Setelah dari Solo sebenernya nggak pernah berniat, berminat, ataupun berencana lanjut berkecimpung di bidang consulting buat software yang udah gagal diimplementasikan itu. Tetapi kenyataannya nggak jadi gitu setelah direkomendasikan sebagai konsultan oleh principal software di Auckland ke suatu pabrik di Cikarang, perusahaan multinasional, karena mereka merasa nggak puas dengan kinerja dari konsultan yang telah dikontrak sebelumnya.
Pabrik itu punya kantor cabang di Bandung dan Surabaya, dan diminta untuk bertemu dengan FA manager-nya di kantor cabangnya pada saat berkunjung ke Bandung. Secara prinsip disetujui dan kemudian diminta untuk berkunjung ke pabriknya yang di Cikarang guna bertemu dengan presdirnya. Disetujui juga oleh presdirnya dan selanjutnya bikin kontrak kerjanya selama setahun.
Nggak sia-sia juga ternyata hasil ngoprek selama enam bulan di Solo karena jadi ngerti gimana dengan alur software-nya. Makanya untuk pabrik itu nggak pernah mengalami kesulitan yang berarti dalam hal pengembangan ataupun perawatannya. Yang agak bikin repot palingan saat kemudian harus meng-upgrade existing report karena nggak punya programmer. Pada perjalanannya, pabrik di Cikarang ini adalah yang terlama menjadi klien, mengalami menjadi konsultan untuk dua presdir dan tiga FA manager.
Ada pengalaman lucu dengan FA manager-nya pada saat akan ke kantor cabangnya di Surabaya selama dua hari. Karena pesawatnya pagi jam enam maka janjianlah buat ketemuan di Soekarno-Hatta. FA manager-nya datengnya udah menjelang boarding gitu, jadilah yang terakhir buat naik ke pesawat.
Nah, karena masuk pesawatnya nggak lewat aerobridge alias harus naik tangga, saking terburu-burunya pak FA manager keliru naik tangga ke pesawat dong, harusnya tangga pesawat yang kedua ini di tangga yang pertama udah main naik aja. Kebetulan waktu itu ada di belakang pak FA manager jadi langsung bilang kalau bukan itu pesawatnya tapi yang satunya lagi. Setelah kejadian itu jadinya pengen ketawa tapi gimana, akhirnya ketawa dibatin aja. Setiap kali keinget peristiwa itu bawaannya jadi pengen ketawa.
Udah gitu di Surabaya diajakin wiskul mulu sama kacabnya, memang sih makanan di Surabaya enak-enak tapi bikin ketar-ketir karena waktu di kantornya kan jadi sebentar, kuatirnya kerjaannya malah nggak selesai. Tapi alhamdulillah semua berjalan lancar sesuai rencana. Di Surabaya nginepnya di Elmi yang merupakan hotel favorit meskipun cuma bintang tiga.
Pengalaman lain yang masih berhubungan dengan Surabaya, pernah pagi-pagi berangkat ke Surabaya, kali ini sendirian, dan pulang sorenya ke Jakarta. Ke Surabaya hanya buat diomel-omelin dirut suatu BUMN gegara pak dirut itu masih belum merasa puas dengan hasil kerja tim yang ke Surabaya. Di sana cuma nggah-nggih aja, atau dengan bahasa populer, gimana teteh aja lah. BUMN ini juga menggunakan software yang sama untuk akuntansinya. Nggak ikutan terlibat akan tetapi ikut bertanggung jawab, jadinya ya gitu deh. Bukanlah merupakan suatu persoalan sih, yang terutama kan setelah itu kontraknya diperpanjang, hehe...
Berkah dari diomel-omelin pak dirut adalah waktu pulang ke Jakarta dapet penerbangan yang lebih awal. Jadi pada saat check in ternyata untuk pesawat yang lebih awal masih open dan masih tersedia kursi kosong, kemudian ditawari untuk pindah ke pesawat yang lebih awal. Langsung setuju dong. Ohiya, maskapainya Lion Air.