Idul Fitri udah hampir sebulan berlalu, akan tetapi viruskorona belum juga berlalu. Lalu, kapankah viruskorona akan berlalu? Entahlah, tapi kalau mengacu pada guyonan jadul, untuk tau jawabannya tanya aja pada rumput yang bergoyang, hehe... :-p
Untuk soal viruskorona ini, karena penularannya nggak secara airborne (meskipun ada kemungkinan secara airborne bisa juga), jadinya mirip-mirip seperti obat anti rayap. Membunuh rayap itu mudah, disemprot dengan obat nyamuk rayap bisa langsung mati, tapi untuk membasmi rayap adalah persoalan lain. Membasmi rayap bukanlah hal yang mudah karena rayap sukanya nyumput-nyumput, sehingga kalau nggak dibasmi dengan tuntas maka rayapnya akan muncul lagi muncul lagi. Ngeselin kan?
Nah, obat anti rayap tuh berfungsi untuk membasmi kawanan rayap supaya nggak perlu repot-repot buat nyari dimana sih sarang kawanan rayapnya. Cara kerjanya yaitu cukup dengan menginfeksi satu rayap aja maka rayap itu akan menginfeksi rayap-rayap yang lain hingga mati. Tempatin aja obat anti rayap itu didaerah rayap biasa berlalu lalang, begitu ada rayap yang terpapar maka rayap itu pasti akan menginfeksi rayap yang lain karena rayap suka gaul. Metode getok tular gitu kalau bahasa jadulnya, atau "jangan berhenti di kamu" bahasa kekiniannya. Katanya Frank Sinatra 'start spreadin' the news'. Mirip viruskorona kan?
Makanya jadi make sense kalau ada seruan jangan berkerumun, jaga jarak, memakai masker, dan sebagainya sebagai upaya pencegahan untuk nggak ditulari atau menulari. Oleh karena sifat dari penularan viruskorona itu tadi yang mirip-mirip obat anti rayap. Bedanya, rayap nggak pernah tau kalau dirinya terpapar obat anti rayap, kalau manusia bisa tau apakah seseorang terpapar viruskorona atau enggak, sehingga tindakan untuk pengobatan bisa dilakukan.
Obat untuk yang terinfeksi viruskorona memang belum tersedia, tapi di Inggris Ibuprofen diujicobakan untuk kasus yang terinfeksi viruskorona. Ibuprofen yang diujicobakan bukan yang biasa beredar di pasaran tapi, cuma kalau sifatnya masih ada anti nyerinya nggak ada salahnya yang biasa beredar di pasaran digunakan untuk pengobatan mandiri.
Ibuprofen cukup aman untuk dikonsumsi, atau kalau mau yang lebih aman Paracetamol, buat anti nyeri juga seperti kalau gusi lagi nyut-nyutan atau cenut-cenut gitu. Bisa juga Sumagesic kalau mau yang 600 mg. Harganya juga murah, biasanya dijual isi sepuluh tablet. Di rumah ada sih kalau cuma Paracetamol, buat jaga-jaga. Trus jadi mikir, gimana kalau yang digunakan obat anti nyeri yang lebih kuat semisal Trampara?