Monday, December 28, 2020

Till Next Year!

'Tiba juga hari yang kutunggu', Senin ke 52, Senin terakhir di tahun 2020 yang juga akan segera berakhir dalam beberapa hari mendatang. Tulisan ini juga sebagai tulisan terakhir di tahun 2020. Jadi, bagaimana keadaan selama pandemi ini? Apakah makannya enak dan tidurnya juga nyenyak? Nggak kebanyakan minum kopi? Hopefully the answer is yes, ya, karena berarti masih sehat-sehat. Di saat-saat kayak gini menjaga kesehatan adalah hal yang paling utama.

As for me, bersyukur karena selama tahun 2020 sehat-sehat meskipun mengalami hal yang nggak enak seperti kebanjiran selain tentunya soal pandemi viruskorona. Karena kasus kebanjiran bikin tahun 2021 harus waspada banjir paling enggak hingga akhir Maret. Sehat jasmani dan rohani karena viruskorona bisa bikin senewen, apalagi belum ada tanda-tanda kasusnya jadi sedikit. Hingga saat ini masih meningkat terus. Mudah-mudahan vaksinnya berfungsi seperti yang diharapkan. Nggak usah galau kalau ada yang udah mengalami gelombang pandemi untuk yang kesekian, karena berarti pandeminya belumlah tuntas juga, sami mawon dengan di sini.

Untuk IHSG, hingga 23 Desember kemarin berada di posisi sekitar enam ribu. Melebihi perkiraan yang di kisaran angka 5,500. Dengan tingkat kecepatan seperti yang sekarang, di tahun 2021 angka 7,500 harusnya bisa tercapai sih, tapi lebih cepat lagi tentu lebih baik, terbang gitu.

Ngebahas soal lagu lagi, gara-gara nonton FTV juga jadi tau kalau ada lagu(-lagu) yang ending-nya bertolak belakang dengan ending lagu Vidi Aldiano dan Prilly Latuconsina, "Tak Bisa Bersama". Bukan hanya satu lagu, melainkan kumpulan dari lima lagu, kayak mini seri gitu, lagunya bersambung, judulnya #PerjalananCinta dari Vega Delaga. Konsep dari lagunya kayak #GarisCinta Rizky Febian yang kumpulan dari tiga lagu. Tema lagunya berkisah soal asmara dengan perbedaan agama. Tapinya kalau di jaman sekarang soal perbedaan preferensi politik lebih repot daripada perbedaan agama, hehe... Beda agama masih bisa temenan, beda preferensi politik? Hmm...

Udah, demikian sebagai tulisan penutup di akhir tahun ini. Singkat aja, karena tak ingin untuk berpanjang lebar. Happy holiday, happy new year. Also, stay safe, stay healthy, stay sane, and last but not least, stay sweet! ;-)

Monday, December 7, 2020

Just In Time

Beralih dulu dari bahasan saat bersekolah di Amerika di masa lalu, fast forward ke masa kini. Pada beberapa tulisan sebelumnya, yang berjudul "Day 6", pernah ngebahas kalau suka nonton FTV. Nah, sekarang mau ngebahas lagi. Selain menghibur, di FTV banyak juga ditemui nasehat-nasehat. Sebagai contoh, teruslah berbuat baik karena keberkahan akan selalu menyertai. Kemudian... masa nggak ngerti sih. Kemudian lagi... jadi pengen ayam kecap.

Selain kalimat bernada nasehat, lagu-lagu tema di FTV juga enak-enak buat didengerin, dan malah jadi tau ada penyanyi yang namanya Adam Suraja, Benk, atau pula Giorgino misalnya karena saking seringnya lagu-lagu mereka dijadiin lagu tema. Yang sering jadi lagu tema contohnya "Kusuka" atau "Sweet Love". Yang sering nonton FTV pastilah udah ikrib dengan lagu-lagu ini. Salut dengan yang bikin FTV, bisa nemu lagu-lagu yang enak didengerin dan menghibur tapi bukan yang populer banget.

Bukan dari FTV, jadi tau juga dengan penyanyi yang bernama Rahmania Astrini gara-gara lagu jadul "Aku Cinta Dia" dari Chrisye. Darimana lagi taunya kalau nggak dari YouTube. YouTube memang sungguh sangat menolong untuk pencarian lagu-lagu. Nyaris semua lagu yang dicari bisa didapet dari YouTube. Bonusnya adalah juga jadi bisa tau siapa aja yang nyanyiin lagu-lagu yang dicari tadi selain penyanyi pertamanya.

Ngomong-ngomong soal lagu "Aku Cinta Dia", siapakah "Dia" ini masih menjadi misteri karena namanya belum diketahui. Kalau menurut Vina Panduwinata sih hanya bulan yang menyaksikan segalanya. Jadi bulan pasti tau dong ya. Cuma ya gitu, nggak ada nama yang disebutkan, tetep menjadi misteri. Tapi yang paling fenomenal "Dia"-nya Anji sih, views-nya 100 juta lebih.

Lagunya Chrisye ada juga yang liriknya "nakal", judulnya "Kala Cinta Menggoda". Gimana kalau ternyata perasaannya bersambut? Katanya Mus Mujiono sih ini berarti ada "Tanda Tanda", hehe... Pertanda apakah itu? Lydia dan Imaniar menyebutnya "Prahara Cinta" ;-) Lagu duetnya Afgan dengan Raisa yang belum lama ini dirilis, "Tunjukkan", liriknya juga boleh dibilang "nakal".

Untuk penyanyi yang saat ini jadi favorit yaitu Okky Kumala Sari. Belum jadi terkenal se-Indonesia, yang tau banyaknya yang sering mantengin kanal YouTube-nya Remember Entertainment meskipun Okky Kumala Sari nggak hanya berafiliasi dengan Remember Entertainment. Taunya juga gara-gara sering dengerin Remember Entertainment yang genre musiknya keroncong. Di Remember Entertainment yang main ukulele sungguhlah ajib, ekspresinya lempeng banget.

Membutuhkan waktu untuk bisa mendapatkan nama Okky Kumala Sari, harus googling dulu. Akhirnya ketemu juga okkykumala di instagram. Suka dengan gaya nyanyinya yang kalem.

Ikut Indonesian Idol juga untuk musim 2021 tapi tereliminasi di babak awal. If I'm not mistaken, satu-satunya yang nyanyi lagu Indonesia di kelompoknya, "Dia" dari Maliq & D'Essentials. Tapinya, in my opinion, tereliminasi merupakan suatu blessing in disguise, udah bukan masanya buat "berebut" panggung, apalagi udah bikin lagu sendiri. Suka dengan ending klip lagu "Butuh Waktu".

Sekarang lagi lumayan sering dengerin "I Like You So Much, You'll Know It" dari Ysabelle Cuevas yang versinya Remember Entertainment, sebab relaxing, cocok buat temen tidur, bikin tidur cepet pules.

Monday, October 26, 2020

The Journey Continues

Masih akan ngebahas soal LCP serta pada saat di Covina dan Glendora. Terkagum dengan yang dapet ide bikin LCP karena kejeliannya untuk "menangkap" peluang bisnis dari, saat itu, banyaknya warga asing yang berkeinginan untuk melanjutkan studi di Amerika. Yang mendirikan LCP atau owner-nya adalah seorang perempuan, Nay Farsadi.

Yang ikutan LCP bukan hanya dari Indonesia aja, dari negara lain juga ada. Saat masih di Glendora yang juga banyak dari Jepang, ada juga dari Turki. Kalau yang dari Indonesia sekitar 50 orang sih ada. Sempat merekomendasikan LCP ke dua orang dan dua-duanya juga langsung dapet sekolah di Amerika, di Buffalo dan di Rochester. LCPnya yang ada di Sacramento.

Ikutan LCP merupakan suatu berkah karena awalnya nggak ngerti sama sekali LCP itu gimana, hanya mengikuti saran dari owner-nya Triad, dan berbuah manis. Gara-gara ke LCP juga jadi berkesempatan jalan-jalan ke Hollywood, Six Flags Magic Mountain, juga Universal CityWalk dan Universal Studios. Selain itu juga bisa berkunjung ke Los Angeles dan San Francisco, dua kota yang terkenal di California. Kalau San Francisco adalah kota yang paling diinginkan untuk dikunjungi dan alhamdulillah kesampaian. I couldn't leave my heart in San Francisco.

Nggak berencana dari awal untuk ke San Francisco sebenernya, bisa ke San Francisco karena diajak nganterin temen yang keterima di Berkeley School of Law. Jadi tujuannya bukan langsung ke San Francisco tapi ke Berkeley, dan karena Berkeley lokasinya deket dengan San Francisco makanya bisa sekalian dikunjungi. Tapi memanglah San Francisco itu kotanya sungguh cantik.

Kelak, meninggalkan Amerikanya melalui San Francisco, bukan melalui New York ataupun Los Angeles. Mungkin karena dulu setiap kali pulang ke Indonesia untuk liburan kalau beli tiketnya selalu dari San Francisco, di Borneo International. Tau Borneo International dari yang udah duluan di Amerika. Jaman segitu di Amerika udah canggih, tinggal di Troy tapi beli tiket di San Francisco.

Jadi, selama tiga bulan lebih ikutan LCP banyak banget hal yang bisa dilakukan. Nggak hanya belajar demi meningkatkan nilai TOEFL dan GMAT dan lainnya, tapi juga bisa dapet ID Card dan Driver License dan juga piknik. Makan KFC pertama kalinya di Amerika juga saat di Covina, kebetulan ada gerai KFC yang nggak begitu jauh dari rumah host family. Nonton lebih dari satu film di bioskop dengan hanya membeli satu tiket juga pada saat di Covina dan Glendora.

Saat-saat yang menegangkan di LCP adalah pada saat menerima surat dari RPI karena kemungkinannya kan diterima atau ditolak. Lega banget rasanya setelah tau ternyata diterima. Sebelumnya udah ada universitas yang menerima juga, tapinya yang ditunggu-tunggu adalah yang dari RPI.

Meskipun seneng tapi berasa agak sedih setelah tau bahwa diterima di RPI. Karena udah banyak hal yang dilakukan di Covina dan Glendora. Berpisah dengan temen-temen LCP dari Indonesia yang akan pindah juga untuk melanjutkan studinya ke berbagai kota di Amerika sesuai dengan pilihan masing-masing, Berkeley, Irvine, Twin Cities, Oklahoma City, Denver, Washington, Buffalo, Atlanta, Rochester, St. Louis, dan kota-kota lainnya. Menyaksikan LCP yang perlahan-lahan menjadi sepi karena banyak yang udah pindah ke kota tujuannya sementara kelas baru belum dimulai. But life goes on.

Monday, October 12, 2020

The Beginning

Untuk edisi tulisan kali ini masih akan membahas soal pada saat awal-awal di Amerika, di Covina dan Glendora to be exact.

Hari pertama di LCP dimulai dengan melakukan pendaftaran ulang untuk verifikasi serta menyelesaikan urusan administrasi. Jadi LCP ini letaknya di lantai dua suatu gedung yang ada di Citrus College. Untuk kelas LCP juga menggunakan kelas-kelas di Citrus College. Pada saat pendaftaran diberikan informasi secara lebih detil untuk fasilitas-fasilitas apa yang disediakan oleh LCP. Tapi yang terutama adalah mendapatkan bantuan supaya bisa diterima di universitas di Amerika. Maksimal bantuan untuk lima universitas, kalau lebih akan ada biaya tambahan. Biaya selama di LCP yaitu 3 ribu dolar, udah nggak ada biaya-biaya tambahan lainnya. By the way, di Citrus College ada mahasiswa Indonesia juga.

Untuk bantuan pendaftaran, hingga diterima tentunya, di universitas di Amerika ini ada advisor yang mendampingi. Pemilihan universitas juga dibicarakan terlebih dulu dengan advisor, kira-kira peluang untuk bisa diterima gimana, supaya nggak sia-sia daftar ke universitasnya. Yang jadi advisor namanya Debbie. Kelak, nggak lama setelah pindah ke Troy Debbie ini ngabarin kalau resign dari LCP karena mau sekolah master juga.

Saat menunggu urusan administrasi selesai sempat mikir gini ternyata rasanya sendirian di negeri orang yang jaraknya beribu-ribu kilometer, on the other side of the world. Eh, nggak lama setelah itu dari suatu ruangan keluarlah segerombolan orang dan berbahasa Indonesia. Nggak jadi deh merasa sendiriannya. Ternyata mereka itu calon mahasiswa untuk S2 yang dikirim oleh Pertamina, ada sekitar 30 orang yang dikirim Pertamina ke LCP Glendora. Ada juga yang dikirim ke LCP di tempat lain karena ada temen seangkatan sejurusan (dan pernah sekosan bareng di Sulanjana) juga yang dikirim Pertamina ke LCP tapi berbeda lokasi, di Redlands. LCP ini ada di beberapa lokasi, nggak cuma di Glendora. Kalau Redlands dengan Glendora jaraknya nggak jauh.

Untuk urusan placement, LCP ini memang boleh dibilang hebat. Orang-orang Indonesia yang tadinya luntang-lantung di Amerika karena nggak dapet sekolah atau universitas, setelah ikutan program LCP jadi dapet universitas. As for myself, daftar ke 5 universitas dan alhamdulillahnya diterima di semuanya.

Setelah urusan pendaftaran dan administrasi beres siangnya langsung dianter oleh pihak LCP, dengan beberapa orang lain, untuk bikin Social Security Number (SSN) dan rekening bank. SSN ini diperlukan karena hampir untuk setiap urusan di Amerika yang ditanyakan pastilah SSN, bukan ID Card. Kalau ID Card biasanya diperlukan untuk hal-hal yang ada hubungannya dengan usia 17+. Di Amerika, cukup dengan modal paspor dan visa pelajar (F-1) udah bisa bikin SSN dan rekening bank. Nantinya juga bikin Driver License dan ID Card tetapi bareng temen-temen yang di LCP, bukan dengan LCP.

Meskipun ada kartunya tapi untuk SSN belum pernah ada permintaan buat menunjukkan kartu karena yang diperlukan hanya nomornya yang berformat 9 digit, xxx-xx-xxxx. Beda halnya dengan ID Card atau DL yang kartunya harus ditunjukkan. Di Amerika kalau udah mempunyai DL maka nggak harus punya ID Card karena bikinnya di tempat yang sama, Department of Motor Vehicles (DMV), tapi kalau mau punya dua-duanya boleh. Waktu itu bikin dua-duanya karena punya rencana menukarkan DL California dengan DL New York, jadi masih punya ID Card California. Buat gegayaan biar keren dan beken, di New York tapi yang ditunjukin ID Card California, hehe...

Di Amerika, waktu itu, mudah banget untuk bikin identitas resmi biar kata bukan warga negara sana, prosedurnya juga nggak berbelit. In my case, hanya dalam waktu tiga hari di Amerika udah daftar buat SSN dan bikin rekening bank, dan pada saat di Covina dan Glendora juga udah bikin DL dan ID Card. Bikin DL cuma dengan ikut sekali ujian praktek langsung lulus, padahal nyetir pertama kalinya di Amerika pada saat ujian praktek bikin DL itu. Kalau untuk ujian teorinya dapet contekan dari temen-temen di LCP. Emang orang Indonesia ini harus diakui jago kalau untuk urusan beginian, kok ya bisa-bisanya dapet contekan.

Monday, September 21, 2020

"Coming To America"

Sebelum memulai ke bahasan, update sekilas dulu soal IHSG. Hingga penutupan hari ini IHSG berada di kisaran lima ribu, lima ribu kurang sedikit. Merupakan suatu kemunduran karena menjelang akhir bulan lalu, Agustus, sudah mendekati 5,400. Mudah-mudahan di akhir tahun nanti bisa berada di kisaran 5,500, kalau bisa lebih tentunya lebih bagus lagi, berarti ekonomi menunjukkan pemulihan. Kalau kata pak JK, lebih cepat lebih baik.

Bahasan untuk kali adalah pada saat-saat awal di Amerika, bagaimana berada di situasi yang belum pernah dialami sebelumnya. Beberapa hal udah pernah juga dibahas di blog sebelumnya, cuma aja beda konteks. Seperti yang udah pernah ditulis, pergi ke Amerika dengan maskapai China Airlines, pada suatu hari di awal bulan Mei 1993. Pergi ke bandar udara Soekarno-Hatta ditemenin ibuk. Sebenernya sendirian juga nggak apa-apa, udah terbiasa buat kemana-mana sendiri, tapinya ibuk pengen nganterin karena untuk kali ini perginya jauh, ke Amerika. Bapak nggak ikut karena kebetulan saat itu lagi di Amerika, tugas belajar, ikut short course di University of Pittsburgh di Pennsylvania selama satu bulan.

Dari Jakarta ke Los Angeles pesawatnya singgah dulu di Singapura dan Taipei. Mendarat di LAX hari Jumat sore 7 Mei 1993. Yang jemput udah ada karena saat di Triad dulu udah ngisi formulir untuk hal-hal apa yang diinginkan pada saat di Amerika, dan milih untuk dijemput di bandara. Pilihan untuk tinggal dengan host family juga termasuk biar nggak repot karena hanya sekitar tiga bulan di Covina dan Glendora. Mobil punya yang jemput jenisnya convertible, jadi berasa udik karena baru kali itu naik mobil convertible.

Sesampainya di rumah host family, yang jemput bilang ke host mother kalau macet di jalan. Dalam hati terheran-heran, emang macetnya dari mana wong lancar sepanjang perjalanan. Ternyata kalau jalannya agak pelan itu udah disebut macet. Wah, beda arti, hehe...

Disambut dengan ramah oleh host mother yang punya dua anak, satu cowok dan satu cewek. Host mother-nya single parent. Ada welcome card juga, tapi di kartu yang ditulis adalah nama tengah, Imam, bukan nama depan ataupun belakang. Ya udahlah, daripada ribet, mungkin karena nama depan, apalagi belakang terlalu sulit untuk diucapkan buat ukuran sana, makanya menggunakan nama tengah aja yang gampang. Karena dipanggil Imam, jadinya kemudian memperkenalkan diri dengan temen-temen yang di LCP dengan nama Imam.

"What's in a name? That which we call a rose. By any other name would smell as sweet". Apalah arti sebuah nama. Tapi soal nama di Amerika menjadi hal yang penting. Secara umum setiap orang mempunyai tiga nama, depan, tengah, dan belakang. Punya dua nama masih oke karena yang buat identifikasi adalah nama belakang kemudian depan. Yang bisa merepotkan kalau hanya punya satu nama, alamat dah bakalan dapet kode NFN atau FNU. No First Name, First Name Unknown (Unidentified).

Jadi kalau punya cita-cita untuk menyekolahkan anak ke Amerika paling enggak punya dua nama lah, biar anaknya nggak repot, dan kalau bisa jangan ngasih nama yang sulit biar gampang dieja. Dulu sewaktu akan wisuda sampe dipanggil dulu sama panitia yang bertugas manggil yang diwisuda supaya nggak salah eja. Mengucapkan Setyowardono bukanlah hal yang mudah, di sana bisa bikin orang keseleo lidah, hehe...

Karena saat itu udah menjelang malam, istirahat sebentar di kamar dan dilanjut dengan makan malam. Untuk makan malam porsinya nggak banyak, di rumah host family kalau makan malam terbiasa dengan porsi sedikit jadi diawal-awal masih suka agak laper, tapi lama-kelamaan ikut terbiasa juga. Selama di sana nggak pernah disuguhi makanan yang mengandung babi karena udah tau dari awal kalau nggak makan babi. Karena nggak makan babi host family ikutan juga nggak makan babi. Abis makan ngantuk tapi nggak bisa tidur, jet lag.

Hari Minggunya dianter host mother ke lokasinya LCP di Citrus College. Dikasih tau juga dimana tempat pemberhentian bus karena bakalan menggunakan bus, Foothill Transit, sebagai sarana transportasi sehari-hari. Saat ditanya harga tiketnya berapa host mother bilangnya nggak tau karena belum pernah naik bus. Sama host mother cuma dikasih brosur dan jadwal busnya. Waduh, tapi ya udahlah gimana nanti aja.

Senin paginya, karena jadwal di LCP dimulai 10 Mei, berangkat dengan berbekal jadwal dan rute bus yang udah dipelajari. Nunggu di haltenya nggak lama karena bus dateng sesuai jadwal. Begitu naik langsung cari tempat duduk, awalnya diliatin supirnya tapi didiemin. Agak heran juga. Keheranan terjawab saat di perhentian berikutnya ada yang naik dan ikutan nyelonong cari tempat duduk. Sama supirnya dibilangin, "hey you, pay first!". Wah, ini toh ternyata alasannya kenapa diliatin supir, seharusnya bayar dulu baru cari tempat buat duduk. Untung nggak ditegur, supirnya ngerti kalau nggak ada tampang kriminal, tapi agak tengsin juga, hehe...

Belum selesai sampai di situ, pada saat mau turun ngasih selembar satu dolaran ke supir dan nungguin kembalian karena harga tiketnya 85 sen. Tau harga tiket 85 sen setelah nanya ke supirnya. Saat supirnya sadar ternyata ditungguin kemudian langsung bilang "no change, no change". Nggak ada kembalian, jadi harus bayar dengan uang pas, kalau lebih nggak akan dapet kembalian. Agak tengsin lagi, hehe...

Untuk ke LCP perlu dua kali ganti bus, jadi setiap hari empat kali naik bus pulang pergi. Lumayan mihil kalau ditotal, 3 dolar 40 sen. Supaya lebih murah dianterin host mother buat beli tiket bulanan untuk pelajar yang harganya 30 dolar. Jadi setiap kali naik bus tinggal tunjukin aja tiketnya. Satu hal, setiap kali naik bus kalau di jadwal yang sama maka ketemunya hampir pasti dengan orang-orang yang sama juga.

Friday, September 11, 2020

How Come?

Dari berita yang beredar, efektif Senin pekan depan, 14 September, di Jakarta yang namanya PSBB akan diberlakukan kembali. Kalau Natalie Cole bilangnya "good to be back" tapi yang ini sepertinya not good to be back. Suatu langkah mundur. Apa kabar dengan move forward? ;-)

Kalau untuk diri sendiri, sejak sebelum PSBB yang awal dulu hingga saat ini kebiasaan yang dilakukan masih belum berubah. Masih jarang keluar rumah kecuali untuk hal-hal yang memang dirasa perlu. Ke mal pernah, beberapa kali, itupun hanya dua mal yang dikunjungi, Lotte Shopping Avenue dan Kuningan City. Dua mal itu rasanya aman sih, nggak banyak pengunjungnya, pemeriksaan juga oke, dan tombol liftnya juga nggak perlu dipencet-pencet, udah touchless.

Ke supermarket juga nggak masalah, akan tetapi kalau bisa belanja secara online maka yang didahulukan adalah belanja secara online. Maksudnya yaitu supaya nggak usah berlama-lama di supermarketnya, diusahakan paling lama "satu jam saja". Supermarket juga aman sih rasanya, karena nggak begitu rame dan pengunjungnya nggak hanya berdiam di satu tempat, selalu bergerak, jadi akan sulit untuk berdekat-dekatan.

Yang biasanya rame tuh kalau ke restoran cepat saji, meskipun yang beli lebih banyak yang takeaway tapi seringkali mengabaikan jaga jarak pada saat menunggu antrian, jadi harus waspada. Udah ke beberapa tempat dan suasananya mirip-mirip.

Pergi ke tempat dimana lumayan banyak orang yang berkumpul tanpa menggunakan masker juga pernah. Kalau udah gini palingan jadi lebih meningkatkan kewaspadaan. Keluar rumah tanpa menggunakan masker juga lumayan sering, tapi itu dilakukan hanya untuk ngambil kiriman paket di pos jaga atau belanja ke tukang sayur di deket pos jaga. Cuma terkadang pos jaganya jadi tempat kongkow. Kemarin malam sempat ketemu pak RT lagi nongki-nongki asik di pos jaga, hehe...

Ke tempat potong rambut juga udah dan nggak masalah, aman-aman aja. Sempat was-was juga sebelumnya karena kuatir dengan interaksi yang lumayan lama. Pengunjungnya udah ngerti kalau jangan berdekat-dekatan. Cuma pada saat potong rambut maskernya dilepas, hanya yang motong yang menggunakan masker.

Untuk jalanan yang sering dilalui, masih rame tapi nggak serame seperti pada saat PSBB awal dulu. Entah kalau di tempat lain. Yang pasti, kalau penyebaran viruskorona bukan secara airborne, semakin banyak orang yang bergerak maka akan semakin masif pula penyebarannya. Si virus ini dapat juga dianggap sebagai penumpang gelap karena untuk bisa menyebar memerlukan perantara yaitu manusia.

'I wish you health, and more than wealth, I wish you love'

Monday, August 24, 2020

In Between

Selain pernah menetap di enam kota yang dibahas pada tulisan yang lalu, tujuh karena Jakartanya di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur, juga pernah menetap di dua kota dan satu kota yang rutin dikunjungi setiap weekdays di Amerika. Covina dan Glendora di California, dan Troy di New York. Yang dikunjungi setiap weekdays adalah Glendora sebab saat itu lagi belajar di sana, LCP International Institute yang berlokasi di Citrus College. Di Covina alamatnya di Greenhaven Street dan di Troy di 21st Street. Kalau kebetulan lagi ada di daerah situ boleh juga ditilik-tilik, hehe...

Kota-kota tersebut pernah dibahas di blog sebelumnya, jadi kalau dulu sering bacanya pasti udah tau. Di blog ini hanya melengkapi, ngebahas hal-hal yang belum dibahas. Di Covina dan Glendora nggak lama, cuma sebentar, sekitar tiga bulan, kalau di Troy sekitar dua tahun. Enak mana, di pantai Barat atau di pantai Timur? Saat itu lebih suka di pantai Barat kalau untuk kotanya, tapi sekolah yang dipilih nggak ada yang berlokasi di pantai Barat jadi harus meninggalkan Covina dan Glendora. So yeah, I left my heart in Covina and Glendora.

Bisa ke tiga kota itu gegara sewaktu masih kuliah di ITB berminat untuk melanjutkan kuliah lagi di luar negeri, terinspirasi dari adik ragil (cewek) yang udah duluan kuliah di luar negeri untuk S1nya, kuliahnya di Griffith University, Brisbane.

Mempersiapkan supaya bisa kuliah di Amerika dimulai sejak sekitar satu tahun sebelum lulus kuliah, lumayan lama ya. Lalu ngapain aja setahun kemarin itu? Yang pasti tentunya mencari informasi soal universitas di Amerika, dan karena jaman itu belum ada internet mencari informasinya melalui surat yang dikirimkan langsung ke setiap universitasnya. Yang bikin salut, hampir semua universitas yang dikirimin surat mengirimkan informasi yang diminta. Biar nggak kelamaan, ngirimnya menggunakan yang ekspres. Kantor pos ITB saat itu udah jadi langganan karena ada lebih dari seratus surat yang dikirim.

Selain ngirim surat, lainnya yaitu mengunjungi pameran universitas-universitas Amerika di Jakarta. Berangkat pagi dari Bandung sorenya pulang. Pokoknya setiap tempat yang ada informasi soal kuliah di Amerika selalu diusahakan untuk dikunjungi. Tujuannya yaitu untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin gimana kuliah di Amerika.

Tak lupa juga ikutan les bahasa Inggris supaya nggak bego-bego amat kalau ngomong Inggris. Lesnya di dua tempat, EEP dan Triad. EEP di Ganesha dan Triad di Purnawarman. Berangkat ke LCP setelah nggak sengaja sempat ngobrol dengan owner-nya Triad kalau buat kuliah di Amerika LCP bisa ngebantu untuk penempatannya. Daripada repot-repot ngedaftar dari Indonesia. Setuju dengan sarannya akhirnya daftar ke LCP melalui Triad, jadi semua dokumen termasuk tiket pesawat seharga sekitar 800 ribuan (Jakarta - Los Angeles, 8,985 mil, China Airlines), diurusin oleh Triad. Untuk bisa dapet visa juga udah didaftarin, tinggal ke kedutaan Amerika untuk wawancara pada hari yang ditentukan.

LCP ini lembaga yang dapat diandalkan, Pertamina dan bank-bank milik pemerintah juga mengirimkan pegawainya untuk kuliah S2 di Amerika melalui LCP. Pak Dirut BNI yang sekarang alumni LCP juga, cuma beliau duluan dan baru bertemu di Troy.

Karena kuliah di Amerika dimulai September, daftar ke LCP untuk yang program bulan Mei, tahun 1993. Lulus kuliahnya Oktober 1992. Jadi ya agak ribet setahun menjelang lulus karena selain harus bikin tugas akhir dan mempersiapkan diri supaya bisa pergi ke Amerika juga masih harus ngajar. Saat itu, dimulai dari semester tiga, menjadi guru privat untuk tiga orang murid (ketiganya bersaudara) dengan jadwal tiga hari setiap minggu. Ngajarnya nggak sendirian, bareng temen, pertama dengan temen sekos saat di Sulanjana, kuliah di ITB juga, Teknik Perminyakan angkatan 85 dan kemudian dengan temen sejurusan seangkatan karena temen sebelumnya lulus duluan. Muridnya waktu itu adalah putra-putra dari dokter ahli kandungan perempuan di Bandung. Waktu di Malang calon dokter sebagai wali murid.

Yang nggak disangka, ketiga orang guru privat ini ternyata semuanya berkesempatan kuliah di Amerika, yang dari Teknik Perminyakan di New Mexico Institute of Mining and Technology untuk S2 dan yang temen sejurusan seangkatan di MIT, iya betul, MIT yang terkenal itu, nggak cuma lanjut S2 tapi hingga dapet gelar ScD, bukan cuma PhD.

Terus, ngapain aja setelah lulus kuliah hingga sebelum berangkat ke Amerika? Sempat jadi pegawai berdasi gitu, kantornya di Mulia Tower Gatsu. Kos di BenHil sebelum pindah ke kompleks DPR Kalibata. Tempat kos di BenHil itu sebenernya khusus cewek, tapi boleh kos disitu sebab sebelumnya adik cewek pernah kos disitu sebelum ke Brisbane. Sempat kuliah di Atma Jaya satu semester buat mengisi waktu luang sebelum berangkat. Pindah ke kompleks DPR karena ada temennya bapak yang dapet jatah rumah tapi nggak dihuni dan ditawarin buat tinggal di sana.

Saat jadi pegawai di Jakarta juga masih punya tempat kos di Bandung, Tengku Angkasa, karena masih harus ngurus keberangkatan ke Amerika melalui Triad. Senin pagi hingga Jumat sore di Jakarta, Sabtu Minggu di Bandung. Resign dari kantor setelah udah ada kepastian untuk kapan berangkat, padahal udah suka dengan suasana kerjanya.

Monday, August 17, 2020

For Your Eyes Only

Masih mau ngelanjutin lagi bahasan saat dulu menetap di Malang. Jadi, Malang adalah kota ketiga yang pernah ditinggali setelah Tanjungkarang dan Palangkaraya. Hingga sekarang udah pernah menetap di enam kota di Indonesia, lainnya yaitu Bandung, Solo, dan Jakarta.

Kalau di Solo sebenernya karena urusan pekerjaan yang mengharuskan untuk menetap di sana. Dan karena menetapnya selama sekitar enam bulan serta saat di Solo hanya mendapatkan jatah pulang selama tiga hari pada setiap bulannya, makanya boleh juga jika dianggap sebagai menetap. Solonya waktu itu di Solo Baru.

Dari keenam kota yang pernah dan sedang ditempati itu, kota Malang adalah yang paling favorit, kemudian Tanjungkarang. Selanjutnya yaitu, Bandung, Solo, Palangkaraya, dan terakhir adalah Jakarta. Urutan ini bukan berdasarkan oleh keadaan kotanya pada saat sekarang lho ya, akan tetapi ditentukan oleh pengalaman saat menetap di kota-kota tadi.

Tanpa berpanjang lebar, Malang menjadi kota yang paling favorit karena suka dengan suasananya. Bukan hal yang mudah sebenernya tinggal berjauhan dari ortu saat masih di SMP dan berlanjut hingga SMA, tapi kondisi itu nggak begitu terasa disebabkan Malang kotanya bikin betah, merasa damai saat di Malang. Lupa pernah sedih atau enggak pada saat masih di Malang, soalnya hepi-hepi mulu.

Yang paling juara di Malang tuh makanannya. Rasanya selalu cocok di lidah meskipun terkadang di awal-awal merasa aneh ngeliat bentuk atau rupa makanannya. Sebagai contoh yaitu rawon, pertama makan rawon di rumah eyang putri di Lowokwaru gang V. Waktu itu masih menetap di Tanjungkarang, ke Malang buat nengok eyang dan kemudian dibuatin rawon. Di awal-awal ngeliat rawon yang terpikir adalah, sayur apaan nih kok warnanya butek gini. Tapi setelah dicoba ternyata rasanya enak juga dan sejak saat itu jadi suka rawon.

Bakso juga gitu, pertama kali jajan bakso diajakin kakak sepupu yang di Diponegoro, agak terheran-heran, bakso kok dikasih saus tomat. Heran soalnya di Tanjungkarang nggak pernah makan bakso yang ada saus tomatnya. Di Tanjungkarang namanya miso sih, jadi udah dicampur mie atau bihun gitu plus kecap. Kalau di Malang kan baksonya nggak harus dengan mie, kecuali kalau pesennya yang campur, mienya pasti ikutan dicemplungin juga. Seperti saat pertama makan rawon, meskipun terasa aneh awalnya tapi kemudian jadi suka juga. Witing tresna jalaran saka kulina, katanya sih gitu, kalau witing mulya jalaran wani rekasa.

Untuk makanan yang terfavorit di Malang yaitu pecel dan rujak cingur. Nggak pernah bosen setiap kali makannya. Kalau untuk pecel, dulu yang lumayan terkenal tuh pecel kawi, nggak jauh dari rumah setelah pindah ke Terusan Dieng. Bumbu pecelnya agak beda dari pecel-pecel lainnya. Untuk bakso, yang dulu sering disebut-sebut yaitu bakso stasiun, bukan karena enaknya meskipun memang enak tapi lebih ke ukuran baksonya yang gede-gede.

Yang sempat agak bikin bingung yaitu antara tahu campur dengan tahu tek sebabnya terkadang tahu tek disebut juga sebagai tahu campur. Dua-duanya enak tapi buat yang suka segeran pilihannya tentu adalah tahu campur. Satu hal, di Malang nama martabak manis nggak dikenal, taunya terang bulan. Nggak tau lagi kalau sekarang tapi, apakah nama martabak manis udah dikenal di Malang atau belum.

Duh, malah jadi kepengenan soto dok, soto lonceng, sama ayam goreng pemuda. Mie dempo juga.

Monday, July 27, 2020

One Step Further

Mau ngelanjutin tulisan soal setelah tamat SD. Seperti yang udah ditulis sebelumnya, saat SD sekolahnya di Tanjungkarang (SDN Teladan) dan kemudian pada saat di kelas 6 pindah ke Palangkaraya (SDK St. Don Bosco). SD di Palangkaraya ini nggak jauh dari rumah lokasinya, ada di jalan yang sama malahan, Jl. Tjilik Riwut, cuma berseberangan jalan. Makanya dulu sama ortu didaftarin di situ biar kalau ke sekolah nggak repot.

Setelah tamat dari SD oleh ortu dikirim ke Malang untuk lanjut SMPnya. Kenapa Malang? Karena ortu asli Arema. Kalau semua anak-anaknya sih dibilangnya pujakesuma. Selain itu di Malang juga banyak saudara. Di Malang didaftarin ke SMPN 3. Kenapa SMPN 3, kok nggak ke SMP yang lainnya? Karena lokasi sekolahnya yang deket dengan rumah bude di Jl. Diponegoro, makanya didaftarin di situ. Nggak ujug-ujug juga langsung bisa diterima tentunya karena harus melalui proses tes masuk terlebih dulu.

Sebagai anak daerah (baca: luar Jawa, Jawa Timur umumnya, Malang khususnya) tentu nggak mempunyai awalan yang sama dengan anak-anak lain yang memang dari SD udah sekolah di Malang. Dalam hal ini awalannya di belakang. Contohnya, di soal tes masuk ada pertanyaan gini, apa arti dari Jer Basuki Mawa Beya, terus juga apa yang dimaksud dengan Malang Kucecwara. Nah lo, ini kan pertanyaan yang spesifik Jawa Timur dan kota Malang. Sama aja kayak di Tanjungkarang ditanya apa arti Sang Bumi Ruwa Jurai atau di Palangkaraya ditanya apa arti Isen Mulang, atau kalau di Bandung ditanya apa artinya Gemah Ripah Repeh Rapih, hehe...

Untungnya sih untuk pertanyaan tadi ada pilihan jawabannya, jadi biar kata nggak ngerti apa artinya paling enggak masih bisa nebak-nebak lah. Singkat kata, akhirnya keterima juga di SMPN 3. Agak kagok di awal-awal masuk sekolah karena pada berbahasa Jawa semua, padahal nggak ngerti bahasa Jawa sama sekali. Memang ortu Arema tulen tapi di perantauan jarang banget ngomong menggunakan bahasa Jawa.

Bahasa Jawa ini juga menjadi momok di semester satu karena ternyata bahasa Jawa ada pelajarannya. Setiap pelajaran bahasa Jawa di kelas suka terbengong-bengong sendiri karena nggak ngerti, apalagi kalau udah ngebahas aksara Jawa yang "ha na ca ra ka" gitu. Belum lagi yang e pepet, taling tarung, dan sebagainya, rasanya udah kayak mo pingsan saking mumetnya. Keder duluan.

Bisa ditebak, bahasa Jawa di semester satu nilainya nggak karu-karuan. Untungnya (lagi), wali kelasnya, bu Nana, guru PMP waktu itu, sungguh mengerti gimana situasi muridnya ini, jadi beliau memintakan dispensasi ke guru bahasa Jawa supaya nilai 4 di rapor dijadiin 6. Bayangin kalau di rapor ada nilai 4, apa nggak pusing tuh pala Barbie. Alhamdulillahnya guru bahasa Jawa juga memaklumi, jadi beliau bersedia mengubah yang tadinya nilai 4 menjadi 6.

Karena merasa sangat berterima kasih dan supaya nggak bikin kecewa bu guru yang udah memperjuangkan muridnya, di semester dua sangat serius mempelajari bahasa Jawa. Dan hasilnya ternyata nggak sia-sia, nilai bahasa Jawa menjadi 8 di semester dua, bukan karena dispensasi tapi karena usaha sendiri.

Gimana dengan kelas dua? Hohoho... di kelas dua nilai bahasa Jawa di semester satu dan dua adalah 9 dan 8.5 *jumawa*. Setelah dipelajari dengan seksama, ternyata bahasa Jawa nggak begitu sulit, yang masih sulit tuh kalau harus ngomong Jawa tapi dengan bahasa krama inggil, krama madya aja masih ketar-ketir. Selalu berusaha menghindar kalau harus ngomong krama daripada dikira kurang ajar atau nggak ngerti unggah-ungguh. Paling aman jawabnya dengan menggunakan bahasa Indonesia. Tapi sebagai pelajaran, bahasa Indonesia bukan suatu hal yang mudah untuk dimengerti, di SMP nilai bahasa Indonesia yang diperoleh yaitu, 8.5, 7.5, 7.5, 7, 7, dan terakhir 8.

Yang agak lucu, di kelas dua semester satu ternyata jadi peringkat satu untuk seluruh kelas dua. Ternyata anak daerah bisa berjaya juga. Bu Nana sempat sangsi gitu kalau bisa jadi peringkat satu, sebabnya di kelas satu peringkat sepuluh aja nggak termasuk. Nggak ngira juga sih sebenernya sebab belajarnya tergolong biasa-biasa, baru belajar setiap menjelang ulangan. Sepertinya ini karena soal keberuntungan, sebab di semester dua dan di kelas tiga nggak pernah jadi peringkat satu lagi.

Tau jadi peringkat satu dari mas Onny yang didapuk menjadi wali murid karena ortu kan nggak mungkin ke Malang hanya untuk ngambil rapor, selain itu kakak sepupu juga kerja di Surabaya, pagi berangkat malem baru pulang. Mas Onny atau lengkapnya Koernia Swa Oetomo saat itu adalah mahasiswa tingkat akhir FK Unibraw yang kos dirumah bude, tentunya sekarang beliau udah jadi dokter senior banget. Dulu lumayan sering baca-baca buku soal kedokteran kalau lagi main ke kamarnya mas Onny. Diajak ikutan ke rumah sakit juga kalau lagi senggang.

Yang efektif menempati rumah Diponegoro berjumlah empat orang dan satu anjing kecil, kakak sepupu, mas Onny, me, mbak yang masak dan juga beresin rumah, serta Sinyo. Sinyo ini ngerti kalau jangan ngendus-endus, jadinya aman. Jadi, itulah alasan kenapa mas Onny didapuk jadi wali murid, selain karena mas Onny memang sungguhlah baik banget.

Monday, July 6, 2020

Did You Know?

Beberapa hari lalu sempat nonton FTV yang satu lagu temanya ada yang berjudul "Pasti Bisa". Gegara tuh lagu jadi keingetan patung Pancoran, eh, kok patung Pancoran sih malih, malah ngelantur. Jadi keingetan lagu yang lain lagi dari penyanyi yang nyanyiin lagu itu maksudnya. Lagu yang terkenal juga beberapa tahun silam. By the way, masih ada nggak sih yang dengerin lagu "Everybody Knew" sekarang sekarang ini? Except me of course :-p

Kalau diperhatiin syairnya dengan seksama, "Pasti Bisa" boleh dibilang kayak kelanjutan dari lagu "Everybody Knew". Wahiya, sebelum dilanjut, kedua lagu tersebut dinyanyiin oleh penyanyi yang udahlah terfavorit lulusan Indonesian Idol, Citra Scholastika. Harap dicatat jika ini adalah penilaian subyektif tentu, mungkin karena lagu-lagunya beraroma jazz gitu, makanya sebagai penikmat jazz jadi baper.

Kisah dari kedua lagu itu sebenernya agak menyedihkan juga, cuma aja nggak ketara sebab Citra Scholastika saat nyanyiinnya nggak tampak ada ekspresi sedih-sedihnya, malah hepi-hepi gitu (setidaknya begitu yang dapat diinterpretasikan dari tayangan video klipnya). Selain itu, musiknya juga bukan musik yang menyedihkan. Padahal "Everybody Knew" kan kisah lagunya yaitu soal seseorang, cewek (oleh sebab yang nyanyi cewek) yang memergoki jika pasangannya ternyata lagi jalan dengan orang lain, dan karena kesel makanya si cewek bilang kalau 'everybody knew you're a liar'.

Kalau untuk lagu "Pasti Bisa" isi lagunya adalah soal menyemangati diri sendiri pada saat mengalami kesedihan dan/atau kekecewaan dengan suasana matahari terbenam sebagai mediumnya. Makanya cocok kan? Pasangan jalan dengan orang lain kemudian berusaha bangkit dalam kesendirian sambil menikmati saat-saat matahari terbenam. Sepertinya lagu yang sesuai untuk penikmat senja.

Terus, maksudnya apa nih kok ngebahas dua lagu ini? Well... Nggak ada maksud apa-apa sih, cuma gegara kedua lagu tadi jadi aja bikin keinget dengan seseorang di masa lalu. Nggak penting banget ya, hehe... :-p

:-)

Happy Monday!

Monday, June 22, 2020

It's Not Over Till It's Over

Idul Fitri udah hampir sebulan berlalu, akan tetapi viruskorona belum juga berlalu. Lalu, kapankah viruskorona akan berlalu? Entahlah, tapi kalau mengacu pada guyonan jadul, untuk tau jawabannya tanya aja pada rumput yang bergoyang, hehe... :-p

Untuk soal viruskorona ini, karena penularannya nggak secara airborne (meskipun ada kemungkinan secara airborne bisa juga), jadinya mirip-mirip seperti obat anti rayap. Membunuh rayap itu mudah, disemprot dengan obat nyamuk rayap bisa langsung mati, tapi untuk membasmi rayap adalah persoalan lain. Membasmi rayap bukanlah hal yang mudah karena rayap sukanya nyumput-nyumput, sehingga kalau nggak dibasmi dengan tuntas maka rayapnya akan muncul lagi muncul lagi. Ngeselin kan?

Nah, obat anti rayap tuh berfungsi untuk membasmi kawanan rayap supaya nggak perlu repot-repot buat nyari dimana sih sarang kawanan rayapnya. Cara kerjanya yaitu cukup dengan menginfeksi satu rayap aja maka rayap itu akan menginfeksi rayap-rayap yang lain hingga mati. Tempatin aja obat anti rayap itu didaerah rayap biasa berlalu lalang, begitu ada rayap yang terpapar maka rayap itu pasti akan menginfeksi rayap yang lain karena rayap suka gaul. Metode getok tular gitu kalau bahasa jadulnya, atau "jangan berhenti di kamu" bahasa kekiniannya. Katanya Frank Sinatra 'start spreadin' the news'. Mirip viruskorona kan?

Makanya jadi make sense kalau ada seruan jangan berkerumun, jaga jarak, memakai masker, dan sebagainya sebagai upaya pencegahan untuk nggak ditulari atau menulari. Oleh karena sifat dari penularan viruskorona itu tadi yang mirip-mirip obat anti rayap. Bedanya, rayap nggak pernah tau kalau dirinya terpapar obat anti rayap, kalau manusia bisa tau apakah seseorang terpapar viruskorona atau enggak, sehingga tindakan untuk pengobatan bisa dilakukan.

Obat untuk yang terinfeksi viruskorona memang belum tersedia, tapi di Inggris Ibuprofen diujicobakan untuk kasus yang terinfeksi viruskorona. Ibuprofen yang diujicobakan bukan yang biasa beredar di pasaran tapi, cuma kalau sifatnya masih ada anti nyerinya nggak ada salahnya yang biasa beredar di pasaran digunakan untuk pengobatan mandiri.

Ibuprofen cukup aman untuk dikonsumsi, atau kalau mau yang lebih aman Paracetamol, buat anti nyeri juga seperti kalau gusi lagi nyut-nyutan atau cenut-cenut gitu. Bisa juga Sumagesic kalau mau yang 600 mg. Harganya juga murah, biasanya dijual isi sepuluh tablet. Di rumah ada sih kalau cuma Paracetamol, buat jaga-jaga. Trus jadi mikir, gimana kalau yang digunakan obat anti nyeri yang lebih kuat semisal Trampara?

Saturday, May 23, 2020

"I Won't Last A Day Without You"

Idul Fitri FTW! Demikian tentunya bagi yang merasa telah memenangi "peperangan" selama bulan Ramadhan. Soal untuk apa yang dimaksud dengan "peperangan", monggo didefinisikan sendiri. Yang pasti sih kalau nggak makan, minum, dan hal-hal lain yang tidak diperbolehkan sejak Subuh hingga Maghrib saat Ramadhan dapat dikatakan jika puasanya sah.

Apakah suasana selama Ramadhan tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya? Ada yang iya dan ada yang tidak. Tadi menjelang buka jalanan juga masih rame, tempat-tempat yang jualan makanan nggak kalah rame, pembelinya lumayan berjubel. Agak was-was juga kalau ke tempat yang kayak gitu. Just wondering, what is the meaning of PSBB really? Soalnya nggak berasa bedanya ada PSBB atau enggak. Yang tampaknya berbeda palingan banyak yang pake masker, udah gitu aja. Entah di tempat yang lainnya, situasi ini terjadi di tempat-tempat yang kebetulan dikunjungi. Bisa jadi di tempat lain berbeda kondisinya. Sempat ngakak juga saat ada berita di tivi yang judulnya arus mudik lancar, yea rite! Kalau arus mudik lancar berarti kan ada yang mudik dong ya, helowww.

Jikalau besok dapat diartikan sebagai hari kemenangan, maka tidaklah demikian halnya dengan "peperangan" menghadapi viruskorona. Well... disebut "perang" atau "damai" sebenernya nggak begitu tepat juga sih karena virusnya nggak kenal dengan namanya perang atau damai. Kalau menginfeksi ya menginfeksi aja, siapapun itu berpotensi untuk diinfeksi oleh viruskorona. Situasi sekarang-sekarang ini boleh dibilang in limbo karena ketidakpastian yang disebabkan oleh viruskorona.

Di Indonesia belum tampak adanya tanda-tanda aktivitas viruskorona mereda jika ditilik dari berita-berita yang telah dirilis. Kasusnya masih meningkat. Memang dibandingkan Amerika yang jumlah terinfeksinya udah mencapai sekitar 1.6 juta jiwa sangat jauh lebih sedikit, padahal di Amerika sejak dari awalnya melibatkan juga institusi-institusi ternama berbasis teknologi tinggi, industri ataupun pendidikan, pemerintahan dan juga swasta. Siapalah yang nggak tau Google, Microsoft, Amazon, ataupun IBM misalnya.

Palingan yang nggak terkenal dan dikenal tuh RPI, hehe... Dari institusi pendidikan ada dua yang dilibatkan, yaitu MIT dan RPI. Kalau MIT kan namanya memang udah terkenal di seantero jagat, dan di Amerika juga memang dikenal sebagai leading institution di bidang pendidikan, bidang teknologi khususnya. Ada juga seperti Caltech yang terkenal tapi masih lebih terkenal MIT.

Ngomong-ngomong soal RPI, I am one of the alumni dari Lally School of Management, business school di RPI. Di Amerika merupakan hal biasa universitasnya berbasis teknologi tapi punya sekolah bisnis, MIT juga punya Sloan School of Management yang terkenal, boleh diadu dengan Harvard Business School. Soal kenapa dulu milih sekolah di RPI, soalnya uang sekolah dan biaya hidupnya masih okelah. Kalau MIT kan sekolah mahal dan juga biaya hidup sekolah di MIT jauh lebih mahal dibanding di RPI. Untuk masuk MIT nggak bisa cuma bermodalkan pinter doang, harus punya backup finansial yang kuat juga. Sebagai perbandingan, di sekitar RPI dengan bermodalkan USD 600 udah bisa dapet apartemen lumayan mewah dua kamar unfurnished, kalau di sekitaran MIT mana bisa, dengan USD 1,000 aja bisa-bisa cuma dapet studio.

Tapi jangan keliru sangka, yang sekolah di Lally School dari Indonesia lumayan banyak juga lho, terutama dari bidang perbankan. Jadi, saat sekolah di sana tuh temen-temen dari Indonesia bankir semua, dari bank pelat merah alias bank pemerintah tapinya, mulai dari BNI, BRI, BBD, hingga Bank Eksim ada semua (Mandiri masih belum ada). Paling banyak waktu itu dari BRI. Dirut BNI yang sekarang adalah lulusan dari Lally School juga meskipun saat di Troy lebih dikenalnya sebagai orang Indonesia yang paling jago main tenis dibanding sebagai bankir handal.

Demikianlah tulisan edisi menjelang Idul Fitri, 'minal aidin wal faidzin, maafkan lahir dan batin'. Buat yang kangen karena nggak bisa minal-minul, syair berikut ini mungkin bisa mewakili, 'And honey I miss you, and I'm being good. And I'd love to be with you, if only I could'. Stay sane!

Wednesday, April 29, 2020

Day 6

Hari keenam Ramadhan. Tanpa terasa puasa udah hampir seminggu, perasaan baru kemarin tahun baruan, hehe... Tahun ini waktu rasanya berlalu dengan cepat.

Untuk soal cuaca, Jakarta sekarang udah nggak begitu mendung tapi berawan, langit masih belum cerah. Tapi lumayanlah ada kemajuannya, it's getting better, daripada mendung mulu.

Hingga saat ini masih belum pergi-pergi juga, sebagai anak rumahan sih hepi-hepi aja karena sejak dari dulu memang nggak hobi keluyuran atau kelayapan. Jadi berdiam di rumah dalam jangka waktu lama juga bukan merupakan persoalan, nggak bikin bosen. Pertanyaannya adalah, hingga kapan semua keriweuhan gegara viruskorona ini akan berakhir? Yakin sih pasti banyak yang pengen segera berakhir secepat-cepatnya karena mungkin udah pada bosen di rumah, udah nggak tau mau ngapain lagi (selain belanja online), hehe...

Anyway, mau ngebahas sekilas banget film yang terakhir kali ditonton sebelum kasus viruskorona mencuat. Filmnya yaitu Fantasy Island dan nontonnya bertempat di Plaza Senayan. Awal kisahnya dimulai dengan lima orang yang memenangkan undian untuk mewujudkan fantasi yang diinginkan di suatu pulau. Singkat kata, ternyata kelima orang tersebut pernah berada di tempat yang sama tapi tidak saling mengenal. Filmnya bagus juga ternyata, melebihi ekspektasi, nggak mengecewakan.

Belum bisa ke bioskop lagi buat nonton karena bioskopnya juga masih pada tutup. Kalau di rumah sih seringnya nontonnya FTV, FTV lho, bukan sinetron. Suka nonton FTV karena alur kisahnya nggak ribet, nontonnya nggak usahlah pake kebanyakan mikir dan bisa bikin ketawa juga. Suka takjub juga dengan judul-judulnya, kreatif gitu yang bikin judul dan pula terkadang intriguing, contoh nih "Terjebak Cinta Adik Kakak, Aku Kudu Piye?". Intriguing banget kan? Hehe... Memang FTV yang tayang pada saat sekarang-sekarang ini banyak yang udah pernah ditayangin, cuma dulu nggak berkesempatan buat nonton, meskipun ada juga yang dulu udah pernah ditonton.

Sebagai penutup, buat iseng-iseng, mau bikin tebak-tebakan ah, cokelat apa yang nggak bisa dimakan tapi enak?

Tuesday, April 14, 2020

The Five-orites

Pada hari ini, udah tiga minggu dua hari sejak tulisan yang terakhir di-publish. Cuaca di Jakarta masih belum banyak mengalami perubahan, masih gitu-gitu aja, mendung dan kadang-kadang hujan. Kemarin juga sempat gerimis, hujan lumayan deras, diselingi geluduk, kalau sekarang cuacanya lagi berawan.

Untuk kasus viruskorona, karena udah tiga minggu lebih, berdasarkan teori sih harusnya udah aman untuk tidak menulari orang lain karena tetep sehat-sehat aja. Yang masih perlu diwaspadai yaitu kemungkinan untuk ditulari, makanya masih membatasi diri buat nggak pergi-pergi dulu, daripada daripada.

By the way, karena di awal tahun ngebahas IHSG, mau ngebahas lagi secara sekilas di sini. Jadi, bukan melulu soal kesehatan, viruskorona juga berimbas pada IHSG (dan juga nilai tukar IDR tentunya) yang berakibat terjadinya koreksi. Dengan posisi IHSG hari ini yang berada di angka 4,600an (sebelumnya sempat di 3,900an), bagi yang mempunyai posisi yang berhubungan dengan IHSG, posisi jangka panjang tentunya, di atas kertas pasti akan mengalami penurunan NAB. Dan biar posisi jangka panjangnya nggak sia-sia sekaligus untuk proteksi, bagusnya sih melakukan top-up. Angka 6,000 masih lumayan jauh, apalagi 7,500, hehe...

Kalau yang belum mempunyai posisi, pasang posisi sekarang-sekarang ini sepertinya akan menguntungkan di masa depan. Berbicara soal masa depan, yang dimaksud di sini yaitu paling enggak di atas lima tahun. Kalau untuk jangka pendek kan biasanya hit and run, jadi nggak perlu dibahas.

IHSG naik adalah suatu keniscayaan, persoalannya adalah seberapa cepat kenaikannya. Mirip halnya dengan kurs IDR terhadap USD, sejak dulu kurs IDR semakin naik. Jika untuk IHSG yang diinginkan adalah kenaikan yang secepat-cepatnya maka untuk kurs IDR adalah kenaikan yang selambat-lambatnya.

Demikian untuk pembukaannya sebelum ke hal yang mau dibahas. Yang akan dibahas, sesuai dengan judulnya, lima hal favorit. Spesifiknya lima mal favorit yang berada di Jakarta. Mal yang udah pernah dikunjungi tentunya karena mal di Jakarta lumayan banyak dan belum semua mal yang ada di Jakarta pernah dikunjungi. Bukan bahasan yang serius-serius amat supaya nggak kebanyakan mikir.

Sebagai mal terfavorit adalah Plaza Indonesia. Sejak pertama kali ke PI udah langsung suka dengan tempatnya. Yang bikin suka juga karena hingga sekarang masih belum begitu hapal juga setiap menjelajah PI. Selain itu lokasinya hanya berseberangan dengan Grand Indonesia, jadi kalau pengen mampir ke GI nggak usah repot meskipun kalau jalan kaki ya lumayan juga. Dulu PI nyambung juga ke eX cuma eX udah nggak ada lagi.

Yang kedua yaitu Plaza Senayan. Berbeda dengan PI, PS ini gampang banget dijelajahi dan suasananya juga menyenangkan. Tempatnya lega. Seperti halnya dengan PI juga, PS ini lokasinya berseberangan dengan Senayan City, jadi kalau mau ke SenCi dari PS bisa juga dengan hanya berjalan kaki.

Menyusul berikutnya adalah Pondok Indah Mal 1. Seperti PS, PIM 1 ini juga gampang banget dijelajahi, sulit untuk kesasar kalau ke PIM 1 meskipun baru pertama kali. PIM 1 juga adalah mal pertama di Jakarta yang dikunjungi. Ke PIM 1 awalnya gegara nginep di rumah om temen kuliah di Bandung di daerah Radio Dalam. Waktu itu diajakin temen buat nemenin ke Jakarta. Karena Radio Dalam deket dengan PIM 1 makanya bisa kesitu. Nonton pertama di Jakarta juga di PIM 1. Seperti halnya dengan PI dan PS, PIM 1 ini pun berseberangan dengan Pondok Indah Mal 2, berhubungan juga malah, jadi kalau mau ke PIM 2 nggak usah repot-repot buat nyeberang jalan.

Lanjut, Gandaria City merupakan yang keempat. Suka dengan GanCit karena suasananya yang mirip-mirip PI dan PS. Tempatnya luas juga, jadi rasanya lega nggak sumpek. Saat ini GanCit jadi tempat pilihan satu-satunya buat nonton di IMAX meskipun di Mal Kelapa Gading ada juga.

Terakhir, yang kelima yaitu Kota Kasablanka. Suka dengan KoKas oleh karena jaraknya yang nggak terlalu jauh dari rumah. Jadi kalau lagi harus cepet-cepet perginya ke KoKas karena malnya boleh dibilang lengkap, nggak repot.

Demikian untuk bahasan kali ini, semoga menghibur. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. And, always stay safe and healthy!

Sunday, March 22, 2020

Nostalgic And Memorable Places

Sebelum ke pokok bahasan, mau update dulu kondisi terkini. Jadi, cuaca Jakarta hingga tulisan ini di-publish masih diselimuti mendung, sehingga masih harus waspada terhadap kemungkinan terjadinya lagi antrian air. Sementara antrian air masih mungkin terjadi, belum lama ini direpotkan juga dengan adanya kasus Covid-19 alias viruskorona. Oh Em Ji. Satu hal belum beres udah disusul dengan hal lain.

Yang bikin kuatir adalah, jangan-jangan setelah ini ada hal lainnya lagi yang menyusul. Tapi semoga aja enggak. Kalau antrian air tergolong kasus lokal karena nggak semua mengalami, berbeda halnya dengan viruskorona karena digolongkan sebagai kasus yang mendunia, yang mana setiap orang berpotensi untuk terkena. This. Is. Scary.

Demi untuk tidak terhampiri viruskorona, yang dilakukan pada saat ini mengusahakan diri untuk nggak keluar rumah kecuali memang harus atau mau nggak mau. Dan kalau di luar rumah selalu berusaha untuk menghindari kerumunan. Selain itu juga berupaya agar nggak capek-capek amat meskipun masih lumayan banyak hal yang mesti diberesin. Alhamdulillah, saat ini, dan juga semoga untuk seterusnya, [merasa] sehat-sehat aja. Merasa karena untuk tau terpapar viruskorona atau enggak kan harus diperiksa dulu.

Demikian update terkininya, dan sekarang ke pokok bahasannya, sesuai dengan judul, tempat-tempat yang mempunyai nilai nostalgia dan layak untuk dikenang. Di tulisan ini hanya akan dibahas yang ada di Jakarta, untuk yang di kota-kota lain, seperti Bandung misalnya, belum punya rencana untuk ngebahas.

Ada empat tempat di Jakarta selama ini yang mempunyai nilai nostalgia dan layak untuk dikenang. Yang pertama yaitu The Coffee Bean & Tea Leaf, Plaza Senayan, tempat buat ngopi paling favorit di Jakarta. Tapi sekarang udah nggak ada lagi, berganti dengan yang lain. Dulu, jaman ngopi masih belum populer dan belum banyak tempat ngopi, Starbucks juga masih sedikit, lumayan sering ke sini buat ngopi-ngopi. Tempatnya menyenangkan jadi betah buat berlama-lama.

Yang kedua, Marche [Movenpick] Indonesia pada saat masih bertempat di kompleks Gran Melia. Taunya tempat ini dari temennya temen. Jadi waktu itu temennya temen, karena kantornya nggak jauh dari situ, itu ngajakin si temen buat nraktir dan si temen asked me to join them. To my surprise, ternyata tempatnya menyenangkan dan makanannya, juga minumannya, enak-enak. Dan setelahnya malah lumayan sering juga ke Marche karena jadi tempat favorit. Sayang Marchenya sekarang udah tutup, kemudian setelahnya ada juga Marche di Grand Indonesia dan Plaza Senayan. Pernah ke yang di PS tapi belum pernah ke yang di GI. Cuma yang di PS sekarang udah tutup juga, padahal tempatnya enak juga meskipun nggak senyaman saat masih di daerah Kuningan.

Ketiga, tempat ngopi di Setiabudi One di lantai 2 yang udah nggak inget lagi namanya. Udah tutup juga dan terakhir ke Setiabudi One tempatnya udah jadi Anomali Coffee. Dulu ke sini awal-awalnya cuma buat informal meeting karena tempatnya lumayan sepi, cuma lama-kelamaan nggak hanya jadi tempat informal meeting tapi jadi tempat nongkrong juga. Ngopi di sini selain harganya yang nggak terlalu mahal rasanya juga oke punya, makanya kemudian jadi tempat ngopi lain setelah The Coffee Bean & Tea Leaf yang di PS.

Keempat, last but not least, satu restoran yang berada di Tebet Indraya Square. Udah nggak inget juga nama restorannya karena udah lumayan lama banget dan hanya sekali kesitu. Nggak tau juga apa restorannya sekarang masih ada atau udah berganti dengan yang lain. Ke tempat itu buat mentraktir seseorang (yang istimewa tentunya) dan yang memilih tempatnya yang ditraktir, yang nraktir manut wae. Karena pilihannya di sana, so we went there. Tempatnya nggak begitu besar dan waktu itu lagi nggak begitu rame (belum begitu malem padahal) jadi enak kalau buat ngobrol santai, makanannya juga nggak mengecewakan. That was absolutely a night to remember.

And that's all for now, stay safe and healthy!

Monday, March 2, 2020

It Happened Again!

Kalau katanya orang-orang belum bisa move on, dan memang begitulah kenyataannya, yaitu belum bisa move on dari antrian air oleh karena di bulan Februari kemarin kebagian antrian air lagi, dua kali malah, pada hari Minggu, 23 Februari dan Selasa, 25 Februari. Jadi hanya dalam dua bulan ini udah kebagian antrian air tiga kali, sekali di Januari dan dua kali di Februari. Moga-moga mulai di bulan Maret dan seterusnya nggak kebagian antrian air lagi. Amin!

Udah nggak ngerti lagi dengan antrian air sekarang-sekarang ini, mosok baru hujan agak deras sejam dua jam air udah pada sibuk ngantri. Dulu membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa kebagian antrian air tiga kali, lha sekarang kok antrian air yang butuh waktu bertahun-tahun itu terjadi hanya dalam hitungan bulan. Jaman memang berubah tapi untuk perubahannya kan seyogyanya jadi lebih baik atau lebih bagus lagi, bukannya malah jadi lebih jelek.

Gara-gara jadi gampang kebagian antrian air, tiap kali hujan agak lebat jadi was-was, siap-siap kalau antrian air muncul. Mana tiap kali muncul antrian air kejadiannya selalu setelah jam tiga pagi, saat lagi ngantuk-ngantuknya.

There's nothing I can do untuk mencegah terjadinya antrian air. Yang bisa dilakukan hanya menyesuaikan diri supaya nggak repot-repot amat karena setiap kali antrian air muncul yang pasti dialami adalah repot. Hingga saat bahasan ini di-publish pun rumah juga masih berantakan, belum diberesin semua daripada nanti udah diberesin tau-tau antrian air muncul lagi, apalagi dengan kondisi Jakarta yang masih mendung terus, jadi bikin harus siaga selalu. Bukan soal capeknya, tapi beres-beresnya jadi sia-sia.

So, begitulah kesibukan pada dua bulan pertama tahun ini, disibukkan oleh antrian air. Such a waste of time, tapi mau gimana lagi, mau nggak mau, suka nggak suka, ya harus diterima. Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah anda warga Jakarta yang bahagia dengan kotanya? As for me, I am happy as a Jakartan, but happiness is definitely not on my list, hehe... :-p

Ganbatte!

Thursday, January 23, 2020

Hope

Tulisan pertama di tahun ini, 2020. Jadi, di awal tahun ikut kebagian antrian air yang belum sempat masuk ke tanah karena mungkin banyak air yang ikut tahun baruan. Air yang nunggu antrian lumayan banyak juga, dengan ketinggian sekitar 30 cm di dalem rumah. Alhamdulillah masih belum lupa gimana soal cara menghadapi antrian air setelah bertahun-tahun nggak mengalami.

Dulu, kebagian antrian air lumayan banyak setelah diguyur hujan lebat selama tiga hari berturut-turut tanpa henti, tapi di awal tahun ini hanya dengan intensitas hujan yang nggak terlalu tinggi air udah pada ngantri hanya setelah sekitar tiga jam. Antrian airnya nggak begitu lama sih, antara dua tiga jam gitu, yang bikin repot ngebersihin sisa-sisa antrian airnya.

Dasar nasib awak lagi nggak mujur, nggak ikutan hura-hura tahun baru, nggak ikutan tiup-tiup terompet, tapi ikutan kebagian antrian air, hehe...

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini juga nggak beresolusi tapi berharap aja semoga IHSG di akhir tahun bisa mencapai angka 7,500. Dalam sejarahnya, IHSG belum pernah mencapai 7,000. Posisi nilai tertinggi yang pernah dicapai yaitu pada awal-awal tahun 2018, dua tahun lalu, udah lumayan lama juga, semenjak itu IHSG belum lagi pernah mencatatkan rekor tertinggi.

So, apakah harapannya akan tercapai atau tidak? We'll find out by the end of this year, tapi tanpa harus menunggu hingga akhir tahun pun sebenernya udah bisa diperkirakan apakah akan tercapai atau tidak. Gampangnya gini, kalau di bulan September masih berkutat dibawah angka 7,000 ya berarti hampir pasti nggak akan tercapai.

Kenapa IHSG kok nggak IDR? Sebab IDR harus selalu ada pembanding yaitu USD, jadi nilai IDR naik atau turun dasarnya adalah USD. Males ngebahas soal apakah IDR yang melemah ataukah USD yang menguat. Kalau IHSG kan nggak usah ada pembanding, naik atau turun, menguat ataupun melemah adalah prestasinya sendiri, nggak perlu dibandingin dengan DJIA misalnya, yang saat ini lagi sibuk-sibuknya mencatatkan rekor tertinggi. 30,000 in sight.

Featured Post