Monday, November 29, 2021

'We Belong To You And Me'

Masih pada soal sekolah atau kuliah, di RPI memang banyak tersedia lab komputer tapi tetep perlu punya komputer sendiri sih, sebabnya males juga kalau di saat musim dingin harus sering-sering ke kampus, kecuali kalau lagi ada tugas kelompok. Hawanya dingin banget! Mana bajunya harus yang berlapis gitu supaya nggak kedinginan, ribetlah untuk keluar apartemen di saat musim dingin.

Untuk komputer saat di Troy OS-nya Windows sebabnya biar bisa bawa software bajakan dari Indonesia, hehe... Pada jaman-jaman itu software bajakan adalah hal yang lumrah di Indonesia, selain dari harganya yang udahlah murah banget kehandalannya nggak kalah dibanding dengan yang asli. Di RPI juga dijual software khusus untuk mahasiswa dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan versi umum yang dijual di pasaran meskipun spesifikasinya nggak ada perbedaan, cuma tetep aja tentunya masih lebih murah yang versi bajakan.

Di Troy beli komputernya secara mail order. Waktu itu roommate yang ngajakin buat beli di awal-awal baru pindahan, jadi belinya barengan dan jenis komputernya sama. Beliau ini di kelak kemudian hari pernah menjadi presdir bank MNC.

Makanya selalu menyempatkan diri untuk pulang ke Indonesia setiap liburan supaya bisa bawa barang-barang dari Indonesia ke Amerika dan juga bawa barang-barang yang udah nggak bakalan digunakan lagi di Amerika ke Indonesia. Kalau yang dibawa dari Indonesia banyaknya makanan seperti mie instan dan jenis makanan-makanan kering yang awet. Mie instan sungguhlah nikmat dimakan pagi-pagi sebelum kuliah di saat musim dingin. Di musim dingin buat kuliah paling pagi tetep aja mulainya jam tujuh.

Gimana dengan saat kuliah di ITB? Sewaktu kuliah di ITB baru punya komputer setelah di tingkat sarjana pada saat kos di Tengku Angkasa. Sebelumnya kalau perlu komputer numpang di komputer mantan temen kos di Sulanjana, ITB juga, seangkatan juga, tapi jurusan Teknik Kimia, yang kemudian nggak ngekos lagi oleh karena ikut ortunya yang pindah ke Bandung. Makasih banget!

Punya komputer di tingkat sarjana merupakan suatu keharusan karena untuk bikin TA alat utamanya adalah komputer. Makanya mau nggak mau, suka nggak suka, ya harus beli komputer. TAnya waktu itu bikin program simulasi untuk metode elemen hingga. Sangat berterima kasih kepada pak Satryo Soemantri Brodjonegoro yang telah bersedia menjadi dosen pembimbing TA yang mana merupakan syarat untuk memperoleh gelar insinyur.

Sangat berterima kasih juga kepada pak Satryo karena telah bersedia juga memberikan rekomendasi untuk melanjutkan sekolah di Amerika. Surat rekomendasi juga diperlukan sebagai satu dari berbagai macam syarat lainnya seperti misalnya TOEFL dan GMAT buat sekolah bisnis atau manajemen. Apalagi indeks prestasi pada saat lulus dari ITB nggak bagus-bagus amat, hanya 2.4 sekian, banyaknya dapet nilai C. Kalau di RPI sih indeks prestasinya tiga lebih sebabnya kalau dibawah tiga nggak bisa dinyatakan lulus, nilai C cuma dapet sekali.

 

'You're a taste of the ever-changing seasons
Tellin' me there are some things that don't end
We have left all the darkness far behind us
All those hopes that we had along the way
Have made it to this day
Like an old love song gone for much too long
You hear it once again and it carries you away'

Sunday, November 14, 2021

Beyond Expectation

Jadi, semasa sekolah di Amerika sungguh merupakan masa-masa yang menyenangkan. Nggak berekspektasi bahwa akan menyenangkan tetapi ternyata malahan boleh dibilang that was the best two years of my life. Niatnya memang untuk bersekolah, cuma yang diperoleh bukan sekedar ilmu, banyak hal lain juga. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

Milih ke RPI juga karena pengen merasakan menetap di tempat yang bersalju pada saat musim dingin. Merasa sayang jika udah jauh-jauh ke Amerika tapi nggak di tempat yang bersalju. Selama di Amerika dapet dua kali musim bersalju, lumayan juga. Dulu dibela-belain buat nunggu saljunya muncul setelah ada pemberitahuan dari ramalan cuaca. Tapi memang salju di awal-awal musim dingin itu bener-bener mempesona.

Pernah juga ngeliat daratan yang tertutup salju, dalam hal ini NYC, dari pesawat saat ke Amerika lagi setelah pulang untuk berlibur sejenak ke Indonesia, merasa takjub. Sempat dua kali pulang ke Indonesia saat libur musim dingin.

Hal lain, bisa kenal dengan orang dari berbagai tempat. Di RPI selain yang dari Amerika, international student jumlahnya juga lumayan. Tapi kalau untuk international student, di RPI yang paling banyak berasal dari Indonesia, awalnya ada lima orang cuma kemudian yang satu pindah ke San Francisco karena pengen pindah ke kota yang lebih besar dan rame. Sebelumnya udah kuliah di Amerika juga untuk S1nya, di Syracuse.

Gimana rasanya sekolah di RPI? Meskipun bukanlah tergolong sekolah yang paling top di Amerika tapi fasilitasnya oke punya. Sebagai contoh RPI punya lab komputer yang bisa dipergunakan oleh setiap mahasiswa di berbagai tempat, suatu hal yang tidak tersedia pada saat kuliah di ITB. Banyaknya Unix based, ruangan yang khusus untuk Macintosh juga ada. Windows ada tapi jarang, selama di RPI cuma ke lab Unix dengan Macintosh.

Ilmu yang diperoleh dari RPI pulalah yang ternyata kemudian malahan banyak digunakan di pekerjaan, padahal niatnya cuma untuk menambah wawasan, demi untuk melengkapi ilmu yang didapat saat kuliah di ITB. Alhamdulillah sih karena itu artinya nggak sia-sia sekolah jauh-jauh ke Amerika, kan? ;-)

Featured Post