Jangan menilai sesuatu dari tampak luarnya atau dari penampilannya, idiom yang udah sangat umum yang mana hampir setiap orang tentu tau. Dan memang di tulisan kali ini sebagai bahasan adalah soal idiom tersebut berdasarkan pengalaman saat melakukan ibadah haji dulu. Masih belum terlalu lama kok, cuma sekitar 25 tahun yang lalu, hehe... :-p
Hanya beberapa hal yang mau dibahas, nggak banyak. Dan sebelum dimulai, ada juga yang akan dibahas disini tapi udah pernah dibahas di blog sebelumnya, diulang tapi dari perspektif yang lain.
Sebagai pengantar, ibadah hajinya pada saat itu yang haji biasa, bukan yang plus apalagi yang plus plus, totalnya sekitar 30 hari dengan kloter yang awal-awal dan berangkatnya melalui embarkasi Balikpapan. Dari pengalaman berhaji, berangkat di awal-awal kurang mengenakkan sih karena harus pinter-pinter jaga stamina supaya nggak loyo pada saat melakukan ibadah haji yang ada diujung.
Sebagai bahasan yang pertama yaitu berhubungan dengan hal menjaga stamina. Ibadah haji merupakan ibadah fisik, makanya stamina harus dijaga dan diperhatikan. Jadi pada saat itu udah semingguan menjelang dilaksanakannya ibadah haji, dan pada suatu sore merasa agak pusing. Agar pusingnya nggak berkelanjutan lalu pergi ke apotek buat beli obat seperti yang biasa dibeli di Indonesia kalau merasa agak pusing.
Setelah minum obat memang nggak pusing lagi tapi kemudian malah jadinya mengalami alergi. Padahal saat meminum obat yang sama di Indonesia nggak pernah mengalami alergi. Ternyata, meskipun merek sama tapi efek yang ditimbulkan tidaklah sama, masih ada lanjutannya. Dapet obat buat alergi dari dokter rombongan.
Berikutnya, justru malah nggak pengen liat atau tau lebih lanjut, cukup hanya dengan tau tampak luarnya aja. Peristiwanya saat itu pada suatu siang di tempat penginapan di Mekkah selagi menunggu waktu untuk pergi ke Masjidil Haram buat shalat ashar. Lagi baca-baca sendirian di kamar. Sebagai catatan, kamarnya ditempati oleh sepuluh orang yang masing-masing lima perempuan dan lima laki-laki.
Saat lagi baca-baca tetiba seorang ibuk-ibuk, masih muda juga, yang juga menempati kamar yang sama masuk. Wajar si ibuk masuk kamar karena memang tempatnya juga. Yang bikin tercengang adalah ternyata ibuk itu mau ganti baju. Taunya pada saat udah mau mengangkat baju yang dipake.
Tapi nggak ngeliat saat ibuk itu ganti baju sih, ngelirik aja enggak. Bisa merepotkan. Jadi si ibuk mengganti baju as if I wasn't there, mungkin yang lagi baca buku dikiranya ghost, hehe... Setelah selesai ganti baju kemudian keluar kamar dengan lempengnya. Menjadi misteri mengapa ganti baju di kamar karena biasanya pada ganti baju di kamar mandi.
Berikutnya lagi, terjadi di bandar udara Tjilik Riwut, Palangkaraya saat udah pulang ke Indonesia lagi setelah selesai melakukan ibadah haji. Waktu itu bareng dengan anggota rombongan yang lain akan menuju pintu keluar. Pada saat memasuki suatu ruangan tiba-tiba dihampiri seseorang yang mengatakan bahwa yang dibolehkan di ruangan itu hanya yang baru pulang berhaji.
Dapat dimaklumi sebabnya kostum yang dipake nggak kayak anggota rombongan lain yang menggunakan kostum ala timur tengah. Saat itu kostumnya hanyalah baju kaos kerah dengan celana kain yang nggak ada sama sekali nuansa timur tengahnya.
Tak hendak mengatakan sebagai anggota rombongan juga, dan bersiap meninggalkan ruangan. Tapi sebelum meninggalkan ruangan ternyata ada anggota serombongan yang tau dan bilang jika termasuk anggota rombongan juga. Lalu diperbolehkan untuk keluar berbarengan dengan anggota rombongan lainnya. Looks can be deceiving.
Jadi begitulah sekelumit pengalaman yang berhubungan dengan judul tulisan ini pada saat melakukan ibadah haji dahulu. Semoga yang lagi pada galau atau pusing dapat terhibur juga ;-)