Monday, November 11, 2019

Life Begins At Forty

Seperti judul tulisan ini, life begins at forty, begitu kalimat yang sering dikatakan, entah darimana asal muasalnya tapi yang pasti ada bukunya, kemarin, Minggu, 10 November, bertepatan dengan 40 tahunnya saat meninggalkan Tanjungkarang untuk kemudian memulai petualangan baru dengan menetap di Palangkaraya. Empat puluh tahun tentu bukan waktu yang sebentar, dimulai sejak 10 November 1979. Barangkali banyak yang kebetulan baca blog ini belum pada lahir, hehe...

Sejak meninggalkan Tanjungkarang saat itu, hingga kini belum pernah lagi menginjakkan kaki di Tanjungkarang. Tanjungkarang sendiri saat ini udah nggak ada lagi, karena udah berganti nama jadi Bandar Lampung yang merupakan penggabungan dari Tanjungkarang dan Telukbetung.

As far as I can recall, Tanjungkarang adalah kota yang menyenangkan untuk ditinggali, I had a lot of happy memories there. Dulu, rasanya agak sedih juga harus meninggalkan Tanjungkarang, apalagi pada saat ngeliat keluar dari jendela pesawat menjelang pesawat tinggal landas. Tapi ya gimana lagi, karena bapak dipindahtugaskan ke Palangkaraya dan sebagai pegawai negeri tentunya harus selalu siap sedia untuk ditempatkan dimanapun.

Tempat-tempat di Tanjungkarang yang masih selalu terkenang antara lain, Gedong Air, Bambu Kuning, Lapangan Enggal, Saburai, Pahoman, Branti, Panjang. Entah apakah nama-nama tersebut sekarang masih ada, udah nggak tau lagi. Yang sempat tau, Branti udah ganti nama juga kayak Tanjungkarang. Kalau Jaka Utama pastinya udah nggak ada lagi.

Pada masa itu, karena masih SD, sukanya main kelereng, kasti, gobak sodor, egrang, benteng, layangan, wayang, taplak, lompat karet, petak umpet, adu biji asem, dan berbagai jenis permainan jadul lainnya yang entah sekarang masih ada yang mainin apa enggak. Selain permainan-permainan itu, juga cukup sering main bulutangkis dan juga sepakbola. Semenjak pindah ke Palangkaraya udah nggak pernah lagi main-main yang kayak gitu, kecuali sepakbola, sepertinya oleh karena perbedaan budaya.

Juga pada masa itu, kalau dapet uang jajan lima puluh perak (rupiah) aja udah seneng banget, bisa beli macem-macem dan kalau ada yang mau dibeli tapi uangnya nggak cukup biasanya patungan bareng temen dan jajanan yang dibeli dimakan bareng-bareng. Gimana nggak seneng wong uang lima perak aja masih laku, hehe...

Tapi, seperti katanya juga, menurut yang udah-udah, the happy times never last for long, dan pada saat lagi seneng-senengnya harus pindah ke Palangkaraya. Beruntung juga sebenernya karena hingga kini yang terkenang dari Tanjungkarang di masa itu hanyalah kenangan-kenangan yang sungguh menyenangkan, and it will last forever.

By the way, menetap di Palangkaraya nggak lama sih, karena setelah lulus SD kemudian pindah ke Malang buat ngelanjutin SMP pada 28 Mei tahun berikutnya.

Featured Post