Monday, August 24, 2020

In Between

Selain pernah menetap di enam kota yang dibahas pada tulisan yang lalu, tujuh karena Jakartanya di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur, juga pernah menetap di dua kota dan satu kota yang rutin dikunjungi setiap weekdays di Amerika. Covina dan Glendora di California, dan Troy di New York. Yang dikunjungi setiap weekdays adalah Glendora sebab saat itu lagi belajar di sana, LCP International Institute yang berlokasi di Citrus College. Di Covina alamatnya di Greenhaven Street dan di Troy di 21st Street. Kalau kebetulan lagi ada di daerah situ boleh juga ditilik-tilik, hehe...

Kota-kota tersebut pernah dibahas di blog sebelumnya, jadi kalau dulu sering bacanya pasti udah tau. Di blog ini hanya melengkapi, ngebahas hal-hal yang belum dibahas. Di Covina dan Glendora nggak lama, cuma sebentar, sekitar tiga bulan, kalau di Troy sekitar dua tahun. Enak mana, di pantai Barat atau di pantai Timur? Saat itu lebih suka di pantai Barat kalau untuk kotanya, tapi sekolah yang dipilih nggak ada yang berlokasi di pantai Barat jadi harus meninggalkan Covina dan Glendora. So yeah, I left my heart in Covina and Glendora.

Bisa ke tiga kota itu gegara sewaktu masih kuliah di ITB berminat untuk melanjutkan kuliah lagi di luar negeri, terinspirasi dari adik ragil (cewek) yang udah duluan kuliah di luar negeri untuk S1nya, kuliahnya di Griffith University, Brisbane.

Mempersiapkan supaya bisa kuliah di Amerika dimulai sejak sekitar satu tahun sebelum lulus kuliah, lumayan lama ya. Lalu ngapain aja setahun kemarin itu? Yang pasti tentunya mencari informasi soal universitas di Amerika, dan karena jaman itu belum ada internet mencari informasinya melalui surat yang dikirimkan langsung ke setiap universitasnya. Yang bikin salut, hampir semua universitas yang dikirimin surat mengirimkan informasi yang diminta. Biar nggak kelamaan, ngirimnya menggunakan yang ekspres. Kantor pos ITB saat itu udah jadi langganan karena ada lebih dari seratus surat yang dikirim.

Selain ngirim surat, lainnya yaitu mengunjungi pameran universitas-universitas Amerika di Jakarta. Berangkat pagi dari Bandung sorenya pulang. Pokoknya setiap tempat yang ada informasi soal kuliah di Amerika selalu diusahakan untuk dikunjungi. Tujuannya yaitu untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin gimana kuliah di Amerika.

Tak lupa juga ikutan les bahasa Inggris supaya nggak bego-bego amat kalau ngomong Inggris. Lesnya di dua tempat, EEP dan Triad. EEP di Ganesha dan Triad di Purnawarman. Berangkat ke LCP setelah nggak sengaja sempat ngobrol dengan owner-nya Triad kalau buat kuliah di Amerika LCP bisa ngebantu untuk penempatannya. Daripada repot-repot ngedaftar dari Indonesia. Setuju dengan sarannya akhirnya daftar ke LCP melalui Triad, jadi semua dokumen termasuk tiket pesawat seharga sekitar 800 ribuan (Jakarta - Los Angeles, 8,985 mil, China Airlines), diurusin oleh Triad. Untuk bisa dapet visa juga udah didaftarin, tinggal ke kedutaan Amerika untuk wawancara pada hari yang ditentukan.

LCP ini lembaga yang dapat diandalkan, Pertamina dan bank-bank milik pemerintah juga mengirimkan pegawainya untuk kuliah S2 di Amerika melalui LCP. Pak Dirut BNI yang sekarang alumni LCP juga, cuma beliau duluan dan baru bertemu di Troy.

Karena kuliah di Amerika dimulai September, daftar ke LCP untuk yang program bulan Mei, tahun 1993. Lulus kuliahnya Oktober 1992. Jadi ya agak ribet setahun menjelang lulus karena selain harus bikin tugas akhir dan mempersiapkan diri supaya bisa pergi ke Amerika juga masih harus ngajar. Saat itu, dimulai dari semester tiga, menjadi guru privat untuk tiga orang murid (ketiganya bersaudara) dengan jadwal tiga hari setiap minggu. Ngajarnya nggak sendirian, bareng temen, pertama dengan temen sekos saat di Sulanjana, kuliah di ITB juga, Teknik Perminyakan angkatan 85 dan kemudian dengan temen sejurusan seangkatan karena temen sebelumnya lulus duluan. Muridnya waktu itu adalah putra-putra dari dokter ahli kandungan perempuan di Bandung. Waktu di Malang calon dokter sebagai wali murid.

Yang nggak disangka, ketiga orang guru privat ini ternyata semuanya berkesempatan kuliah di Amerika, yang dari Teknik Perminyakan di New Mexico Institute of Mining and Technology untuk S2 dan yang temen sejurusan seangkatan di MIT, iya betul, MIT yang terkenal itu, nggak cuma lanjut S2 tapi hingga dapet gelar ScD, bukan cuma PhD.

Terus, ngapain aja setelah lulus kuliah hingga sebelum berangkat ke Amerika? Sempat jadi pegawai berdasi gitu, kantornya di Mulia Tower Gatsu. Kos di BenHil sebelum pindah ke kompleks DPR Kalibata. Tempat kos di BenHil itu sebenernya khusus cewek, tapi boleh kos disitu sebab sebelumnya adik cewek pernah kos disitu sebelum ke Brisbane. Sempat kuliah di Atma Jaya satu semester buat mengisi waktu luang sebelum berangkat. Pindah ke kompleks DPR karena ada temennya bapak yang dapet jatah rumah tapi nggak dihuni dan ditawarin buat tinggal di sana.

Saat jadi pegawai di Jakarta juga masih punya tempat kos di Bandung, Tengku Angkasa, karena masih harus ngurus keberangkatan ke Amerika melalui Triad. Senin pagi hingga Jumat sore di Jakarta, Sabtu Minggu di Bandung. Resign dari kantor setelah udah ada kepastian untuk kapan berangkat, padahal udah suka dengan suasana kerjanya.

Monday, August 17, 2020

For Your Eyes Only

Masih mau ngelanjutin lagi bahasan saat dulu menetap di Malang. Jadi, Malang adalah kota ketiga yang pernah ditinggali setelah Tanjungkarang dan Palangkaraya. Hingga sekarang udah pernah menetap di enam kota di Indonesia, lainnya yaitu Bandung, Solo, dan Jakarta.

Kalau di Solo sebenernya karena urusan pekerjaan yang mengharuskan untuk menetap di sana. Dan karena menetapnya selama sekitar enam bulan serta saat di Solo hanya mendapatkan jatah pulang selama tiga hari pada setiap bulannya, makanya boleh juga jika dianggap sebagai menetap. Solonya waktu itu di Solo Baru.

Dari keenam kota yang pernah dan sedang ditempati itu, kota Malang adalah yang paling favorit, kemudian Tanjungkarang. Selanjutnya yaitu, Bandung, Solo, Palangkaraya, dan terakhir adalah Jakarta. Urutan ini bukan berdasarkan oleh keadaan kotanya pada saat sekarang lho ya, akan tetapi ditentukan oleh pengalaman saat menetap di kota-kota tadi.

Tanpa berpanjang lebar, Malang menjadi kota yang paling favorit karena suka dengan suasananya. Bukan hal yang mudah sebenernya tinggal berjauhan dari ortu saat masih di SMP dan berlanjut hingga SMA, tapi kondisi itu nggak begitu terasa disebabkan Malang kotanya bikin betah, merasa damai saat di Malang. Lupa pernah sedih atau enggak pada saat masih di Malang, soalnya hepi-hepi mulu.

Yang paling juara di Malang tuh makanannya. Rasanya selalu cocok di lidah meskipun terkadang di awal-awal merasa aneh ngeliat bentuk atau rupa makanannya. Sebagai contoh yaitu rawon, pertama makan rawon di rumah eyang putri di Lowokwaru gang V. Waktu itu masih menetap di Tanjungkarang, ke Malang buat nengok eyang dan kemudian dibuatin rawon. Di awal-awal ngeliat rawon yang terpikir adalah, sayur apaan nih kok warnanya butek gini. Tapi setelah dicoba ternyata rasanya enak juga dan sejak saat itu jadi suka rawon.

Bakso juga gitu, pertama kali jajan bakso diajakin kakak sepupu yang di Diponegoro, agak terheran-heran, bakso kok dikasih saus tomat. Heran soalnya di Tanjungkarang nggak pernah makan bakso yang ada saus tomatnya. Di Tanjungkarang namanya miso sih, jadi udah dicampur mie atau bihun gitu plus kecap. Kalau di Malang kan baksonya nggak harus dengan mie, kecuali kalau pesennya yang campur, mienya pasti ikutan dicemplungin juga. Seperti saat pertama makan rawon, meskipun terasa aneh awalnya tapi kemudian jadi suka juga. Witing tresna jalaran saka kulina, katanya sih gitu, kalau witing mulya jalaran wani rekasa.

Untuk makanan yang terfavorit di Malang yaitu pecel dan rujak cingur. Nggak pernah bosen setiap kali makannya. Kalau untuk pecel, dulu yang lumayan terkenal tuh pecel kawi, nggak jauh dari rumah setelah pindah ke Terusan Dieng. Bumbu pecelnya agak beda dari pecel-pecel lainnya. Untuk bakso, yang dulu sering disebut-sebut yaitu bakso stasiun, bukan karena enaknya meskipun memang enak tapi lebih ke ukuran baksonya yang gede-gede.

Yang sempat agak bikin bingung yaitu antara tahu campur dengan tahu tek sebabnya terkadang tahu tek disebut juga sebagai tahu campur. Dua-duanya enak tapi buat yang suka segeran pilihannya tentu adalah tahu campur. Satu hal, di Malang nama martabak manis nggak dikenal, taunya terang bulan. Nggak tau lagi kalau sekarang tapi, apakah nama martabak manis udah dikenal di Malang atau belum.

Duh, malah jadi kepengenan soto dok, soto lonceng, sama ayam goreng pemuda. Mie dempo juga.

Featured Post