Monday, December 30, 2019

Before New Year

Sebentar lagi bukan lebaran, tapi tahun 2019 akan segera berakhir. Dan buat penutup mau nulis soal dua film terakhir yang ditonton di tahun 2019 sebagai hiburan. Tahun ini nggak begitu sering ke bioskop buat nonton film karena nggak banyak juga film yang pengen ditonton atau bikin penasaran buat nontonnya meskipun nggak pengen.

Kedua film tersebut yaitu It Chapter Two dan Jumanji: The Next Level. Masing-masing ditonton di Kota Kasablanka dan Plaza Indonesia.

It Chapter Two adalah kelanjutan atau sekuel dari film It. Tapinya kalau belum nonton It juga nggak apa-apa karena filmnya bukan sekuel yang langsung gitu tapi bertahun-tahun setelahnya. Genrenya tergolong film horor tapi bukan horor setan atau hantu karena It itu ternyata adalah makhluk dari luar angkasa. Cuma, kalau dari filmnya nggak diketahui kenapa tuh makhluk bisa-bisanya menetap di bumi dan maksud atau alasannya apa. Juga, sepertinya udah lama menetap di bumi. It ini sebenernya bisa berubah-ubah bentuk tapi seringnya jadi badut yang bernama Pennywise.

Ke filmnya, kisahnya dimulai sekitar 27 tahun setelah peristiwa di film It, jadi kalau di It para pemerannya masih belum dewasa maka di It Chapter Two udah pada dewasa. Pada saat dewasa mereka udah berpencar dan kemudian ngumpul lagi disebabkan oleh kemunculan It yang ternyata masih eksis.

Selanjutnya yaitu dikisahkan bagaimana upaya yang dilakukan untuk melenyapkan badut Pennywise alias It sehingga nggak balik-balik lagi kayak pada umumnya film-film horor yang setan atau hantunya muncul lagi muncul lagi. Tapi kalau dari filmnya sih Pennywise kayaknya nggak bakalan balik lagi karena It bukanlah setan ataupun hantu sehingga bisa dimusnahkan. Jadi rasanya hampir mustahil akan ada film It Chapter Three kecuali kalau bukan sekuel tapi prekuel, atau spin-off gitu. Untuk akhir filmnya boleh dibilang happy ending.

Film yang berikutnya yaitu Jumanji: The Next Level. Seperti It Chapter Two, film ini juga merupakan sekuel dari film Jumanji sebelumnya, yaitu Jumanji: Welcome to the Jungle dan film ketiga dari serial Jumanji. Buat nonton film ini bagusnya udah nonton yang Jumanji: Welcome to the Jungle duluan karena peristiwanya hanya tiga tahun setelah film itu, jadi boleh juga dibilang sebagai lanjutan langsung. Tapi kalau belum nonton ya nggak apa-apa sih, tetep bisa ngerti alur kisah filmnya.

Jumanji: The Next Level mengisahkan bagaimana para pemeran di film sebelumnya balik lagi untuk berpetualang ke dunia game Jumanji yang mana mereka memainkan karakter yang ada di dalam game, bukan menjadi dirinya sendiri. Di dalam game pemeran laki-laki bisa jadi memainkan karakter perempuan dan sebaliknya. Di game-nya mereka punya tiga nyawa yang dapat digunakan dan kalau ketiga-tiganya udah habis maka karakternya akan lenyap untuk selamanya, demikian pula pemerannya. Hingga akhir game semua pemerannya hanya menggunakan dua nyawa sehingga nggak ada karakter yang lenyap. Filmnya lucu juga dan sangat mungkin untuk ada kelanjutannya.

Sekedar catatan, belakangan ini dari beberapa film yang ditonton mulai bermunculan film yang satu karakternya diperankan oleh dua orang. Film yang satu karakternya diperankan oleh dua orang yang pertama ditonton sepertinya Shazam!, entah kalau ternyata ada film lain sebelumnya. 

By the way, kedua film yang ditonton itu nggak mengecewakan ataupun bikin bete. Jadi, demikianlah tulisan terakhir di tahun ini, till next year!

Monday, November 11, 2019

Life Begins At Forty

Seperti judul tulisan ini, life begins at forty, begitu kalimat yang sering dikatakan, entah darimana asal muasalnya tapi yang pasti ada bukunya, kemarin, Minggu, 10 November, bertepatan dengan 40 tahunnya saat meninggalkan Tanjungkarang untuk kemudian memulai petualangan baru dengan menetap di Palangkaraya. Empat puluh tahun tentu bukan waktu yang sebentar, dimulai sejak 10 November 1979. Barangkali banyak yang kebetulan baca blog ini belum pada lahir, hehe...

Sejak meninggalkan Tanjungkarang saat itu, hingga kini belum pernah lagi menginjakkan kaki di Tanjungkarang. Tanjungkarang sendiri saat ini udah nggak ada lagi, karena udah berganti nama jadi Bandar Lampung yang merupakan penggabungan dari Tanjungkarang dan Telukbetung.

As far as I can recall, Tanjungkarang adalah kota yang menyenangkan untuk ditinggali, I had a lot of happy memories there. Dulu, rasanya agak sedih juga harus meninggalkan Tanjungkarang, apalagi pada saat ngeliat keluar dari jendela pesawat menjelang pesawat tinggal landas. Tapi ya gimana lagi, karena bapak dipindahtugaskan ke Palangkaraya dan sebagai pegawai negeri tentunya harus selalu siap sedia untuk ditempatkan dimanapun.

Tempat-tempat di Tanjungkarang yang masih selalu terkenang antara lain, Gedong Air, Bambu Kuning, Lapangan Enggal, Saburai, Pahoman, Branti, Panjang. Entah apakah nama-nama tersebut sekarang masih ada, udah nggak tau lagi. Yang sempat tau, Branti udah ganti nama juga kayak Tanjungkarang. Kalau Jaka Utama pastinya udah nggak ada lagi.

Pada masa itu, karena masih SD, sukanya main kelereng, kasti, gobak sodor, egrang, benteng, layangan, wayang, taplak, lompat karet, petak umpet, adu biji asem, dan berbagai jenis permainan jadul lainnya yang entah sekarang masih ada yang mainin apa enggak. Selain permainan-permainan itu, juga cukup sering main bulutangkis dan juga sepakbola. Semenjak pindah ke Palangkaraya udah nggak pernah lagi main-main yang kayak gitu, kecuali sepakbola, sepertinya oleh karena perbedaan budaya.

Juga pada masa itu, kalau dapet uang jajan lima puluh perak (rupiah) aja udah seneng banget, bisa beli macem-macem dan kalau ada yang mau dibeli tapi uangnya nggak cukup biasanya patungan bareng temen dan jajanan yang dibeli dimakan bareng-bareng. Gimana nggak seneng wong uang lima perak aja masih laku, hehe...

Tapi, seperti katanya juga, menurut yang udah-udah, the happy times never last for long, dan pada saat lagi seneng-senengnya harus pindah ke Palangkaraya. Beruntung juga sebenernya karena hingga kini yang terkenang dari Tanjungkarang di masa itu hanyalah kenangan-kenangan yang sungguh menyenangkan, and it will last forever.

By the way, menetap di Palangkaraya nggak lama sih, karena setelah lulus SD kemudian pindah ke Malang buat ngelanjutin SMP pada 28 Mei tahun berikutnya.

Monday, September 23, 2019

"Smoke Gets In Your Eyes"

Buat tulisan kali ini, yang jadi judulnya adalah lagu jadul favorit sejak entah kapan. Tapi yang pasti nggak setua umur lagunya sih. Lagunya sendiri pun punya sejarah panjang dan udah dinyanyiin oleh banyak penyanyi terkenal juga, mulai dari Nat King Cole, Harry Belafonte, Sarah Vaughan, The Platters, dan masih banyak lagi. Monggo dibaca sendiri sejarah lagunya kalau pengen tau lebih banyak.

Udah nggak tau lagi awal tau lagunya dari penyanyi yang mana cuma dulu sering denger yang versinya The Platters dan juga Nat King Cole. Tapi kalau untuk versi yang paling favorit sih versinya Patti Austin yang dari albumnya The Real Me. Nuansa jazznya berasa. Meskipun "Smoke Gets in Your Eyes" juga tergolong sebagai lagu jazz tapi di versi-versi yang lain kebanyakan popnya yang lebih berasa.

Pertanyaannya kemudian adalah, maksudnya apaan sih ngebahas lagu "Smoke Gets in Your Eyes"? Sabar, ojo kesusu dhisik. Jadi ya, kenapa ngebahas lagu ini sebab setiap ada berita soal kabut asap bikin selalu merasa terasosiasi dengan lagunya oleh karena dulu pernah mengalami sendiri akibat dari kabut asap saat akan ke Palangkaraya. Dan karena sekarang lagi rame berita soal kabut asap, makanya jadi berkesempatan buat ngebahas. Gitu.

Soal kabut asap ini bukan merupakan hal baru sih sebenernya, jaman bapak almarhum masih di Palangkaraya kabut asap juga udah terjadi, cuma nggak seheboh sekarang beritanya. Harap dimaklum, di jaman segitu yang namanya sosial media belum ada, jadi belum ada tuh istilah "the world at your fingertips". Bapak menetap di Palangkaraya di era 80-an hingga 90-an, tapi berita soal kabut asap sepertinya baru muncul di era 90-an.

Kalau yang untuk pengalaman sendiri dengan kabut asap yaitu saat mau ke Palangkaraya tapi nggak ada jadwal penerbangan langsung sebagai imbas adanya kabut asap. Jadinya ikutan penerbangan ke Banjarmasin dulu dan dari Banjarmasin menuju ke Palangkaraya melalui jalan darat yang harus ditempuh paling enggak lima jam. Banjarmasin pada saat itu nggak terdampak oleh kabut asap, jadi penerbangan ke sana berjalan normal. Capek juga ternyata lewat jalan darat, apalagi jalan yang dilalui belum semuanya mulus.

Boleh dibilang blessing in disguise juga sih, oleh sebab jadi mengalami gimana rasanya melalui jalan darat dari Banjarmasin ke Palangkaraya, sebelumnya udah pernah dengan menyusuri sungai dan menggunakan penerbangan perintis. Bikin portofolionya lengkap, hehe... Coba kalau saat itu nggak ada kabut asap, entah kapan bisa ke Palangkaraya dari Banjarmasin melalui jalur darat.

Jadi begitulah asal muasalnya kenapa jadi selalu terkenang dengan lagu "Smoke Gets in Your Eyes" setiap ada berita soal kabut asap. Sebabnya dulu juga pernah mengalami dampak dari kabut asap. Dan karena yang paling disuka adalah versinya Patti Austin, maka yang selalu terasosiasi dengan soal kabut asap yang versinya Patti Austin, bukan versi yang lain meskipun tau juga dengan versi-versi yang lain.

Sebagai tambahan, ada juga film yang kisahnya berhubungan dengan kabut asap dan lagu "Smoke Gets in Your Eyes", judulnya Always. Cuma lagu "Smoke Gets in Your Eyes" di filmnya bukan dari versi Patti Austin tapi versinya J.D. Souther dan The Platters.

Monday, September 9, 2019

To Complete

Sebelum berpindah ke blog ini, pada tulisan terakhir tahun 2018 lalu di blog sebelumnya menyatakan bahwa berkeinginan untuk nonton film Mary Poppins Returns. Trus gimana tuh, jadi nggak nonton filmnya? Jadi dong pastinya, cuma aja nontonnya nggak di tahun 2018 tapi di tahun 2019, nggak lama setelah tahun baru.

Juga, nontonnya nggak langsung setelah film yang dibahas terakhir di blog sebelumnya, Venom, akan tetapi nonton Aquaman dulu di Kuningan City baru kemudian nonton Mary Poppins Returns di Senayan City. Jadi Aquaman adalah film terakhir yang ditonton pada tahun lalu dan Mary Poppins Returns adalah film pertama yang ditonton di tahun ini.

Hingga tulisan ini di-publish, sejak awal tahun nggak banyak film yang ditonton, hanya enam film. Setelah Mary Poppins Returns film-film yang ditonton adalah Captain Marvel juga di Senayan City, Shazam! di Lotte Shopping Avenue, Avengers: Endgame di Kota Kasablanka, John Wick: Chapter 3 - Parabellum di Kuningan City, dan terakhir Spider-Man: Far From Home masih di Kuningan City. Jika dihitung sejak setelah Venom maka ada tujuh film yang udah ditonton, satu di tahun 2018 dan enam di tahun 2019.

Nggak ngebahas semua film yang udah ditonton itu cuma hanya akan memberi catatan pada setiap filmnya. Mary Poppins Returns filmnya memuaskan, melebihi ekspektasi. Tadinya memperkirakan bakal biasa-biasa aja ternyata malahan mengesankan, nggak mengecewakan. Lagu-lagunya juga bagus meskipun belum jadi legendaris seperti lagu-lagu di Mary Poppins. Satu hal, Mary Poppins ini entah nggak bisa tua atau awet muda.

Dari ketujuh film itu, dua film, Aquaman dan Shazam! adalah film yang keenam dan ketujuh dari DC Extended Universe dan tiga film, Captain Marvel, Avengers: Endgame, serta Spider-Man: Far From Home adalah film ke-21, 22, dan 23 dari Marvel Cinematic Universe. Untuk DCEU nunggu film kedelapan tayang dan untuk MCU nunggu film ke-24, Black Widow, tayang. Cuma kalau kayak serial MCU gitu buat nunggu Black Widow tahun depan rasanya kelamaan, apalagi sepertinya masih banyak film-film lanjutan lainnya yang akan tayang. Kalau setiap tahunnya bisa tayang empat film oke juga, sebagai yang nonton bakalan seneng.

John Wick: Chapter 3 - Parabellum adalah lanjutan langsung dari John Wick: Chapter 2. Di film ini baru tau ternyata John Wick bisa berbahasa Indonesia juga, di film bilangnya "sampai jumpa", hehe...

Jadi, demikian film-film yang ditonton hingga saat ini, semuanya nggak mengecewakan, nggak merasa sia-sia meluangkan waktu untuk nonton film-film itu. Kalau untuk film apa yang akan ditonton selanjutnya masih belum ditentukan, hopefully dalam waktu dekat ada film(-film) bagus yang bisa ditonton. Dan karena hari ini hari Senin, happy Monday, folks! ;-)

Monday, August 26, 2019

Let's Start With Monday!

Seperti yang udah ditulis pada blog sebelumnya, maka sebagai awalan tulisan di blog ini yaitu adalah kenapa bikin blog lagi. Sebenernya nggak ada rencana buat bikin blog lagi, baru terpikir setelah layanan Google+ di-discontinued alias ditutup. Itu juga mulanya cuma baru berpikir buat cari ganti dari Google+, belum berencana bikin blog lagi.

Mencari pengganti Google+ itu gampang-gampang sulit, kalau cuma mau gampangnya sih pindah aja ke instagram karena Google+ selama ini hanya dipake buat upload foto. Akan tetapi sebagai seorang yang punya selera nggak umum *ngaku-ngaku* nggak begitu berminat buat menggunakan instagram kecuali memang udah nggak ada pilihan lain lagi. Setelah lumayan lama mencari-cari akhirnya dapet juga. Yang menjadi pilihan sebagai pengganti yaitu picsart, picsart.com/u/setyop.

Nah, saat mencari-cari pengganti Google+ itulah jadi kepikiran juga buat bikin blog lagi. Bikinnya masih di blogspot juga karena belum ada suatu alasan yang menyebabkan buat pindah ke wordpress misalnya. Yang juga bikin agak mikir yaitu soal nama blog, tapi untuk soal nama ini nggak bikin repot, hanya dengan tidak menggunakan huruf p pada awal nama blog sebelumnya, dari psetyowardono ke setyowardono. Sebelumnya kan juga udah ada pisetyowardono, sekarang juga masih ada sih. Jadi untuk soal nama blog ini kayak berurutan, dimulai dari pisetyowardono, psetyowardono, dan setyowardono.

Alasan lain, karena dengan pindah dari Google+ ke picsart ini berarti udah untuk yang ketigakalinya harus mencari pengganti layanan setelah sebelumnya dulu nggak bisa lagi menggunakan haloscan dan friendster yang juga di-discontinued, diawali haloscan. Gara-gara friendster ditutup jadi aja beralih ke facebook. Kalau Haloscan bagus sebenernya, cuma sepertinya nggak begitu diminati makanya ditutup.

Padahal dulu di awal bikin Google+ juga masih belum tau mau dibuat apa. Cuma pengen tau fitur-fitur yang ada di Google+, setelah lama baru menjadikan Google+ buat tempat majang foto karena terhubung dengan Google Photos. Eh, baru juga dua tahun menuju ke tiga tahun layanannya ditutup, padahal penggunaannya nggak sulit, cuma aja timeline fotonya jadi kayak nggak berurutan sebab penempatan dari fotonya setelah di-publish.

Jadi, begitulah alasannya kenapa bikin blog lagi. Bukan sesuatu yang rumit. Kalau untuk soal yang jadi bahasan tulisan, nggak dikhususkan untuk topik tertentu, yang umum-umum. Bebas-bebas dan suka-suka aja. Bisa dari yang nggak penting ke yang nggak penting banget.

Dan pada hari Senin ini tulisan pertama di-publish, kenapa Senin ya karena Senin kan adalah hari pertama dan sekaligus juga hari kerja pertama. Kalau tulisan terakhir di blog sebelumnya di hari Jumat itu sengaja dipilih karena Jumat adalah hari kerja terakhir. Makanya ada istilah "Thank God It's Friday" dan "I don't like Monday". Tapinya untuk Senin, I like Monday sih, bukan I don't like ;-)

Kemudian, sehubungan dengan ungkapan "Every story has an end. But in life, every ending is just a new beginning", maka mulai dari sekarang udah menyatakan akan pamit dari dunia per-blog-an pada tahun 2023. Tepatnya pada 7 Agustus 2023. Jadi pada hari itu tulisan terakhir di blog ini akan di-publish. Ya kan nggak mungkin juga nulis blog selamanya. Tentu dengan catatan, jika blogspot nggak di-discontinued misalnya, atau ada hal-hal lainnya yang mempengaruhi kontinuitas penulisan blog ini. In the mean time, before that day comes, live life to the fullest. Also, for those who read my blog, enjoy! ;-)

Featured Post