Sebelum memulai ke bahasan, update sekilas dulu soal IHSG. Hingga penutupan hari ini IHSG berada di kisaran lima ribu, lima ribu kurang sedikit. Merupakan suatu kemunduran karena menjelang akhir bulan lalu, Agustus, sudah mendekati 5,400. Mudah-mudahan di akhir tahun nanti bisa berada di kisaran 5,500, kalau bisa lebih tentunya lebih bagus lagi, berarti ekonomi menunjukkan pemulihan. Kalau kata pak JK, lebih cepat lebih baik.
Bahasan untuk kali adalah pada saat-saat awal di Amerika, bagaimana berada di situasi yang belum pernah dialami sebelumnya. Beberapa hal udah pernah juga dibahas di blog sebelumnya, cuma aja beda konteks. Seperti yang udah pernah ditulis, pergi ke Amerika dengan maskapai China Airlines, pada suatu hari di awal bulan Mei 1993. Pergi ke bandar udara Soekarno-Hatta ditemenin ibuk. Sebenernya sendirian juga nggak apa-apa, udah terbiasa buat kemana-mana sendiri, tapinya ibuk pengen nganterin karena untuk kali ini perginya jauh, ke Amerika. Bapak nggak ikut karena kebetulan saat itu lagi di Amerika, tugas belajar, ikut short course di University of Pittsburgh di Pennsylvania selama satu bulan.
Dari Jakarta ke Los Angeles pesawatnya singgah dulu di Singapura dan Taipei. Mendarat di LAX hari Jumat sore 7 Mei 1993. Yang jemput udah ada karena saat di Triad dulu udah ngisi formulir untuk hal-hal apa yang diinginkan pada saat di Amerika, dan milih untuk dijemput di bandara. Pilihan untuk tinggal dengan host family juga termasuk biar nggak repot karena hanya sekitar tiga bulan di Covina dan Glendora. Mobil punya yang jemput jenisnya convertible, jadi berasa udik karena baru kali itu naik mobil convertible.
Sesampainya di rumah host family, yang jemput bilang ke host mother kalau macet di jalan. Dalam hati terheran-heran, emang macetnya dari mana wong lancar sepanjang perjalanan. Ternyata kalau jalannya agak pelan itu udah disebut macet. Wah, beda arti, hehe...
Disambut dengan ramah oleh host mother yang punya dua anak, satu cowok dan satu cewek. Host mother-nya single parent. Ada welcome card juga, tapi di kartu yang ditulis adalah nama tengah, Imam, bukan nama depan ataupun belakang. Ya udahlah, daripada ribet, mungkin karena nama depan, apalagi belakang terlalu sulit untuk diucapkan buat ukuran sana, makanya menggunakan nama tengah aja yang gampang. Karena dipanggil Imam, jadinya kemudian memperkenalkan diri dengan temen-temen yang di LCP dengan nama Imam.
"What's in a name? That which we call a rose. By any other name would smell as sweet". Apalah arti sebuah nama. Tapi soal nama di Amerika menjadi hal yang penting. Secara umum setiap orang mempunyai tiga nama, depan, tengah, dan belakang. Punya dua nama masih oke karena yang buat identifikasi adalah nama belakang kemudian depan. Yang bisa merepotkan kalau hanya punya satu nama, alamat dah bakalan dapet kode NFN atau FNU. No First Name, First Name Unknown (Unidentified).
Jadi kalau punya cita-cita untuk menyekolahkan anak ke Amerika paling enggak punya dua nama lah, biar anaknya nggak repot, dan kalau bisa jangan ngasih nama yang sulit biar gampang dieja. Dulu sewaktu akan wisuda sampe dipanggil dulu sama panitia yang bertugas manggil yang diwisuda supaya nggak salah eja. Mengucapkan Setyowardono bukanlah hal yang mudah, di sana bisa bikin orang keseleo lidah, hehe...
Karena saat itu udah menjelang malam, istirahat sebentar di kamar dan dilanjut dengan makan malam. Untuk makan malam porsinya nggak banyak, di rumah host family kalau makan malam terbiasa dengan porsi sedikit jadi diawal-awal masih suka agak laper, tapi lama-kelamaan ikut terbiasa juga. Selama di sana nggak pernah disuguhi makanan yang mengandung babi karena udah tau dari awal kalau nggak makan babi. Karena nggak makan babi host family ikutan juga nggak makan babi. Abis makan ngantuk tapi nggak bisa tidur, jet lag.
Hari Minggunya dianter host mother ke lokasinya LCP di Citrus College. Dikasih tau juga dimana tempat pemberhentian bus karena bakalan menggunakan bus, Foothill Transit, sebagai sarana transportasi sehari-hari. Saat ditanya harga tiketnya berapa host mother bilangnya nggak tau karena belum pernah naik bus. Sama host mother cuma dikasih brosur dan jadwal busnya. Waduh, tapi ya udahlah gimana nanti aja.
Senin paginya, karena jadwal di LCP dimulai 10 Mei, berangkat dengan berbekal jadwal dan rute bus yang udah dipelajari. Nunggu di haltenya nggak lama karena bus dateng sesuai jadwal. Begitu naik langsung cari tempat duduk, awalnya diliatin supirnya tapi didiemin. Agak heran juga. Keheranan terjawab saat di perhentian berikutnya ada yang naik dan ikutan nyelonong cari tempat duduk. Sama supirnya dibilangin, "hey you, pay first!". Wah, ini toh ternyata alasannya kenapa diliatin supir, seharusnya bayar dulu baru cari tempat buat duduk. Untung nggak ditegur, supirnya ngerti kalau nggak ada tampang kriminal, tapi agak tengsin juga, hehe...
Belum selesai sampai di situ, pada saat mau turun ngasih selembar satu dolaran ke supir dan nungguin kembalian karena harga tiketnya 85 sen. Tau harga tiket 85 sen setelah nanya ke supirnya. Saat supirnya sadar ternyata ditungguin kemudian langsung bilang "no change, no change". Nggak ada kembalian, jadi harus bayar dengan uang pas, kalau lebih nggak akan dapet kembalian. Agak tengsin lagi, hehe...
Untuk ke LCP perlu dua kali ganti bus, jadi setiap hari empat kali naik bus pulang pergi. Lumayan mihil kalau ditotal, 3 dolar 40 sen. Supaya lebih murah dianterin host mother buat beli tiket bulanan untuk pelajar yang harganya 30 dolar. Jadi setiap kali naik bus tinggal tunjukin aja tiketnya. Satu hal, setiap kali naik bus kalau di jadwal yang sama maka ketemunya hampir pasti dengan orang-orang yang sama juga.