Sebelum ke pokok bahasan, mau update dulu kondisi terkini. Jadi, cuaca Jakarta hingga tulisan ini di-publish masih diselimuti mendung, sehingga masih harus waspada terhadap kemungkinan terjadinya lagi antrian air. Sementara antrian air masih mungkin terjadi, belum lama ini direpotkan juga dengan adanya kasus Covid-19 alias viruskorona. Oh Em Ji. Satu hal belum beres udah disusul dengan hal lain.
Yang bikin kuatir adalah, jangan-jangan setelah ini ada hal lainnya lagi yang menyusul. Tapi semoga aja enggak. Kalau antrian air tergolong kasus lokal karena nggak semua mengalami, berbeda halnya dengan viruskorona karena digolongkan sebagai kasus yang mendunia, yang mana setiap orang berpotensi untuk terkena. This. Is. Scary.
Demi untuk tidak terhampiri viruskorona, yang dilakukan pada saat ini mengusahakan diri untuk nggak keluar rumah kecuali memang harus atau mau nggak mau. Dan kalau di luar rumah selalu berusaha untuk menghindari kerumunan. Selain itu juga berupaya agar nggak capek-capek amat meskipun masih lumayan banyak hal yang mesti diberesin. Alhamdulillah, saat ini, dan juga semoga untuk seterusnya, [merasa] sehat-sehat aja. Merasa karena untuk tau terpapar viruskorona atau enggak kan harus diperiksa dulu.
Demikian update terkininya, dan sekarang ke pokok bahasannya, sesuai dengan judul, tempat-tempat yang mempunyai nilai nostalgia dan layak untuk dikenang. Di tulisan ini hanya akan dibahas yang ada di Jakarta, untuk yang di kota-kota lain, seperti Bandung misalnya, belum punya rencana untuk ngebahas.
Ada empat tempat di Jakarta selama ini yang mempunyai nilai nostalgia dan layak untuk dikenang. Yang pertama yaitu The Coffee Bean & Tea Leaf, Plaza Senayan, tempat buat ngopi paling favorit di Jakarta. Tapi sekarang udah nggak ada lagi, berganti dengan yang lain. Dulu, jaman ngopi masih belum populer dan belum banyak tempat ngopi, Starbucks juga masih sedikit, lumayan sering ke sini buat ngopi-ngopi. Tempatnya menyenangkan jadi betah buat berlama-lama.
Yang kedua, Marche [Movenpick] Indonesia pada saat masih bertempat di kompleks Gran Melia. Taunya tempat ini dari temennya temen. Jadi waktu itu temennya temen, karena kantornya nggak jauh dari situ, itu ngajakin si temen buat nraktir dan si temen asked me to join them. To my surprise, ternyata tempatnya menyenangkan dan makanannya, juga minumannya, enak-enak. Dan setelahnya malah lumayan sering juga ke Marche karena jadi tempat favorit. Sayang Marchenya sekarang udah tutup, kemudian setelahnya ada juga Marche di Grand Indonesia dan Plaza Senayan. Pernah ke yang di PS tapi belum pernah ke yang di GI. Cuma yang di PS sekarang udah tutup juga, padahal tempatnya enak juga meskipun nggak senyaman saat masih di daerah Kuningan.
Ketiga, tempat ngopi di Setiabudi One di lantai 2 yang udah nggak inget lagi namanya. Udah tutup juga dan terakhir ke Setiabudi One tempatnya udah jadi Anomali Coffee. Dulu ke sini awal-awalnya cuma buat informal meeting karena tempatnya lumayan sepi, cuma lama-kelamaan nggak hanya jadi tempat informal meeting tapi jadi tempat nongkrong juga. Ngopi di sini selain harganya yang nggak terlalu mahal rasanya juga oke punya, makanya kemudian jadi tempat ngopi lain setelah The Coffee Bean & Tea Leaf yang di PS.
Keempat, last but not least, satu restoran yang berada di Tebet Indraya Square. Udah nggak inget juga nama restorannya karena udah lumayan lama banget dan hanya sekali kesitu. Nggak tau juga apa restorannya sekarang masih ada atau udah berganti dengan yang lain. Ke tempat itu buat mentraktir seseorang (yang istimewa tentunya) dan yang memilih tempatnya yang ditraktir, yang nraktir manut wae. Karena pilihannya di sana, so we went there. Tempatnya nggak begitu besar dan waktu itu lagi nggak begitu rame (belum begitu malem padahal) jadi enak kalau buat ngobrol santai, makanannya juga nggak mengecewakan. That was absolutely a night to remember.
And that's all for now, stay safe and healthy!
Sunday, March 22, 2020
Monday, March 2, 2020
It Happened Again!
Kalau katanya orang-orang belum bisa move on, dan memang begitulah kenyataannya, yaitu belum bisa move on dari antrian air oleh karena di bulan Februari kemarin kebagian antrian air lagi, dua kali malah, pada hari Minggu, 23 Februari dan Selasa, 25 Februari. Jadi hanya dalam dua bulan ini udah kebagian antrian air tiga kali, sekali di Januari dan dua kali di Februari. Moga-moga mulai di bulan Maret dan seterusnya nggak kebagian antrian air lagi. Amin!
Udah nggak ngerti lagi dengan antrian air sekarang-sekarang ini, mosok baru hujan agak deras sejam dua jam air udah pada sibuk ngantri. Dulu membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa kebagian antrian air tiga kali, lha sekarang kok antrian air yang butuh waktu bertahun-tahun itu terjadi hanya dalam hitungan bulan. Jaman memang berubah tapi untuk perubahannya kan seyogyanya jadi lebih baik atau lebih bagus lagi, bukannya malah jadi lebih jelek.
Gara-gara jadi gampang kebagian antrian air, tiap kali hujan agak lebat jadi was-was, siap-siap kalau antrian air muncul. Mana tiap kali muncul antrian air kejadiannya selalu setelah jam tiga pagi, saat lagi ngantuk-ngantuknya.
There's nothing I can do untuk mencegah terjadinya antrian air. Yang bisa dilakukan hanya menyesuaikan diri supaya nggak repot-repot amat karena setiap kali antrian air muncul yang pasti dialami adalah repot. Hingga saat bahasan ini di-publish pun rumah juga masih berantakan, belum diberesin semua daripada nanti udah diberesin tau-tau antrian air muncul lagi, apalagi dengan kondisi Jakarta yang masih mendung terus, jadi bikin harus siaga selalu. Bukan soal capeknya, tapi beres-beresnya jadi sia-sia.
So, begitulah kesibukan pada dua bulan pertama tahun ini, disibukkan oleh antrian air. Such a waste of time, tapi mau gimana lagi, mau nggak mau, suka nggak suka, ya harus diterima. Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah anda warga Jakarta yang bahagia dengan kotanya? As for me, I am happy as a Jakartan, but happiness is definitely not on my list, hehe... :-p
Ganbatte!
Udah nggak ngerti lagi dengan antrian air sekarang-sekarang ini, mosok baru hujan agak deras sejam dua jam air udah pada sibuk ngantri. Dulu membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa kebagian antrian air tiga kali, lha sekarang kok antrian air yang butuh waktu bertahun-tahun itu terjadi hanya dalam hitungan bulan. Jaman memang berubah tapi untuk perubahannya kan seyogyanya jadi lebih baik atau lebih bagus lagi, bukannya malah jadi lebih jelek.
Gara-gara jadi gampang kebagian antrian air, tiap kali hujan agak lebat jadi was-was, siap-siap kalau antrian air muncul. Mana tiap kali muncul antrian air kejadiannya selalu setelah jam tiga pagi, saat lagi ngantuk-ngantuknya.
There's nothing I can do untuk mencegah terjadinya antrian air. Yang bisa dilakukan hanya menyesuaikan diri supaya nggak repot-repot amat karena setiap kali antrian air muncul yang pasti dialami adalah repot. Hingga saat bahasan ini di-publish pun rumah juga masih berantakan, belum diberesin semua daripada nanti udah diberesin tau-tau antrian air muncul lagi, apalagi dengan kondisi Jakarta yang masih mendung terus, jadi bikin harus siaga selalu. Bukan soal capeknya, tapi beres-beresnya jadi sia-sia.
So, begitulah kesibukan pada dua bulan pertama tahun ini, disibukkan oleh antrian air. Such a waste of time, tapi mau gimana lagi, mau nggak mau, suka nggak suka, ya harus diterima. Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah anda warga Jakarta yang bahagia dengan kotanya? As for me, I am happy as a Jakartan, but happiness is definitely not on my list, hehe... :-p
Ganbatte!
Subscribe to:
Posts (Atom)