Monday, April 25, 2022

Ready For May!

Karena masih di suasana puasa, mau ngebahas gimana puasa, dan juga Idul Fitri tentu, di kota-kota di mana pernah bertempat tinggal. Udah pernah dibahas di tulisan-tulisan sebelumnya pernah berdomisili di kota mana aja, yaitu, sesuai urutan, Tanjungkarang, Palangkaraya, Malang, Bandung, Covina - Glendora, Troy, Solo, Jakarta Selatan, serta Jakarta Timur sebagai tempat tinggal saat ini.

Untuk yang pernah merasakan puasa serta Idul Fitri juga yaitu di kota Tanjungkarang, Palangkaraya, Malang, Troy, dan Jakarta Selatan serta Jakarta Timur. Ada enam kota. Yang hanya pernah merasakan puasa aja di kota Bandung dan Solo. Kalau sewaktu di Covina - Glendora nggak pernah merasakan gimana rasanya puasa dan Idul Fitri.

Untuk di Bandung, meskipun boleh dibilang lama menetap di Bandung, merupakan kota terlama kedua yang pernah ditempati, sekitar sebelas tahun secara penuh, sekitar tujuh tahun sebelum pergi ke Amerika dan sisanya setelah pulang dari Amerika, kemudian juga beberapa tahun berikutnya bolak-balik Jakarta - Bandung, nggak pernah satu kali pun merayakan Idul Fitri karena selalu mudik. Hanya merasakan puasanya aja.

Seperti halnya dengan di Bandung, di Solo hanya sempat merasakan puasa Ramadhan tanpa Idul Fitri, cuma sekali aja tapinya. Pengalaman paling berkesan selama berpuasa adalah setiap sahur menunya selalu nasi goreng. Untungnya tergolong sebagai penyuka nasi goreng jadinya nggak merasa bosan sahur dengan nasi goreng melulu.

Gimana rasanya puasa di Tanjungkarang? Meskipun saat itu masih SD tapi udah bisa puasa penuh semenjak kelas tiga kalau nggak keliru inget. Karena masih kecil, merasa lapar, terutama merasa haus adalah suatu hal yang wajar, tapi nggak menjadi halangan apalagi cuaca di Tanjungkarang boleh dibilang sejuk. Sempat juga merasakan sekolah diliburkan selama bulan puasa. Dibeliin baju baru juga buat Idul Fitri. Kalau pada saat Idul Fitrinya seringnya malah mainan dengan temen-temen di deket rumah. Rame dan menyenangkanlah.

Kalau sewaktu di Palangkaraya puasanya ngos-ngosan sebab cuacanya terik. Apalagi di Palangkaraya tuh tanahnya bukan tanah yang biasa akan tetapi berupa pasir kayak di pantai, cuma nggak ada lautnya aja, sehingga bikin cuaca lebih terik lagi. Untungnya sih setelah sekolah di Malang puasa di Palangkaraya nggak selalu penuh karena baru pulang ke Palangkarayanya menjelang Idul Fitri. Sejak pindah ke Palangkaraya udah nggak ada lagi tradisi dibeliin baju baru buat Idul Fitri. Idul Fitri di Palangkaraya repot sebab banyak yang berkunjung, dan diperbantukan jadi tukang cuci piring gelas.

Berikutnya kota Malang, tempat paling enak untuk berpuasa dan ber-Idul Fitri meskipun waktu di SMA dapet tugas buat mencatat khotbah tarawih dan harus ditandatangani oleh yang jadi penceramah. Pernah sekali Idul Fitri sendirian di Malang karena nggak sempat pulang ke Palangkaraya sebab harus mengerjakan sesuatu dulu di Bandung, jadi pulang ke Malangnya juga udah menjelang Idul Fitri. Waktu itu masih kuliah di ITB.

Untuk pengalaman puasa dan Idul Fitri di negeri orang yaitu pada saat di Troy. Rasanya biasa aja, tapi beruntung waktu itu jadwal puasanya di musim dingin jadi nggak terasa berat, selesai sahur jam enam pagi dan jam lima sore udah buka. Terkadang ikut shalat tarawih berjamaah di tempat orang Indonesia juga yang sekolah di sana. Idul Fitri nggak libur jadi kalau kebetulan ada kelas ya harus bolos kalau mau ikutan shalat. Acara Idul Fitrinya bukan saling kunjung-mengunjungi tapi ngumpul-ngumpul.

Untuk yang di Jakarta nggak usah dibahas karena sekarang kan puasa juga di Jakarta, hehe...

Selanjutnya, karena minggu depan udah Idul Fitri, mengucapkan 'minal aidin wal faidzin, maafkan lahir dan batin'. May you all have a great Idul Fitri holidays!

Monday, April 4, 2022

"April Love"

Senin pertama pada puasa hari kedua karena mulai berpuasa di hari ketiga bulan yang keempat. Gimana, kalimatnya udah berima belum? Hehe... Jadi, karena mulai puasanya Minggu kemarin maka jumlah hari puasa di April ini adalah sebanyak 28 hari. Kalau yang mulainya Sabtu ya puasanya 29 hari. Nggak apa-apa sih, toh nanti Idul Fitrinya sama-sama di bulan kelima, hehe...

Karena puasa udah menjadi kebiasaan sejak dulu maka nggak begitu menganggap puasa sebagai suatu hal yang teristimewa. Lapar dan haus juga nggak begitu terasa meskipun nggak makan dan minum sejak dari Subuh hingga Maghrib. Karena boleh dibilang nggak mendapatkan lapar dan haus semoga bisa mendapatkan yang lebih berharga, amin!

Untuk makanan atau minuman juga nggak menyiapkan sesuatu yang spesial atau khusus juga buat sahur ataupun buka. Lagian males juga sih karena semuanya harus nyiapin sendiri soalnya di rumah nggak ada yang bisa bantu-bantu kayak asisten gitu. Makanya diusahakan yang sepraktis mungkin.

Repot nggak kalau nggak ada yang bantu-bantu? Ya repot juga tentu, kan nggak cuma nyiapin sahur atau buka aja, nyapu, ngepel, dan hal-hal lainnya juga harus dilakukan sendiri. Sebagai contohnya, nyetrika baju jam empat pagi meskipun nggak gitu banyak yang harus disetrika karena di rumah cuma berdua dengan ibuk. Bangun tidur kalau pengen minum kopi atau teh harus bikin sendiri dulu. Cuma karena udah jadi kebiasaan jadinya nggak terlalu berasa kerepotan. Untungnya, nggak perlu pusing dengan acara asisten pulang kampung atau mudik.

Udah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah sedari masih kecil, udah gape lah. Dulu jaman masih SMP dapet kerjaan buat ngepel dan setrika baju setiap pulang libur sekolah ke Palangkaraya. Memasak juga bukan suatu hal yang sulit, seperti misalnya masak nasi, masak air, atau juga masak mie instan. Masaknya yang ringkes-ringkes, jadinya nggak bikin dapur kayak masak abis buat kenduren, hehe...

'1 2 3 4 come on baby say you love me, 5 6 7 times'

Featured Post