Monday, July 27, 2020

One Step Further

Mau ngelanjutin tulisan soal setelah tamat SD. Seperti yang udah ditulis sebelumnya, saat SD sekolahnya di Tanjungkarang (SDN Teladan) dan kemudian pada saat di kelas 6 pindah ke Palangkaraya (SDK St. Don Bosco). SD di Palangkaraya ini nggak jauh dari rumah lokasinya, ada di jalan yang sama malahan, Jl. Tjilik Riwut, cuma berseberangan jalan. Makanya dulu sama ortu didaftarin di situ biar kalau ke sekolah nggak repot.

Setelah tamat dari SD oleh ortu dikirim ke Malang untuk lanjut SMPnya. Kenapa Malang? Karena ortu asli Arema. Kalau semua anak-anaknya sih dibilangnya pujakesuma. Selain itu di Malang juga banyak saudara. Di Malang didaftarin ke SMPN 3. Kenapa SMPN 3, kok nggak ke SMP yang lainnya? Karena lokasi sekolahnya yang deket dengan rumah bude di Jl. Diponegoro, makanya didaftarin di situ. Nggak ujug-ujug juga langsung bisa diterima tentunya karena harus melalui proses tes masuk terlebih dulu.

Sebagai anak daerah (baca: luar Jawa, Jawa Timur umumnya, Malang khususnya) tentu nggak mempunyai awalan yang sama dengan anak-anak lain yang memang dari SD udah sekolah di Malang. Dalam hal ini awalannya di belakang. Contohnya, di soal tes masuk ada pertanyaan gini, apa arti dari Jer Basuki Mawa Beya, terus juga apa yang dimaksud dengan Malang Kucecwara. Nah lo, ini kan pertanyaan yang spesifik Jawa Timur dan kota Malang. Sama aja kayak di Tanjungkarang ditanya apa arti Sang Bumi Ruwa Jurai atau di Palangkaraya ditanya apa arti Isen Mulang, atau kalau di Bandung ditanya apa artinya Gemah Ripah Repeh Rapih, hehe...

Untungnya sih untuk pertanyaan tadi ada pilihan jawabannya, jadi biar kata nggak ngerti apa artinya paling enggak masih bisa nebak-nebak lah. Singkat kata, akhirnya keterima juga di SMPN 3. Agak kagok di awal-awal masuk sekolah karena pada berbahasa Jawa semua, padahal nggak ngerti bahasa Jawa sama sekali. Memang ortu Arema tulen tapi di perantauan jarang banget ngomong menggunakan bahasa Jawa.

Bahasa Jawa ini juga menjadi momok di semester satu karena ternyata bahasa Jawa ada pelajarannya. Setiap pelajaran bahasa Jawa di kelas suka terbengong-bengong sendiri karena nggak ngerti, apalagi kalau udah ngebahas aksara Jawa yang "ha na ca ra ka" gitu. Belum lagi yang e pepet, taling tarung, dan sebagainya, rasanya udah kayak mo pingsan saking mumetnya. Keder duluan.

Bisa ditebak, bahasa Jawa di semester satu nilainya nggak karu-karuan. Untungnya (lagi), wali kelasnya, bu Nana, guru PMP waktu itu, sungguh mengerti gimana situasi muridnya ini, jadi beliau memintakan dispensasi ke guru bahasa Jawa supaya nilai 4 di rapor dijadiin 6. Bayangin kalau di rapor ada nilai 4, apa nggak pusing tuh pala Barbie. Alhamdulillahnya guru bahasa Jawa juga memaklumi, jadi beliau bersedia mengubah yang tadinya nilai 4 menjadi 6.

Karena merasa sangat berterima kasih dan supaya nggak bikin kecewa bu guru yang udah memperjuangkan muridnya, di semester dua sangat serius mempelajari bahasa Jawa. Dan hasilnya ternyata nggak sia-sia, nilai bahasa Jawa menjadi 8 di semester dua, bukan karena dispensasi tapi karena usaha sendiri.

Gimana dengan kelas dua? Hohoho... di kelas dua nilai bahasa Jawa di semester satu dan dua adalah 9 dan 8.5 *jumawa*. Setelah dipelajari dengan seksama, ternyata bahasa Jawa nggak begitu sulit, yang masih sulit tuh kalau harus ngomong Jawa tapi dengan bahasa krama inggil, krama madya aja masih ketar-ketir. Selalu berusaha menghindar kalau harus ngomong krama daripada dikira kurang ajar atau nggak ngerti unggah-ungguh. Paling aman jawabnya dengan menggunakan bahasa Indonesia. Tapi sebagai pelajaran, bahasa Indonesia bukan suatu hal yang mudah untuk dimengerti, di SMP nilai bahasa Indonesia yang diperoleh yaitu, 8.5, 7.5, 7.5, 7, 7, dan terakhir 8.

Yang agak lucu, di kelas dua semester satu ternyata jadi peringkat satu untuk seluruh kelas dua. Ternyata anak daerah bisa berjaya juga. Bu Nana sempat sangsi gitu kalau bisa jadi peringkat satu, sebabnya di kelas satu peringkat sepuluh aja nggak termasuk. Nggak ngira juga sih sebenernya sebab belajarnya tergolong biasa-biasa, baru belajar setiap menjelang ulangan. Sepertinya ini karena soal keberuntungan, sebab di semester dua dan di kelas tiga nggak pernah jadi peringkat satu lagi.

Tau jadi peringkat satu dari mas Onny yang didapuk menjadi wali murid karena ortu kan nggak mungkin ke Malang hanya untuk ngambil rapor, selain itu kakak sepupu juga kerja di Surabaya, pagi berangkat malem baru pulang. Mas Onny atau lengkapnya Koernia Swa Oetomo saat itu adalah mahasiswa tingkat akhir FK Unibraw yang kos dirumah bude, tentunya sekarang beliau udah jadi dokter senior banget. Dulu lumayan sering baca-baca buku soal kedokteran kalau lagi main ke kamarnya mas Onny. Diajak ikutan ke rumah sakit juga kalau lagi senggang.

Yang efektif menempati rumah Diponegoro berjumlah empat orang dan satu anjing kecil, kakak sepupu, mas Onny, me, mbak yang masak dan juga beresin rumah, serta Sinyo. Sinyo ini ngerti kalau jangan ngendus-endus, jadinya aman. Jadi, itulah alasan kenapa mas Onny didapuk jadi wali murid, selain karena mas Onny memang sungguhlah baik banget.

Monday, July 6, 2020

Did You Know?

Beberapa hari lalu sempat nonton FTV yang satu lagu temanya ada yang berjudul "Pasti Bisa". Gegara tuh lagu jadi keingetan patung Pancoran, eh, kok patung Pancoran sih malih, malah ngelantur. Jadi keingetan lagu yang lain lagi dari penyanyi yang nyanyiin lagu itu maksudnya. Lagu yang terkenal juga beberapa tahun silam. By the way, masih ada nggak sih yang dengerin lagu "Everybody Knew" sekarang sekarang ini? Except me of course :-p

Kalau diperhatiin syairnya dengan seksama, "Pasti Bisa" boleh dibilang kayak kelanjutan dari lagu "Everybody Knew". Wahiya, sebelum dilanjut, kedua lagu tersebut dinyanyiin oleh penyanyi yang udahlah terfavorit lulusan Indonesian Idol, Citra Scholastika. Harap dicatat jika ini adalah penilaian subyektif tentu, mungkin karena lagu-lagunya beraroma jazz gitu, makanya sebagai penikmat jazz jadi baper.

Kisah dari kedua lagu itu sebenernya agak menyedihkan juga, cuma aja nggak ketara sebab Citra Scholastika saat nyanyiinnya nggak tampak ada ekspresi sedih-sedihnya, malah hepi-hepi gitu (setidaknya begitu yang dapat diinterpretasikan dari tayangan video klipnya). Selain itu, musiknya juga bukan musik yang menyedihkan. Padahal "Everybody Knew" kan kisah lagunya yaitu soal seseorang, cewek (oleh sebab yang nyanyi cewek) yang memergoki jika pasangannya ternyata lagi jalan dengan orang lain, dan karena kesel makanya si cewek bilang kalau 'everybody knew you're a liar'.

Kalau untuk lagu "Pasti Bisa" isi lagunya adalah soal menyemangati diri sendiri pada saat mengalami kesedihan dan/atau kekecewaan dengan suasana matahari terbenam sebagai mediumnya. Makanya cocok kan? Pasangan jalan dengan orang lain kemudian berusaha bangkit dalam kesendirian sambil menikmati saat-saat matahari terbenam. Sepertinya lagu yang sesuai untuk penikmat senja.

Terus, maksudnya apa nih kok ngebahas dua lagu ini? Well... Nggak ada maksud apa-apa sih, cuma gegara kedua lagu tadi jadi aja bikin keinget dengan seseorang di masa lalu. Nggak penting banget ya, hehe... :-p

:-)

Happy Monday!

Featured Post