dengan 17+.

Sejak dari awal kuliah di ITB nggak punya KTP Bandung, tapinya aman-aman aja oleh sebab sebelumnya nggak pernah mengalami ada suatu urusan yang harus melampirkan KTP Bandung. Trus, gimana caranya supaya bisa mempunyai KTP Bandung? Ya tentu harus numpang alamat kepada yang berdomisili di Bandung. Dan beruntung ada yang berbaik hati dengan bersedia mengijinkan alamat rumahnya digunakan sebagai alamat KTP. Bukan di Sulanjana ataupun di Tengku Angkasa, akan tetapi di Imam Bonjol.

Kok bisa gitu? Jadi, semenjak pindah ke Tengku Angkasa lumayan sering berkunjung ke rumah temen seangkatan sejurusan yang rumahnya di Imam Bonjol. Sebelumnya mon maap jikalau bahasannya lokal banget, Tengku Angkasa dengan Imam Bonjol jalannya deketan. Dari tempat kos ke rumah temen cuma jalan kaki bentar nyebrang taman yang dideket Teuku Umar disebabkan lokasi rumah temen lebih deket ke Teuku Umar daripada Hasanudin. Kalau tempat kos lebih deket ke Hasanudin, nggak begitu jauh juga dari toko You, masih lebih jauh ke gado-gado Tengku Angkasa. By the way, sudahkan berkencan di Tizi? ;-)

Karena lumayan sering berkunjung itu makanya menjadi lebih deket juga secara personal sehingga temen membolehkan alamat rumahnya untuk digunakan sebagai alamat KTP. Termasuk juga ikutan berepot-repot buat pengurusan pembuatan KTPnya hingga tuntas. Sungguhlah sangat berterima kasih karena jadi bisa bikin paspor di Bandung.

Ada pengalaman yang agak lucu dengan temen di Imam Bonjol itu gara-gara diajak buat ikutan jadi panitia saat kakaknya akan menikah. Waktu itu, sore-sore, lagi rapat perdana di rumah calon istri kakaknya temen dan tetiba ada seorang cewek, yang tanpa babibu langsung masuk buat ikutan rapat. Suasana rapat menjadi hening karena peserta rapat jadi diem dan bengong ngeliatin. Ngeliatinnya bukan karena heran sih, tapi lebih karena yang lewat itu orangnya cantik, hehe... Setelahnya barulah tau ternyata yang datengnya telat adalah mahasiswi FH Unpad yang jadi pemenang dari wajah Femina, wah... pantes aja.

Monday, November 29, 2021

'We Belong To You And Me'

Masih pada soal sekolah atau kuliah, di RPI memang banyak tersedia lab komputer tapi tetep perlu punya komputer sendiri sih, sebabnya males juga kalau di saat musim dingin harus sering-sering ke kampus, kecuali kalau lagi ada tugas kelompok. Hawanya dingin banget! Mana bajunya harus yang berlapis gitu supaya nggak kedinginan, ribetlah untuk keluar apartemen di saat musim dingin.

Untuk komputer saat di Troy OS-nya Windows sebabnya biar bisa bawa software bajakan dari Indonesia, hehe... Pada jaman-jaman itu software bajakan adalah hal yang lumrah di Indonesia, selain dari harganya yang udahlah murah banget kehandalannya nggak kalah dibanding dengan yang asli. Di RPI juga dijual software khusus untuk mahasiswa dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan versi umum yang dijual di pasaran meskipun spesifikasinya nggak ada perbedaan, cuma tetep aja tentunya masih lebih murah yang versi bajakan.

Di Troy beli komputernya secara mail order. Waktu itu roommate yang ngajakin buat beli di awal-awal baru pindahan, jadi belinya barengan dan jenis komputernya sama. Beliau ini di kelak kemudian hari pernah menjadi presdir bank MNC.

Makanya selalu menyempatkan diri untuk pulang ke Indonesia setiap liburan supaya bisa bawa barang-barang dari Indonesia ke Amerika dan juga bawa barang-barang yang udah nggak bakalan digunakan lagi di Amerika ke Indonesia. Kalau yang dibawa dari Indonesia banyaknya makanan seperti mie instan dan jenis makanan-makanan kering yang awet. Mie instan sungguhlah nikmat dimakan pagi-pagi sebelum kuliah di saat musim dingin. Di musim dingin buat kuliah paling pagi tetep aja mulainya jam tujuh.

Gimana dengan saat kuliah di ITB? Sewaktu kuliah di ITB baru punya komputer setelah di tingkat sarjana pada saat kos di Tengku Angkasa. Sebelumnya kalau perlu komputer numpang di komputer mantan temen kos di Sulanjana, ITB juga, seangkatan juga, tapi jurusan Teknik Kimia, yang kemudian nggak ngekos lagi oleh karena ikut ortunya yang pindah ke Bandung. Makasih banget!

Punya komputer di tingkat sarjana merupakan suatu keharusan karena untuk bikin TA alat utamanya adalah komputer. Makanya mau nggak mau, suka nggak suka, ya harus beli komputer. TAnya waktu itu bikin program simulasi untuk metode elemen hingga. Sangat berterima kasih kepada pak Satryo Soemantri Brodjonegoro yang telah bersedia menjadi dosen pembimbing TA yang mana merupakan syarat untuk memperoleh gelar insinyur.

Sangat berterima kasih juga kepada pak Satryo karena telah bersedia juga memberikan rekomendasi untuk melanjutkan sekolah di Amerika. Surat rekomendasi juga diperlukan sebagai satu dari berbagai macam syarat lainnya seperti misalnya TOEFL dan GMAT buat sekolah bisnis atau manajemen. Apalagi indeks prestasi pada saat lulus dari ITB nggak bagus-bagus amat, hanya 2.4 sekian, banyaknya dapet nilai C. Kalau di RPI sih indeks prestasinya tiga lebih sebabnya kalau dibawah tiga nggak bisa dinyatakan lulus, nilai C cuma dapet sekali.

 

'You're a taste of the ever-changing seasons
Tellin' me there are some things that don't end
We have left all the darkness far behind us
All those hopes that we had along the way
Have made it to this day
Like an old love song gone for much too long
You hear it once again and it carries you away'

Sunday, November 14, 2021

Beyond Expectation

Jadi, semasa sekolah di Amerika sungguh merupakan masa-masa yang menyenangkan. Nggak berekspektasi bahwa akan menyenangkan tetapi ternyata malahan boleh dibilang that was the best two years of my life. Niatnya memang untuk bersekolah, cuma yang diperoleh bukan sekedar ilmu, banyak hal lain juga. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

Milih ke RPI juga karena pengen merasakan menetap di tempat yang bersalju pada saat musim dingin. Merasa sayang jika udah jauh-jauh ke Amerika tapi nggak di tempat yang bersalju. Selama di Amerika dapet dua kali musim bersalju, lumayan juga. Dulu dibela-belain buat nunggu saljunya muncul setelah ada pemberitahuan dari ramalan cuaca. Tapi memang salju di awal-awal musim dingin itu bener-bener mempesona.

Pernah juga ngeliat daratan yang tertutup salju, dalam hal ini NYC, dari pesawat saat ke Amerika lagi setelah pulang untuk berlibur sejenak ke Indonesia, merasa takjub. Sempat dua kali pulang ke Indonesia saat libur musim dingin.

Hal lain, bisa kenal dengan orang dari berbagai tempat. Di RPI selain yang dari Amerika, international student jumlahnya juga lumayan. Tapi kalau untuk international student, di RPI yang paling banyak berasal dari Indonesia, awalnya ada lima orang cuma kemudian yang satu pindah ke San Francisco karena pengen pindah ke kota yang lebih besar dan rame. Sebelumnya udah kuliah di Amerika juga untuk S1nya, di Syracuse.

Gimana rasanya sekolah di RPI? Meskipun bukanlah tergolong sekolah yang paling top di Amerika tapi fasilitasnya oke punya. Sebagai contoh RPI punya lab komputer yang bisa dipergunakan oleh setiap mahasiswa di berbagai tempat, suatu hal yang tidak tersedia pada saat kuliah di ITB. Banyaknya Unix based, ruangan yang khusus untuk Macintosh juga ada. Windows ada tapi jarang, selama di RPI cuma ke lab Unix dengan Macintosh.

Ilmu yang diperoleh dari RPI pulalah yang ternyata kemudian malahan banyak digunakan di pekerjaan, padahal niatnya cuma untuk menambah wawasan, demi untuk melengkapi ilmu yang didapat saat kuliah di ITB. Alhamdulillah sih karena itu artinya nggak sia-sia sekolah jauh-jauh ke Amerika, kan? ;-)

Friday, October 29, 2021

"Through The Test Of Time"

Setelah dari Solo sebenernya nggak pernah berniat, berminat, ataupun berencana lanjut berkecimpung di bidang consulting buat software yang udah gagal diimplementasikan itu. Tetapi kenyataannya nggak jadi gitu setelah direkomendasikan sebagai konsultan oleh principal software di Auckland ke suatu pabrik di Cikarang, perusahaan multinasional, karena mereka merasa nggak puas dengan kinerja dari konsultan yang telah dikontrak sebelumnya.

Pabrik itu punya kantor cabang di Bandung dan Surabaya, dan diminta untuk bertemu dengan FA manager-nya di kantor cabangnya pada saat berkunjung ke Bandung. Secara prinsip disetujui dan kemudian diminta untuk berkunjung ke pabriknya yang di Cikarang guna bertemu dengan presdirnya. Disetujui juga oleh presdirnya dan selanjutnya bikin kontrak kerjanya selama setahun.

Nggak sia-sia juga ternyata hasil ngoprek selama enam bulan di Solo karena jadi ngerti gimana dengan alur software-nya. Makanya untuk pabrik itu nggak pernah mengalami kesulitan yang berarti dalam hal pengembangan ataupun perawatannya. Yang agak bikin repot palingan saat kemudian harus meng-upgrade existing report karena nggak punya programmer. Pada perjalanannya, pabrik di Cikarang ini adalah yang terlama menjadi klien, mengalami menjadi konsultan untuk dua presdir dan tiga FA manager.

Ada pengalaman lucu dengan FA manager-nya pada saat akan ke kantor cabangnya di Surabaya selama dua hari. Karena pesawatnya pagi jam enam maka janjianlah buat ketemuan di Soekarno-Hatta. FA manager-nya datengnya udah menjelang boarding gitu, jadilah yang terakhir buat naik ke pesawat.

Nah, karena masuk pesawatnya nggak lewat aerobridge alias harus naik tangga, saking terburu-burunya pak FA manager keliru naik tangga ke pesawat dong, harusnya tangga pesawat yang kedua ini di tangga yang pertama udah main naik aja. Kebetulan waktu itu ada di belakang pak FA manager jadi langsung bilang kalau bukan itu pesawatnya tapi yang satunya lagi. Setelah kejadian itu jadinya pengen ketawa tapi gimana, akhirnya ketawa dibatin aja. Setiap kali keinget peristiwa itu bawaannya jadi pengen ketawa.

Udah gitu di Surabaya diajakin wiskul mulu sama kacabnya, memang sih makanan di Surabaya enak-enak tapi bikin ketar-ketir karena waktu di kantornya kan jadi sebentar, kuatirnya kerjaannya malah nggak selesai. Tapi alhamdulillah semua berjalan lancar sesuai rencana. Di Surabaya nginepnya di Elmi yang merupakan hotel favorit meskipun cuma bintang tiga.

Pengalaman lain yang masih berhubungan dengan Surabaya, pernah pagi-pagi berangkat ke Surabaya, kali ini sendirian, dan pulang sorenya ke Jakarta. Ke Surabaya hanya buat diomel-omelin dirut suatu BUMN gegara pak dirut itu masih belum merasa puas dengan hasil kerja tim yang ke Surabaya. Di sana cuma nggah-nggih aja, atau dengan bahasa populer, gimana teteh aja lah. BUMN ini juga menggunakan software yang sama untuk akuntansinya. Nggak ikutan terlibat akan tetapi ikut bertanggung jawab, jadinya ya gitu deh. Bukanlah merupakan suatu persoalan sih, yang terutama kan setelah itu kontraknya diperpanjang, hehe...

Berkah dari diomel-omelin pak dirut adalah waktu pulang ke Jakarta dapet penerbangan yang lebih awal. Jadi pada saat check in ternyata untuk pesawat yang lebih awal masih open dan masih tersedia kursi kosong, kemudian ditawari untuk pindah ke pesawat yang lebih awal. Langsung setuju dong. Ohiya, maskapainya Lion Air.


'So we'll take it one day at a time
And leave all our worries behind
No matter which road that we choose
As long as we got each other
No way we're gonna lose
We can make it through love
Through the test of time' 

Wednesday, October 20, 2021

After A While

Pertama-tama, vaksinasi kedua udah beres, sembilan minggu setelah vaksinasi pertama selesai dilakukan. Seperti yang pertama, nggak ada keluhan apa-apa setelah selesai divaksin. Dan sebagai bahasan untuk tulisan kali ini adalah, ngapain sih selama enam bulan di Solo? Kenapa harus menetap buat sementara di Solo?

Jawabannya adalah karena harus mengimplementasikan suatu software ERP, ERP-nya bukan Electronic Road Pricing tetapi Enterprise Resource Planning. Bisa ikutan karena ada yang menginformasikan kalau untuk proyek itu membutuhkan konsultan dan ditawari untuk gabung.

Setelah menyatakan berminat, pada hari yang telah ditentukan pergi ke Jakarta buat wawancara (saat itu menetap di Bandung) yang bertempat di bank Upindo dan kemudian diterima untuk ikut sebagai anggota tim. Sebagai catatan, sedari awal hingga tiba di Solo nantinya, nggak ngerti sama sekali bahwa pekerjaan utamanya adalah implementasi perangkat lunak ERP karena informasi awalnya adalah untuk soal perencanaan (dan juga implementasinya tentu) tata letak. Memang ada untuk soal tata letak ini tapi sekunder.

Singkat cerita, ada empat orang yang akan menetap di Solo selama enam bulan. Saat itu sebagai orang ketiga, pimpronya lulusan Farmasi ITB, masih relatable dengan proyeknya yang di pabrik permen. Merek permennya cukup terkenal saat itu, sekarang juga masih ada sih di pasaran.

Di Solo baru tau ternyata yang harus dikerjakan adalah implementasi suatu ERP software dalam hal ini untuk process manufacturing. Jadi pabrik itu udah punya software-nya beberapa lama tapi tim Teknologi Informasi internalnya nggak bisa mengimplentasikan sendiri. Memang biasanya untuk software kayak gitu belinya termasuk implementasinya juga, dan padahal sebelumnya pun udah mengimplementasikan satu modul accounting software, General Ledger, dengan konsultan yang memberi saran untuk membeli process manufacturing software itu.

Persoalannya adalah, keempat orang ini nggak ada yang pernah tau soal implementasi perangkat lunaknya meskipun punya latar belakang yang mendukung. Orang kedua mengerti soal basis data dan orang keempat lulusan Teknik Industri yang baru lulus. Dan sebagai orang ketiga dapet jatah buat mempelajari software-nya selama satu bulan, yup satu bulan, untuk kemudian melakukan transfer knowledge. Pusing pala Barbie dah.

Pertanyaan yang muncul saat menghadapi layar komputer, harus mulai dari mana nih? Maksudnya, sebelum memulai kan harus tau dulu ujung pangkalnya karena kalau nggak tau data apa yang harus diisi di awal ya software-nya nggak akan bisa digunakan. Dari situ jadi tau bahwa ada dua jenis data, statis dan dinamis, dan yang harus diisi lebih dulu adalah data statis. I'm not going into detail karena pasti bahasannya bakalan panjang banget.

Setelah beberapa saat proyek berjalan, terjadi insiden data hilang yang lumayan bikin heboh. Sebenernya bukan datanya yang hilang tapi file-nya yang terhapus karena folder aplikasi software-nya dikosongkan untuk di-install ulang. Udah gitu mereka nggak bikin backup-nya, jadi ya wassalam. Gara-gara kasus itu orang kedua dari tim terpaksa untuk dipulangkan. Hingga akhir proyek (yang jadinya nggak selesai) tersisa tiga orang, orang ketiga jadi kedua dan yang keempat jadi yang ketiga.

Proyek ini beneran bikin senewen, mana sempat kena herpes di daerah sekitar perut, untungnya cepet diobati jadi nggak parah. Entah ketularan dari mana. Pernah juga kena radang tenggorokan parah, dan terakhir yaitu gejala demam tifoid sehingga harus rehat selama dua minggu.

Sebab di awal belum ngerti alur software-nya, jadi sering konsultasi dengan principal software-nya untuk wilayah Asia Pasifik di Auckland melalui surel pada saat setiap pulang ke Bandung (thanks to Melsa). Kalau software-nya buatan Amerika, tergolong bagus sebenernya, kalau dikasih nilai A- lah. Harga nggak begitu mahal (sekitar 1,500an dolar setiap modul) dan nggak ribet dari segi perawatan. Oleh karena sering berkirim surel dengan principal yang di Auckland ini, di kelak kemudian hari direkomendasikan untuk menjadi konsultan software itu di suatu pabrik di Cikarang.

Manufacturing software yang dibeli oleh pabrik permen itu udah lengkap tapi sulit untuk diimplementasikan karena nggak diintegrasikan dengan accounting software yang udah dibeli duluan. Masih perlu dua modul lagi (Accounts Payable dan Accounts Receivable) supaya bisa diintegrasikan dengan manufacturing software-nya.

Di Indonesia udah lumayan banyak juga yang menggunakan software-nya. Pabrik yang bikin Oreo juga dulunya menggunakan software itu sebelum digantikan oleh software yang lain. Kok tau? Sebab pernah dua tahun di sana sebagai konsultan pengembangan dan perawatan sistem. Memanglah betul ujaran peribahasa bahwasanya kegagalan itu adalah kesuksesan yang tertunda ;-)

Monday, August 30, 2021

'Wake Me Up Before You Go-Go'

Untuk kali ini, mau ngebahas hal yang pernah dialami pada saat masih kuliah di RPI dulu. Belum pernah dibahas di blog yang sebelumnya juga, kisahnya memang baru tapi dari pengalaman lama. Pengalamannya bukan hal yang mengenakkan sebetulnya.

Jadi, saat itu lagi intern di First Albany, di Albany. Albany adalah ibukota dari New York State, jangan rancu dengan New York City. Daerahnya biasa dikenal sebagai Capital District yang terdiri dari Albany, Troy, dan Schenectady. Makanya dulu Permias di Troy digabung dengan Albany dan Schenectady. Ada satu kota, Saratoga Springs, tapi nggak termasuk sebagai Capital District. Demikian sebagai intro.

Pada suatu siang, yang cerah tentunya, harus ke Albany bareng rekan sekelompok yang juga intern di First Albany, namanya Abdullah Akgun dari Turki, biasa dipanggil Abdullah. Abdullah ini orangnya pinter banget, yang jadi persoalan adalah, orangnya tuh juga cuek banget.

Siang itu ke Albany naik mobilnya Abdullah, sempat liat penunjuk bensin dan ternyata udah digaris E. Sempat bertanya, "do you think we have enough gas?". Dengan gaya santai dia bilang, "you don't have to worry." Karena udah bilang gitu yo wis, meskipun nggak yakin bisa mencapai Albany. Beneran ternyata, di freeway mobilnya harus minggir gara-gara keabisan bensin.

Untungnya, begitu mobilnya minggir nggak berapa lama kemudian ada mobil lain yang nyamperin, nanya ada persoalan apa. Setelah dibilang mobilnya run out of gas langsung orang itu ngajak Abdullah buat beli bensin. Amazing ya. Sementara Abdullah beli bensin, nunggu di mobil. Nggak lama setelah itu ada lagi mobil lain yang berenti buat nanyain ada persoalan apa dan udah ada yang nolongin belum. Setelah dibilang kalau udah dapet pertolongan kemudian mobilnya pergi.

Belum selesai, ada lagi mobil yang berenti dan setelah tau persoalannya nggak langsung pergi tapi nungguin dari belakang. I watch your back gitu. Mobilnya baru pergi setelah ada mobil patroli yang ngegantiin buat jaga di belakang. Keren kan. Mobil patrolinya baru pergi juga setelah Abdullah dateng dengan sejerigen bensin. Sungguh salut dengan yang mau nganterin Abdullah sebabnya nggak mudah karena harus muter dulu. Butuh waktu hampir satu jam.

Nggak disangka, orang Amerika yang saat itu stereotipenya individualis ternyata malah sungguh perhatian. Kalau istilah sekarangnya, peduli lindungi. That's what peduli lindungi is all about.

Ngomong-ngomong soal peduli lindungi, udah mencoba menggunakan pedulilindungi yang aplikasi untuk ke mal, malnya Kota Kasablanka. Nggak sulit, hanya check in pada saat masuk dan jangan lupa untuk check out pada saat keluar ;-)

Monday, August 16, 2021

The First

Oke, jadi sebagai bahasan untuk tulisan kali ini, tentunya masih dengan secara singkat, soal pengalaman divaksin viruskorona untuk dosis satu, yang pertama, pada Kamis, 12 Agustus lalu. Sengaja supaya divaksin agak belakangan biar nggak ketemu kerumunan. Males banget kan mau jadi lebih sehat tapi ternyata malah ketularan. Dan memang pada saat vaksinasi lancar-lancar aja. Dapet nomor antrian 207 tapi nggak pake acara nunggu lama.

Untuk lokasi vaksinasinya milih di SMAN 31 Jakarta yang nggak begitu jauh dari rumah setelah mendaftar melalui aplikasi jaki. Aplikasi jaki ini memudahkan warga pemilik KTP Jakarta untuk mendaftar vaksinasi, pertama juga kedua. Prosedurnya nggak sulit, cuma ada dokumen yang harus dicetak setelah pendaftaran selesai sebagai pemeriksaan awal untuk dibawa ketempat vaksinasi.

Di tempat vaksinasi pertama-tama diperiksa gula darah dan kemudian tekanan darah, alhamdulillah semuanya nggak ada masalah, padahal bukan orang yang pantang gula, minum kopi ataupun teh hampir pasti ada gulanya meskipun nggak banyak. Setelah diperiksa baru kemudian disuntik vaksin, AstraZeneca. Jadi sekarang untuk mazhabnya ikut klan AstraZeneca.

Selesai vaksin kemudian menyerahkan dokumen ke bagian pendataan supaya terdaftar pada sistem dan bisa diterbitkan sertifikatnya, jadi janganlah main kabur aja setelah divaksin. Setelah selesai didata akan mendapatkan kartu vaksinasi sebagai bukti telah divaksinasi. Prosesnya dari awal hingga akhir sekitar 15 menit. Nggak lama kan?

Pada saat vaksinasi dapet bonus juga pesete enam bijik buat jaga-jaga seandainya ada efek ikutan setelah divaksin. Nggak ada efek ikutan apapun setelah divaksin, vaksinnya langsung ikrib. Cuma rasanya agak kemeng di bagian tangan tempat disuntik vaksin. Alhamdulillah setelah divaksin jadi mendapatkan tambahan kekebalan dari viruskorona. Satu dosis lagi maka akan mendapatkan kekebalan mumpuni.

Setelah selesai vaksinasi lalu memeriksa ke aplikasi pedulilindungi untuk mengetahui apakah sertifikat vaksinasinya udah ada atau belum. Punya sertifikat vaksinasi menjadi penting karena saat ini vaksinasi bukanlah hanya untuk kesehatan tapi juga menjadi syarat untuk bisa berkegiatan di tempat publik. Akan menjadi agak repot kalau belum divaksinasi.

Sertifikat vaksinasi keluar pada malam harinya, melakukan pemeriksaan juga melalui situs pedulilindungi.id selain melalui aplikasi. Untuk jaki, statusnya ter-update pada keesokan harinya. Jadi, ke bioskop lagi kita? ;-)

Wednesday, July 28, 2021

Help Yourself

Masih dalam edisi nggak nulis berpanjang-panjang. Jadi, sejak dimulai dari SD hingga universitas, sekolahnya dan kuliahnya selalu di negeri, dengan perkecualian pada saat di Palangkaraya yang SDnya di swasta. Kenapa di negeri? Karena biayanya murah, SPPnya murah, dan kalau beruntung bisa dapet sekolah negeri yang kualitasnya bagus dengan biaya murah.

Di Malang, SMPN 3 dan SMAN 3 reputasinya udahlah nggak usah lagi diragukan, sekolah negeri yang tergolong top meskipun dulu daftarnya bukan karena topnya. Seperti yang udah pernah dibahas sebelumnya ke SMPN 3 karena lokasinya yang deket dengan rumah bude dan daftar ke SMAN 3 karena banyak temen SMP yang daftar ke SMAN 3.

Ke ITB juga gitu, alasannya milih bukan karena yang paling top untuk kuliah di bidang teknologi pada waktu itu tapi lebih ke karena cuaca Bandung tempat dimana ITB berada yang mirip-mirip dengan Malang. Topnya adalah bonus. SPP di ITB saat kuliah di sana biayanya 60 ribu rupiah untuk satu semester. Murah bukan? Ibarat beli Mercedes S Class seharga Toyota Agya.

Memang sih untuk sekolah negeri pada waktu itu nggak sesuai dengan peribahasa Jawa ono rupo, ono rego. ITB kualitasnya nggak diragukan lagi tapi biaya kuliahnya murah, universitas swasta yang paling mahal aja kualitasnya belum bisa ngalahin ITB. Eh, tapi kalau ada yang nggak setuju boleh protes lho, hehe... ;-)

Itu tadi untuk bahasan sekolah yang di Indonesia ya, kalau untuk yang di Amerika, RPI adalah institusi swasta dan biaya kuliahnya juga nggak murah. Dulu, satu semesternya sekitar 6 ribuan dolar. Bedanya dengan di Indonesia, universitas-universitas top Amerika banyaknya malah yang swasta. MIT ataupun Stanford misalnya, itu swasta. Universitas yang tergabung di Ivy League semuanya swasta atau privat, nggak ada yang negeri.

 

'You're all that matters to me
The ground that you walk
The air that you breathe
Someday you'll discover
I don't want no other
Believe me
You're all that matters
All that matters to me'

Tuesday, July 6, 2021

Halfway Through

Yuhuuu, gimana nih kabarnya setelah separuh tahun 2021 terlampaui? Masih pada baek-baek aja kan, meskipun setiap hari disuguhi berita soal viruskorona yang ternyata malah semakin banyak variannya, lebih bikin kuatir daripada saat awal muncul. As for me, sejak dari awal munculnya viruskorona hingga sekarang ini kebiasaan yang dilakukan nggak banyak berubah sih, selalu waspada dimanapun berada, terutama kalau lagi di tempat dimana ada orang berkerumun.

Perjalanan untuk menuju akhir tahun 2021 masih panjang, jadi energy saving menjadi hal yang penting, nggak menghabiskan energi untuk hal-hal yang nggak perlu. Apalagi dengan banyaknya orang yang sakit juga bikin hawanya jadi nggak enak karena banyak energi negatif yang keluar. Sakit ringan yang harusnya bisa cepet sembuh jadi butuh waktu lebih lama untuk sembuh.

Dan karena udah memasuki paruh kedua 2021, mau ngebahas sedikit soal IHSG yang sekarang masih berkutat di level enam ribuan setelah di awal tahun bisa mencapai level 6,500an. Apakah masih mungkin untuk mencapai level 7,500an? Tentu masih lah, bukan 'harap yang tak ada', setengah tahun bukan waktu yang sebentar. Wong viruskorona aja bisa melesat mosok IHSG nggak bisa, pasti bisa. Amin!

Demikian untuk tulisan kali ini, singkat demi menghemat energi ;-)

Sunday, May 23, 2021

The Second Term

Jadi, selama kuliah di ITB pernah ngekos di dua tempat, pertama yang di Sulanjana dan kedua di Tengku Angkasa. Di Sulanjana ada enam kamar dan di Tengku Angkasa ada lima kamar. Awal-awal di Sulanjana dapet kamar yang paling depan tapi nggak lama dan kemudian pindah ke kamar yang paling belakang (tempat kosnya memanjang). Kalau di Tengku Angkasa kamar kosnya terletak di lantai dua, dua kamar di sisi kanan dan tiga kamar di sisi kiri. Awalnya dapet kamar di yang kanan belakang dan kemudian pindah ke kamar di kiri ujung. Soal pengalaman pindah kamarnya mirip-miriplah.

Kos di Tengku Angkasa hingga sekitar awal Mei 1993, sebelum lanjut kuliah ke Amerika. Seperti pada saat pertama kali pergi ke Bandung, meninggalkan Bandung pada saat itu juga dengan menggunakan 4848 ke Jakarta, cuma nggak ditemenin bapak lagi tapinya sendirian. Setelah lulus kuliah Oktober 1992 dan kerja di Jakarta sebelum ke Amerika di Bandung hanya pada Sabtu Minggu. Dari Senin pagi hingga Jumat sore ada di Jakarta. Jadi punya dua tempat kos, satu di Jakarta dan satu di Bandung. Untuk soal yang kos di Jakarta sebelumnya pernah dibahas.

Apakah perbedaan pada saat kos di Sulanjana dan di Tengku Angkasa? Jika di Sulanjana sistemnya adalah kontrak kamar selama satu tahun, maka di Tengku Angkasa adalah bener-bener tempat kos yang bayarnya setiap bulan. Jadi nggak harus repot-repot buat cari makan dan manggil bibik untuk cuci-cuci karena semuanya udah disediakan, all in. Untuk makannya disiapin mulai dari makan pagi hingga makan malam, tiga kali sehari. Yang juga berbeda, di Sulanjana ibuk kosnya biasa dipanggil tante, ibuk kos di Tengku Angkasa dipanggilnya emak, udah sepuh juga.

Saat awal di Tengku Angkasa yang kuliahnya di ITB tiga orang (including me) dan juga jadi awal kenal dengan temen sejurusan satu angkatan di bawah, padahal sejurusannya udah lumayan lama, yang kemudian jadi suaminya buk dokter gigi Evy Indriani Vyati yang adalah temen sekolah saat di Malang. Seperti katanya, asam di gunung garam di laut, dalam belanga bertemu jua. Cuma nggak tau juga deh apakah sekarang buk dokter masih terpesona oleh khayangan.

Biaya kos di Tengku Angkasa saat itu 200 ribu rupiah setiap bulannya, lumayan mahal juga tapinya udah all in dan ukuran kamarnya pun lebih luas dari yang di Sulanjana, dua kalinya kira-kira. Worth it lah meskipun penghasilan dari les privat yang juga waktu itu 200 ribu rupiah setiap bulannya jadi langsung ludes buat bayar kosan. Konsekuensinya, untuk keperluan lain-lain jadi mengandalkan kiriman ortu. Cuma aja pada saat itu jarang banget sih minta kiriman ortu, kecuali memang harus. Kalau dikirim alhamdulillah nggak dikirim juga tetep alhamdulillah.

Tuesday, May 11, 2021

Move Forward

Puasa Ramadhan tahun 2021 atau 1442 H sebentar lagi akan usai. Jadi gimana, masih pada bersemangat apa enggak? Hehe... As for me, puasa tahun ini adalah puasa tersulit yang pernah dialami, tapi alhamdulillah hingga sekarang ini masih lancar-lancar aja dan mudah-mudahan lancar hingga hari terakhir puasa. Amin.

Ngelanjutin bahasan tulisan sebelumnya, pertama kali ke Bandung tuh dari Jakarta naik 4848 bareng bapak buat berkunjung ke tempat kos. Di Bandung cuma sehari, nyampe malam besoknya setelah ketemu ibuk kos dan dapet kunci kamar balik lagi ke Jakarta.

Selanjutnya setiap kali ke Bandung sendirian aja dari Malang naik bus malam. Berangkat dari Malang biasanya sekitar jam dua siang dan tiba di Bandung sekitar jam lima pagi besoknya. Kalau yang dari Bandung ke Malang berangkatnya sore sekitar jam empat dan tiba di Malang juga sekitar jam lima pagi besoknya, lebih cepet. Pernah pergi ke Bandung hanya untuk naruh barang, jadi pagi sampe Bandung sorenya balik lagi ke Malang. Dulu, sebelum ada Kramat Djati, seringnya naik bus Jawa Indah, pernah juga Sari Harum. Naik pesawat juga pernah tapi jarang, biasanya kalau harus segera nyampe di Malang.

Awal-awal di kosan ada juga yang kuliah di Unpad, tapi seringnya dari ITB semua. Pernah juga temen sekelas di SMA kos disitu juga, keterima di teknik fisika, tapi cuma sebentar sebabnya pindah ke Belanda karena dapet beasiswa dari BPPT. Suasana tempat kosnya menyenangkan gitu, selama kos di situ nggak pernah terjadi keributan antar anak kos, paling sih bikin kesel gara-gara ada yang jorok.

Yang paling bikin perhatian waktu itu dari teknik sipil dua angkatan di atas. Nggak cuma kuliah di ITB dia juga kuliah di ekonomi Unpad. Udah gitu dia jarang ada di kosan karena punya bisnis juga di suatu kota di Jawa Tengah. Biar nggak ketinggalan dia punya asisten yang tugasnya ngegantiin untuk kuliah. Dateng ke kosan biasanya kalau ada ujian. Jadi yang sehari-hari ada di kosan asistennya. Suka iseng juga, pernah suatu malam, sekitar jam sepuluhan gitu tiba-tiba ngajakin ke SE hanya buat minum jus jeruk sama makan kentang goreng, pulang jam dua pagi.

Sayangnya, di kelak kemudian hari, saat berkecimpung di ranah politik beliau ini harus berurusan dengan KPK karena tersandung oleh kasus korupsi setelah menjadi bupati di suatu daerah di Jawa Tengah. Padahal kalau dibilang tajir ya tajirlah, dari jaman kuliah emang udah tajir. Tapi sekarang udah bebas sih.

Ke soal tempat kosan lagi, karena yang disediakan hanya kamar, kalau untuk cuci baju dan lainnya ada bibik yang tiap pagi dateng ke kosan buat ngambil dan nganterin baju dan lainnya yang udah disetrika. Kalau untuk makan malam, karena siang seringnya ada di kampus, biasanya berkunjung dari warung ke warung di sekitar situ, yang menjadi menu pilihan palingan kalau nggak nasi goreng ya soto ayam. Dua menu itu aja yang paling sering dikonsumsi.

Ngekos di situ hingga tahun 89 dan kemudian berpindah tempat kos ke Tengku Angkasa. Alasan pindahnya bukan karena nggak kerasan atau gimana, tapi karena merasa biaya kosnya menjadi kemahalan setelah ibuk kos menaikkan biaya kontrak kamar dengan nilai yang signifikan. Udah pernah naik juga sebelumnya tetapi masih okelah. Waktu itu kalau nggak keliru inget dari 450 ribu jadi 750 ribu setahunnya. Lumayan kan kenaikannya.

Demikian untuk kali ini, akhirulkalam 'minal aidin wal faidzin, maafkan lahir dan batin'.

Monday, April 19, 2021

A House Is Not A Home

Masih berhubungan dengan tulisan sebelumnya, jadi setelah menetap di Malang selama sekitar enam tahun untuk menamatkan SMP dan SMA yang keduanya kebetulan adalah Negeri 3, maka dengan diterimanya di ITB kisah baru pun dimulai.

Kalau pada awal-awal di Malang menetap di Diponegoro di rumah bude yang kakaknya ibuk, menjelang kelas tiga akhir kemudian berpindah ke Terusan Dieng. Karena bapak merencanakan anak-anaknya sekolah di Malang makanya bapak bikin rumah di Terusan Dieng, kebetulan juga bapak udah punya tanah di daerah itu, jadi bisa langsung bikin rumah. Lagian kan nggak mungkin semua di Diponegoro. Dibangunnya sekitar tahun 82 saat masih di kelas dua SMP. Waktu itu Terusan Dieng masih sepi banget, jalannya juga masih jalan tanah belum jalan aspal, masih banyak sawah di sekitarnya. Beda bangetlah dengan sekarang ini yang ramenya udah nggak karu-karuan. Unmer juga masih belum ada.

Adik cowok masih ngerasain tinggal di Diponegoro karena SMPnya SMPN 3 juga, cuma adik cewek aja yang langsung ke Terusan Dieng karena dia pindah ke Malangnya saat udah di kelas 3 SMP, dengan status sebagai murid pindahan. Rumah di Terusan Dieng tuh sebelahnya Unmer banget dan kemudian di akuisisi Unmer juga. Kalau nomor rumahnya bukanlah sewid seventin tapi sewidak, hehe...

Dengan adik cowok sejak dari Tanjungkarang hingga di Malang bareng di sekolah yang sama terus, kalau dengan yang cewek beda SMP dan SMA. Cuma setelah dari SMA adik cowok nggak lanjut ke Bandung tapi ke Brisbane seperti adik cewek, di QUT untuk S1nya dan kemudian di Swinburne untuk S2.

Ke soal Bandung, setelah diterima di ITB yang pertama-tama dilakukan tentulah mencari tempat tinggal, dalam hal ini yaitu rumah kos-kosan. Dapetnya tanpa harus repot-repot karena ternyata anak dari saudara sepupunya ibuk ada yang juga berkuliah di ITB, teknik mesin pula, cuma udah hampir lulus, lima angkatan di atas. Dan karena lagi ada kamar kosong di tempat kosnya jadilah di-booking oleh bapak.

Keuntungan dari keterima di ITB melalui PMDK, nggak harus terburu-buru mendapatkan tempat kos karena yang keterima masih sedikit. Jadi yang mencari tempat kos tentu juga belum sebanyak pada saat seusai hasil Sipenmaru diumumkan.

Yang nggak disangka-sangka, 'tak kuduga' bahasa lagunya, kosannya ternyata lokasinya sungguh strategis, di seberangnya kantor pusat ITB, 'selangkah ke seberang' kalau untuk bahasa lagunya, yang mana versi dari White Shoes & The Couples Company keren juga, dan kalau mau ke kampus juga palingan 15 menit jalan kaki. Untuk pembayaran nggak bulanan tapi, melainkan tahunan dan itu hanya untuk kamar, makanya jadi lebih sering dibilang ngontrak kamar daripada ngekos. Waktu itu setahunnya 400 ribu rupiah.

Di blog sebelumnya sebenernya udah pernah dibahas dimanakah alamat tempat kosnya, kalau yang dulu sering baca harusnya udah tau. Jadi, pertama ke Bandung sekitar 35 tahun lalu dan bertempat tinggal nggak jauh dari Balubur. Nama jalannya nggak usah ditulis. Nomornya? 19 ;-)

Monday, March 29, 2021

The Choice

Untuk tulisan kali ini, mau ngebahas kenapa dan gimana kok dulu kuliah di ITB untuk S1. Kalau keterimanya di ITB sih nggak sulit, sebab tanpa harus mengikuti tes-tesan segala seperti Sipenmaru atau yang sekarang dikenal sebagai SBMPTN tapi melalui jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan). Sebenernya agak takjub juga bisa keterima di ITB melalui PMDK karena merasa nggak pinter-pinter amat, di sekolah sepertinya banyak yang lebih pinter. Nggak pernah jadi peringkat satu juga di kelas tapi pernah di peringkat dua untuk satu sekolah saat kelas dua semester dua. Kalau di kelas tiga semester satu malahan pernah di peringkat 40 dari 50 murid. Keren kan? Hehe...

Sungguh merasa beruntung karena dulu ada program PMDK, entahlah gimana andaikan nggak ada, ragu apakah bisa keterima di ITB jikalau harus mengikuti Sipenmaru. Bisa keterima di ITB melalui PMDK mungkin disebabkan yang nilainya pada lebih bagus nggak memilih ITB tapi milih PTN yang lainnya. Karena nggak banyak saat itu murid SMAN 3 Malang yang keterima di ITB melalui PMDK, nggak nyampe 10 orang.

Dulu bukan milih ITB sih sebenernya, tapi lebih ke milih Bandungnya. Karena Bandung cuacanya (katanya, karena belum pernah ke Bandung sebelumnya) mirip-mirip dengan Malang, adem. Nggak pengen kuliah di Malang sebab pengen cari suasana baru. Selain Bandung dulu alternatif lainnya adalah UGM Jogja tempat bapak kuliah, suasana Jogja tampak enak juga. Kalau ke Jakarta males. Surabaya apalagi, malesin banget, selain sumuk nyamuknya ampun-ampunan. Tapi waktu itu pilihan kedua ke Surabaya karena hanya bisa memilih dua universitas/institut dan yang satu harus di wilayah yang sama dengan wilayah SMA, nggak bisa milih Bandung dan Jogja. Pilihan keduanya kedokteran Unair padahal nggak begitu suka jadi dokter. Sempat kuatir juga seandainya diterima di pilihan kedua.

Daftar ke kedokteran Unair karena ada temen main sejak dari SMP yang bercita-cita buat jadi dokter dan daftar ke Unair, makanya ikutan aja. Sekarang temen itu memang udah berprofesi sebagai dokter, spesialis kandungan, dokter Adi Sukrisno. Kalau dokter Adi ini sejak pertama kali kenal udah dikenal sebagai siswa yang berprestasi alias pinter.

Jadi, setelah mempertimbangkan berbagai macam hal, sebagai pilihan pertama di PMDK adalah teknik mesin ITB dan yang menjadi pilihan kedua kedokteran Unair. Kenapa teknik mesin karena nggak begitu suka dengan jurusan teknik sipil, teknik elektro, atau juga teknik informatika misalnya.

Satu hal, kuliah di jurusan teknik mesin itu bukan berarti belajar untuk menjadi montir. Teknik mesin bukan sekolah montir. Yang dipelajari misalnya termodinamika, mekanika fluida, mekanika teknik, dan masih banyak lagi. Bikin puyeng lah belajarnya.

Pengisian formulir untuk PMDK ini dilakukan saat di kelas tiga, sehingga penilaiannya berdasarkan prestasi di kelas satu dan dua. Sempat agak menyesal juga karena nggak begitu serius belajar saat di kelas satu dan kelas dua, seandainya serius belajar sangat mungkin nilainya akan lebih bagus lagi. Nilai rata-rata semester kelas satu dan kelas dua waktu itu diatas 7.5 tapi masih dibawah 8. Gimana mau serius wong catatan aja sering minjem, hehe...

Tau diterima di ITB melalui PMDK setelah sore-sore lagi enak-enaknya tidur dikabarin adik cowok (adik kedua dari tiga bersaudara) sepulang dia sekolah. Dengan adik cowok satu sekolah, dia saat itu masih di kelas satu. Langsung aja setelah itu ke sekolah buat liat pengumumannya. Lega banget setelah tau keterima karena berarti nggak usah lagi ikutan Sipenmaru yang berarti harus belajar lagi buat persiapannya. Males banget kan belajar mulu? ;-)

Monday, March 15, 2021

Hello You!

Pertama-tama, it's great to write again! Udah lumayan lama juga nggak sempat update blog gegara hal-hal yang nggak penting tapi mau nggak mau, suka nggak suka, harus dilakukan. You've got to do what you've got to do. Dan sekarang tau-tau udah nyampe pertengahan Maret aja, tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat. Berikutnya, mudah-mudahan setelah ini waktu terasa berlalu dengan lambat kecuali saat Ramadhan. Amin!

Untuk soal kebanjiran, alhamdulillah doa tahun lalu terkabulkan, jadinya terbebas dari banjir. Cuma nyaris aja di Jumat, 19 Februari lalu, antrian air udah sempat masuk ke halaman depan rumah tapi surut lagi. Karena udah pertengahan Maret, kemungkinan untuk banjir udah 0% sih, jadi aman. Bikin tulisan ini juga setelah memastikan keadaan bebas banjir. Meskipun nggak kebagian jatah antrian air akan tetapi semenjak Januari awal hingga minggu pertama Maret udah berjaga-jaga, tidurnya sekitar jam 3 pagi gitu kecuali kalau lagi nggak hujan tidurnya bisa lebih awal.

Secara keseluruhan, overall, hepi dengan kondisi sekarang, tidak semua berjalan sesuai dengan rencana tapi sungguh memuaskan. Yang paling utama dan paling memuaskan tentunya adalah nggak kebagian antrian air.

Demikianlah untuk tulisan edisi kali ini, cukup singkat karena memang there's not much to write. Well... just to let you know that I am 100% fine, thank you! ;-)

Monday, January 25, 2021

Only A Little

Tulisan pertama di tahun 2021. Ngebahas hal yang nggak serius, yaitu satu lagu dari lagu-lagu yang jadi all-time favorites. Nggak banyak lagu yang jadi all-time favorites, sebelum dilanjut lebih jauh, yang dimaksud dengan [my] all-time favorites yaitu lagu-lagu jadul yang mengesankan gitu, beberapa yang jadi favorit, "All The Things You Are", "Moonlight Serenade", "Through The Test of Time", "My Only Fascination".

Yang mau dibahas di sini adalah, "I Say a Little Prayer". Udah tau lagu ini dari entahlah kapan tetapi jadi semakin menyimak semenjak ada di soundtrack film My Best Friend's Wedding. Penyanyi awalnya Dionne Warwick tapi hingga sekarang udah banyak juga yang ikutan nyanyiin, dari yang terkenal banget hingga yang belum terkenal. Aretha Franklin, Natalie Cole (duet dengan Whitney Houston), hingga Patti Austin (jadi partner duetnya Steve Tyrell) pernah nyanyiin lagu itu. Yang versinya Aretha Franklin jadi terkenal karena ada perbedaan dengan versinya Dionne Warwick.

Versi lainnya seperti dari Workshy, Phillip Ingram, Diana King, atau juga The Overtones, dan masih banyak lagi. The Overtones ini adalah grup yang asalnya dari Inggris, bukan The Overtunes yang dari Indonesia. Kalau The Overtunes suka dengan lagunya "Bicara" yang bareng dengan Monita Tahalea. Yang suka nonton Dua Dunia Salma tentunya udah ikrib banget dengan lagu "Bicara" ini.

Kenapa ngebahas "I Say a Little Prayer", sebab ada satu versi lagu yang belum pernah dirilis secara resmi, yaitu versi dari ending film My Best Friend's Wedding. Nggak ada di album soundtrack-nya, entah kenapa. Yang ada versinya Diana King. Padahal penasaran banget buat denger yang versi lengkapnya.

Tapi kalau yang sungguh menghibur buat ditonton yaitu versinya Scary Pockets bareng Kenton Chen. Kenton Chen ini nyanyinya goks banget. Ternyata juga, bos Patreon gape main keyboard.

Featured Post