Masih mau ngelanjutin lagi bahasan saat dulu menetap di Malang. Jadi, Malang adalah kota ketiga yang pernah ditinggali setelah Tanjungkarang dan Palangkaraya. Hingga sekarang udah pernah menetap di enam kota di Indonesia, lainnya yaitu Bandung, Solo, dan Jakarta.
Kalau di Solo sebenernya karena urusan pekerjaan yang mengharuskan untuk menetap di sana. Dan karena menetapnya selama sekitar enam bulan serta saat di Solo hanya mendapatkan jatah pulang selama tiga hari pada setiap bulannya, makanya boleh juga jika dianggap sebagai menetap. Solonya waktu itu di Solo Baru.
Dari keenam kota yang pernah dan sedang ditempati itu, kota Malang adalah yang paling favorit, kemudian Tanjungkarang. Selanjutnya yaitu, Bandung, Solo, Palangkaraya, dan terakhir adalah Jakarta. Urutan ini bukan berdasarkan oleh keadaan kotanya pada saat sekarang lho ya, akan tetapi ditentukan oleh pengalaman saat menetap di kota-kota tadi.
Tanpa berpanjang lebar, Malang menjadi kota yang paling favorit karena suka dengan suasananya. Bukan hal yang mudah sebenernya tinggal berjauhan dari ortu saat masih di SMP dan berlanjut hingga SMA, tapi kondisi itu nggak begitu terasa disebabkan Malang kotanya bikin betah, merasa damai saat di Malang. Lupa pernah sedih atau enggak pada saat masih di Malang, soalnya hepi-hepi mulu.
Yang paling juara di Malang tuh makanannya. Rasanya selalu cocok di lidah meskipun terkadang di awal-awal merasa aneh ngeliat bentuk atau rupa makanannya. Sebagai contoh yaitu rawon, pertama makan rawon di rumah eyang putri di Lowokwaru gang V. Waktu itu masih menetap di Tanjungkarang, ke Malang buat nengok eyang dan kemudian dibuatin rawon. Di awal-awal ngeliat rawon yang terpikir adalah, sayur apaan nih kok warnanya butek gini. Tapi setelah dicoba ternyata rasanya enak juga dan sejak saat itu jadi suka rawon.
Bakso juga gitu, pertama kali jajan bakso diajakin kakak sepupu yang di Diponegoro, agak terheran-heran, bakso kok dikasih saus tomat. Heran soalnya di Tanjungkarang nggak pernah makan bakso yang ada saus tomatnya. Di Tanjungkarang namanya miso sih, jadi udah dicampur mie atau bihun gitu plus kecap. Kalau di Malang kan baksonya nggak harus dengan mie, kecuali kalau pesennya yang campur, mienya pasti ikutan dicemplungin juga. Seperti saat pertama makan rawon, meskipun terasa aneh awalnya tapi kemudian jadi suka juga. Witing tresna jalaran saka kulina, katanya sih gitu, kalau witing mulya jalaran wani rekasa.
Untuk makanan yang terfavorit di Malang yaitu pecel dan rujak cingur. Nggak pernah bosen setiap kali makannya. Kalau untuk pecel, dulu yang lumayan terkenal tuh pecel kawi, nggak jauh dari rumah setelah pindah ke Terusan Dieng. Bumbu pecelnya agak beda dari pecel-pecel lainnya. Untuk bakso, yang dulu sering disebut-sebut yaitu bakso stasiun, bukan karena enaknya meskipun memang enak tapi lebih ke ukuran baksonya yang gede-gede.
Yang sempat agak bikin bingung yaitu antara tahu campur dengan tahu tek sebabnya terkadang tahu tek disebut juga sebagai tahu campur. Dua-duanya enak tapi buat yang suka segeran pilihannya tentu adalah tahu campur. Satu hal, di Malang nama martabak manis nggak dikenal, taunya terang bulan. Nggak tau lagi kalau sekarang tapi, apakah nama martabak manis udah dikenal di Malang atau belum.
Duh, malah jadi kepengenan soto dok, soto lonceng, sama ayam goreng pemuda. Mie dempo juga.
No comments:
Post a Comment