Friday, October 29, 2021

"Through The Test Of Time"

Setelah dari Solo sebenernya nggak pernah berniat, berminat, ataupun berencana lanjut berkecimpung di bidang consulting buat software yang udah gagal diimplementasikan itu. Tetapi kenyataannya nggak jadi gitu setelah direkomendasikan sebagai konsultan oleh principal software di Auckland ke suatu pabrik di Cikarang, perusahaan multinasional, karena mereka merasa nggak puas dengan kinerja dari konsultan yang telah dikontrak sebelumnya.

Pabrik itu punya kantor cabang di Bandung dan Surabaya, dan diminta untuk bertemu dengan FA manager-nya di kantor cabangnya pada saat berkunjung ke Bandung. Secara prinsip disetujui dan kemudian diminta untuk berkunjung ke pabriknya yang di Cikarang guna bertemu dengan presdirnya. Disetujui juga oleh presdirnya dan selanjutnya bikin kontrak kerjanya selama setahun.

Nggak sia-sia juga ternyata hasil ngoprek selama enam bulan di Solo karena jadi ngerti gimana dengan alur software-nya. Makanya untuk pabrik itu nggak pernah mengalami kesulitan yang berarti dalam hal pengembangan ataupun perawatannya. Yang agak bikin repot palingan saat kemudian harus meng-upgrade existing report karena nggak punya programmer. Pada perjalanannya, pabrik di Cikarang ini adalah yang terlama menjadi klien, mengalami menjadi konsultan untuk dua presdir dan tiga FA manager.

Ada pengalaman lucu dengan FA manager-nya pada saat akan ke kantor cabangnya di Surabaya selama dua hari. Karena pesawatnya pagi jam enam maka janjianlah buat ketemuan di Soekarno-Hatta. FA manager-nya datengnya udah menjelang boarding gitu, jadilah yang terakhir buat naik ke pesawat.

Nah, karena masuk pesawatnya nggak lewat aerobridge alias harus naik tangga, saking terburu-burunya pak FA manager keliru naik tangga ke pesawat dong, harusnya tangga pesawat yang kedua ini di tangga yang pertama udah main naik aja. Kebetulan waktu itu ada di belakang pak FA manager jadi langsung bilang kalau bukan itu pesawatnya tapi yang satunya lagi. Setelah kejadian itu jadinya pengen ketawa tapi gimana, akhirnya ketawa dibatin aja. Setiap kali keinget peristiwa itu bawaannya jadi pengen ketawa.

Udah gitu di Surabaya diajakin wiskul mulu sama kacabnya, memang sih makanan di Surabaya enak-enak tapi bikin ketar-ketir karena waktu di kantornya kan jadi sebentar, kuatirnya kerjaannya malah nggak selesai. Tapi alhamdulillah semua berjalan lancar sesuai rencana. Di Surabaya nginepnya di Elmi yang merupakan hotel favorit meskipun cuma bintang tiga.

Pengalaman lain yang masih berhubungan dengan Surabaya, pernah pagi-pagi berangkat ke Surabaya, kali ini sendirian, dan pulang sorenya ke Jakarta. Ke Surabaya hanya buat diomel-omelin dirut suatu BUMN gegara pak dirut itu masih belum merasa puas dengan hasil kerja tim yang ke Surabaya. Di sana cuma nggah-nggih aja, atau dengan bahasa populer, gimana teteh aja lah. BUMN ini juga menggunakan software yang sama untuk akuntansinya. Nggak ikutan terlibat akan tetapi ikut bertanggung jawab, jadinya ya gitu deh. Bukanlah merupakan suatu persoalan sih, yang terutama kan setelah itu kontraknya diperpanjang, hehe...

Berkah dari diomel-omelin pak dirut adalah waktu pulang ke Jakarta dapet penerbangan yang lebih awal. Jadi pada saat check in ternyata untuk pesawat yang lebih awal masih open dan masih tersedia kursi kosong, kemudian ditawari untuk pindah ke pesawat yang lebih awal. Langsung setuju dong. Ohiya, maskapainya Lion Air.


'So we'll take it one day at a time
And leave all our worries behind
No matter which road that we choose
As long as we got each other
No way we're gonna lose
We can make it through love
Through the test of time' 

Wednesday, October 20, 2021

After A While

Pertama-tama, vaksinasi kedua udah beres, sembilan minggu setelah vaksinasi pertama selesai dilakukan. Seperti yang pertama, nggak ada keluhan apa-apa setelah selesai divaksin. Dan sebagai bahasan untuk tulisan kali ini adalah, ngapain sih selama enam bulan di Solo? Kenapa harus menetap buat sementara di Solo?

Jawabannya adalah karena harus mengimplementasikan suatu software ERP, ERP-nya bukan Electronic Road Pricing tetapi Enterprise Resource Planning. Bisa ikutan karena ada yang menginformasikan kalau untuk proyek itu membutuhkan konsultan dan ditawari untuk gabung.

Setelah menyatakan berminat, pada hari yang telah ditentukan pergi ke Jakarta buat wawancara (saat itu menetap di Bandung) yang bertempat di bank Upindo dan kemudian diterima untuk ikut sebagai anggota tim. Sebagai catatan, sedari awal hingga tiba di Solo nantinya, nggak ngerti sama sekali bahwa pekerjaan utamanya adalah implementasi perangkat lunak ERP karena informasi awalnya adalah untuk soal perencanaan (dan juga implementasinya tentu) tata letak. Memang ada untuk soal tata letak ini tapi sekunder.

Singkat cerita, ada empat orang yang akan menetap di Solo selama enam bulan. Saat itu sebagai orang ketiga, pimpronya lulusan Farmasi ITB, masih relatable dengan proyeknya yang di pabrik permen. Merek permennya cukup terkenal saat itu, sekarang juga masih ada sih di pasaran.

Di Solo baru tau ternyata yang harus dikerjakan adalah implementasi suatu ERP software dalam hal ini untuk process manufacturing. Jadi pabrik itu udah punya software-nya beberapa lama tapi tim Teknologi Informasi internalnya nggak bisa mengimplentasikan sendiri. Memang biasanya untuk software kayak gitu belinya termasuk implementasinya juga, dan padahal sebelumnya pun udah mengimplementasikan satu modul accounting software, General Ledger, dengan konsultan yang memberi saran untuk membeli process manufacturing software itu.

Persoalannya adalah, keempat orang ini nggak ada yang pernah tau soal implementasi perangkat lunaknya meskipun punya latar belakang yang mendukung. Orang kedua mengerti soal basis data dan orang keempat lulusan Teknik Industri yang baru lulus. Dan sebagai orang ketiga dapet jatah buat mempelajari software-nya selama satu bulan, yup satu bulan, untuk kemudian melakukan transfer knowledge. Pusing pala Barbie dah.

Pertanyaan yang muncul saat menghadapi layar komputer, harus mulai dari mana nih? Maksudnya, sebelum memulai kan harus tau dulu ujung pangkalnya karena kalau nggak tau data apa yang harus diisi di awal ya software-nya nggak akan bisa digunakan. Dari situ jadi tau bahwa ada dua jenis data, statis dan dinamis, dan yang harus diisi lebih dulu adalah data statis. I'm not going into detail karena pasti bahasannya bakalan panjang banget.

Setelah beberapa saat proyek berjalan, terjadi insiden data hilang yang lumayan bikin heboh. Sebenernya bukan datanya yang hilang tapi file-nya yang terhapus karena folder aplikasi software-nya dikosongkan untuk di-install ulang. Udah gitu mereka nggak bikin backup-nya, jadi ya wassalam. Gara-gara kasus itu orang kedua dari tim terpaksa untuk dipulangkan. Hingga akhir proyek (yang jadinya nggak selesai) tersisa tiga orang, orang ketiga jadi kedua dan yang keempat jadi yang ketiga.

Proyek ini beneran bikin senewen, mana sempat kena herpes di daerah sekitar perut, untungnya cepet diobati jadi nggak parah. Entah ketularan dari mana. Pernah juga kena radang tenggorokan parah, dan terakhir yaitu gejala demam tifoid sehingga harus rehat selama dua minggu.

Sebab di awal belum ngerti alur software-nya, jadi sering konsultasi dengan principal software-nya untuk wilayah Asia Pasifik di Auckland melalui surel pada saat setiap pulang ke Bandung (thanks to Melsa). Kalau software-nya buatan Amerika, tergolong bagus sebenernya, kalau dikasih nilai A- lah. Harga nggak begitu mahal (sekitar 1,500an dolar setiap modul) dan nggak ribet dari segi perawatan. Oleh karena sering berkirim surel dengan principal yang di Auckland ini, di kelak kemudian hari direkomendasikan untuk menjadi konsultan software itu di suatu pabrik di Cikarang.

Manufacturing software yang dibeli oleh pabrik permen itu udah lengkap tapi sulit untuk diimplementasikan karena nggak diintegrasikan dengan accounting software yang udah dibeli duluan. Masih perlu dua modul lagi (Accounts Payable dan Accounts Receivable) supaya bisa diintegrasikan dengan manufacturing software-nya.

Di Indonesia udah lumayan banyak juga yang menggunakan software-nya. Pabrik yang bikin Oreo juga dulunya menggunakan software itu sebelum digantikan oleh software yang lain. Kok tau? Sebab pernah dua tahun di sana sebagai konsultan pengembangan dan perawatan sistem. Memanglah betul ujaran peribahasa bahwasanya kegagalan itu adalah kesuksesan yang tertunda ;-)

Featured Post