Monday, April 19, 2021

A House Is Not A Home

Masih berhubungan dengan tulisan sebelumnya, jadi setelah menetap di Malang selama sekitar enam tahun untuk menamatkan SMP dan SMA yang keduanya kebetulan adalah Negeri 3, maka dengan diterimanya di ITB kisah baru pun dimulai.

Kalau pada awal-awal di Malang menetap di Diponegoro di rumah bude yang kakaknya ibuk, menjelang kelas tiga akhir kemudian berpindah ke Terusan Dieng. Karena bapak merencanakan anak-anaknya sekolah di Malang makanya bapak bikin rumah di Terusan Dieng, kebetulan juga bapak udah punya tanah di daerah itu, jadi bisa langsung bikin rumah. Lagian kan nggak mungkin semua di Diponegoro. Dibangunnya sekitar tahun 82 saat masih di kelas dua SMP. Waktu itu Terusan Dieng masih sepi banget, jalannya juga masih jalan tanah belum jalan aspal, masih banyak sawah di sekitarnya. Beda bangetlah dengan sekarang ini yang ramenya udah nggak karu-karuan. Unmer juga masih belum ada.

Adik cowok masih ngerasain tinggal di Diponegoro karena SMPnya SMPN 3 juga, cuma adik cewek aja yang langsung ke Terusan Dieng karena dia pindah ke Malangnya saat udah di kelas 3 SMP, dengan status sebagai murid pindahan. Rumah di Terusan Dieng tuh sebelahnya Unmer banget dan kemudian di akuisisi Unmer juga. Kalau nomor rumahnya bukanlah sewid seventin tapi sewidak, hehe...

Dengan adik cowok sejak dari Tanjungkarang hingga di Malang bareng di sekolah yang sama terus, kalau dengan yang cewek beda SMP dan SMA. Cuma setelah dari SMA adik cowok nggak lanjut ke Bandung tapi ke Brisbane seperti adik cewek, di QUT untuk S1nya dan kemudian di Swinburne untuk S2.

Ke soal Bandung, setelah diterima di ITB yang pertama-tama dilakukan tentulah mencari tempat tinggal, dalam hal ini yaitu rumah kos-kosan. Dapetnya tanpa harus repot-repot karena ternyata anak dari saudara sepupunya ibuk ada yang juga berkuliah di ITB, teknik mesin pula, cuma udah hampir lulus, lima angkatan di atas. Dan karena lagi ada kamar kosong di tempat kosnya jadilah di-booking oleh bapak.

Keuntungan dari keterima di ITB melalui PMDK, nggak harus terburu-buru mendapatkan tempat kos karena yang keterima masih sedikit. Jadi yang mencari tempat kos tentu juga belum sebanyak pada saat seusai hasil Sipenmaru diumumkan.

Yang nggak disangka-sangka, 'tak kuduga' bahasa lagunya, kosannya ternyata lokasinya sungguh strategis, di seberangnya kantor pusat ITB, 'selangkah ke seberang' kalau untuk bahasa lagunya, yang mana versi dari White Shoes & The Couples Company keren juga, dan kalau mau ke kampus juga palingan 15 menit jalan kaki. Untuk pembayaran nggak bulanan tapi, melainkan tahunan dan itu hanya untuk kamar, makanya jadi lebih sering dibilang ngontrak kamar daripada ngekos. Waktu itu setahunnya 400 ribu rupiah.

Di blog sebelumnya sebenernya udah pernah dibahas dimanakah alamat tempat kosnya, kalau yang dulu sering baca harusnya udah tau. Jadi, pertama ke Bandung sekitar 35 tahun lalu dan bertempat tinggal nggak jauh dari Balubur. Nama jalannya nggak usah ditulis. Nomornya? 19 ;-)

Featured Post