Sunday, July 31, 2022

"Every Step Of The Way"

Sebelum dimulai, judul tulisan nyontek dari judul lagu David Benoit, biar nggak menjadi keliru sangka. Di satu lagunya Karen Carpenter pernah bilang gini, 'ingin bintang tinggal bilang, ingin bulan tinggal pesan'. Eh... bentar, bentar, kalau itu sih yang bilangnya siapa lagi kalau bukan Trie Utami, hehe... Karen Carpenter bilangnya gini, 'the best love songs are written with a broken heart'.

The best love songs. Kalau membahas soal the best love songs, secara personal nggak ada sih lagu mana yang dianggap sebagai the best love songs. Karena, as for me, setiap lagu punya peristiwanya sendiri sebagai suatu pengingat. Lagi suka dengan si ini lagunya ini, suka dengan si itu lagunya itu, dan selanjutnya.

Bukan hanya soal pada saat lagi suka dengan seseorang, tapi misalnya pada saat lagi bete karena nilai ujian yang nggak bagus pun bisa juga tentu ada lagu yang menyertai. Atau misalnya selagi dalam perjalanan ke suatu tempat, ada juga lagu yang mengiringi meskipun lagunya ya lagu cinta juga karena memanglah kebanyakan lagu bahasannya adalah soal cinta, hehe...

Sebagai contohnya, sewaktu masih awal-awal di Troy nyaris setiap pagi sebelum pergi kuliah ada lagu Mariah Carey, "Dreamlover", yang sering diliat karena disiarin mulu oleh VH1. Atau juga "All I Want" yang lagunya Toad The Wet Sprocket yang selalu setia untuk menemani di saat-saat repot, dan masih banyak lagi.

Tapi kalau lagu untuk seseorang yang I'm in love with, deeply in love for sure, the best love song yang paling terpikirkan udah pasti adalah lagu berjudul "You're The First, The Last, My Everything". Demikian ;-)

 

My first, my last, my everything
And the answer to all my dreams
You're my sun, my moon, my guiding star
My kind of wonderful, that's what you are

I know there's only, only one like you
There's no way they could have made two
You're, you're I'm living for
Your love I'll keep forever more
You're the first, you're the last, my everything

In you I've found so many things
A love so new only you could bring
Can't you see if you, you make me feel this way
You're like a first morning dew on a brand new day

I see so many ways that I can love you 'till the day I die
You're my reality, yet I'm lost in a dream
You're the first, the last, my everything

Saturday, July 30, 2022

The Beginning And The End

Tulisan kali ini adalah sesuatu bahasan soal hubungan dengan seorang mantan teman baik. Yup, mantan teman, soalnya udah nggak diakui lagi sebagai teman sejak beberapa tahun lalu setelah si teman pergi secara semena-mena pada saat lagi ketemuan di suatu tempat di Setiabudi One dan juga di-unfriend di facebook, hehe...

Gimana kenalnya? Udah lama banget juga sih kenalnya, tahun dua ribu berapa di suatu forum online. Pada awal mulanya hanya saling bertukar komen tapi kemudian malahan ngebahas hal yang lain. Setelah selesai dari forum lalu bahasannya dilanjut lagi dengan melalui email. Saat itu cuma tau adalah ibuk dari seorang anak perempuan. Sekarang anaknya udah dua, yang kedua laki-laki.

Di awal-awal sempat ke kantornya dua kali. Saat itu masih berkantor di Kuningan, itu di gedung yang ada jamnya, kalau dari arah Plaza Festival sebelumnya Granadi. Pertama kali ke kantornya belum ketemu karena masih ada urusan lainnya jadi cuma nitipin oleh-oleh aja di resepsionis. Ketemu di yang kedua.

Oleh-olehnya dibawain langsung dari Bandung pagi-pagi dan setelah di Jakarta mampir dulu ke kantor si ibuk sebelum ketempat lain. Batagor yang tempatnya ada di deket San Francisco dan dari Kartika Sari yang ada di Dago. Bandung tuh hebat, deket kalau mau ke San Francisco :-p

Di kali pertama ke kantornya sempat berpapasan sih, cuma aja si ibuk nggak ngeh. Bisa berpapasan karena tau si ibuk bakal nyariin setelah dikabari resepsionisnya, makanya berbalik arah dulu biar nggak kesusul. Setelah berkunjung untuk kali kedua ke kantornya barulah kemudian ketemu dan ngobrol lumayan lama. Setelah itu sempat ketemuan juga di Setiabudi One karena deket dengan kantornya.

Mulai jarang berkomunikasi tuh sepertinya sejak si ibuk hamil anaknya yang kedua dan makin jarang lagi setelah anak keduanya lahir. Apalagi kemudian tau kalau anaknya yang kedua deket banget dengan si ibuk. Pernah waktu lagi ketemuan di Kokas si ibuk dikirim pesen supaya cepet pulang, hehe... Selama kenal cuma sempat beberapa kali ketemuan aja dengan si ibuk.

Hingga tibalah pada pertemuan terakhir beberapa tahun lalu bertempat di Setiabudi One. Saat lagi membahas sesuatu si ibuk menjadi nggak suka dan kemudian pergi begitu aja. Hanya bisa terbengong-bengong, tapi ya udah sih. Nggak berusaha untuk mengejar juga karena memang udah maunya begitu. Jadi, demikian akhir dari suatu pertemanan yang telah berlangsung bertahun-tahun. Nggak happy ending, hehe... ;-)

 

You just call out my name
And you know wherever I am
I'll come running to see you again
Winter, Spring, Summer, or Fall
All you have to do is call
And I'll be there
You've got a friend

Sunday, July 24, 2022

A Little Secret

Kebetulan. Yang tadinya dicari-cari tau-tau malah muncul sendiri pada saat nggak dicari-cari. Dulu pernah suka dengan seseorang yang pada awalnya aja nggak tau entah siapa namanya. Ketemu sekilas di suatu acara tanpa sempat kenalan. Tapi karena suka jadi penasaran pengen tau lebih jauh lagi. Dengan berbagai usaha tau juga siapa namanya.

Masih belum cukup, dimanakah rumahnya? Jaman dulu kalau berniat mau kenalan ya tentu harus ketemu orangnya secara langsung. Dengan berbagai usaha lagi kemudian jadi tau juga dimana daerah rumahnya. Ini daerah lho ya, bukan alamat. That was the best I could get. Berbekal nama daerahnya maka selama beberapa malam berjalan-jalan di daerah tersebut demi sekedar mencari tau dimanakah gerangan alamatnya itu. Udah kesana kemari tetapi nggak ketemu juga, hingga berpikir untuk menyerah.

Pada suatu malam saat udah hampir menyerah dan bersiap pulang tiba-tiba ngeliat yang disuka itu lagi duduk di rumahnya. Bisa tau karena tirai jendelanya belum ditutup. Tanpa berlama menunggu, setelah beberapa malam kemudian berkunjung ke rumahnya buat kenalan, modal nekat. Untungnya diterima dan nggak disuruh pulang, hehe...

Peristiwa yang lain. Mirip-mirip juga. Suka dengan seseorang pada saat berpapasan di jalan. Dia saat itu lagi jalan ke kampusnya. Setelahnya cuma tau namanya dan dimana tempat kuliahnya, di Fakultas apa gitu, belum tau dimana rumahnya. Waktu berlalu.

Kemudian, pada suatu senja menjelang malam, saat lagi dengerin radio, radio Oz, 'turn the radio up for that sweet sound' *nyanyik*, tau-tau ada yang ngirim lagu buat yang lagi disuka itu. Disebutkan dengan lengkap nama plus alamatnya, kan biar nggak keliru kirim. Kebetulan lagi, tanpa dicari-cari jadilah tau alamatnya. Tengkiu buat yang ngirimin lagu lho, sungguhlah berjasa banget, hehe...

Langsung kenalan setelah itu? Enggak lah, kenalnya sekitar dua tahun kemudian, hehe... Lama yak. Soalnya merasa percuma juga kalau harus kenalan pada saat itu juga. Dan tidaklah sia-sia menunggu selama dua tahun karena pada akhirnya tau punya perasaan yang sama. Dengan yang sebelumnya juga gitu, usahanya nggak sia-sia karena ternyata dia punya perasaan yang sama juga.

Satu lagi, tapi kali ini bukan soal kebetulan. Saat itu, pada suatu siang, lagi jalan dengan seseorang yang lagi disuka dan dia juga udah tau tapi belum mengungkapkan apakah suka juga atau enggak. Karena belum makan mampir di Hokben Setiabudi, di Bandung ini, buat makan siang.

Di tempat makan nggak duduk di depannya akan tetapi di sebelahnya. Sempat kayak agak gimana gitu dianya tapi tetep dibiarin aja duduk di sebelahnya. Yang sungguhlah nggak disangka, setelah selesai makan malah ditawari buat menyicipi minumannya dia. Tentunya nggak ditolak dong. Apakah dia kemudian punya perasaan yang sama? Well... biarlah itu menjadi rahasia kami berdua ;-)

 

Darlin' all I wanna do is be with you
Twenty four hours a day
All the other dreams I've had, have faded away
Darlin' all I wanna do is be with you
Twenty four hours a day
 
If you wanna be with me
Then here's where I'll stay
 
...

And the place for me isn't history
It's with you forever more

Thursday, July 14, 2022

"The Road Not Taken"

Selain beribadah haji, umrah juga udah pernah dan udah juga pernah dibahas di blog sebelumnya. Tapi nggak apa-apa dibahas lagi, masih dengan perspektif yang lain tentu, juga untuk menyegarkan ingatan akan peristiwa yang telah lalu ;-)

Nggak seperti saat berhaji yang boleh dibilang banyak perjuangannya karena hajinya menggunakan haji biasa, umrah relatif lebih enak dan nyaman karena fasilitasnya setara dengan haji plus atau plus plus. Oleh karena umrahnya dilakukan setelah berhaji, yang dilakukan merupakan definisi dari bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Jikalau menginginkan bersenang-senang dahulu bersenang-senang kemudian tentulah untuk ibadah hajinya menggunakan yang plus atau plus plus, hehe...

Pada waktu itu segala urusan untuk umrah dipercayakan kepada Tiga Utama. Memang pelayanannya sungguh memuaskan, mulai sejak dari berangkat hingga pulang. Hotelnya di Jeddah, Madinah, dan Mekkah bintang empat atau bintang lima dan satu kamar hanya ditempati oleh dua orang. Hotel yang di Madinah ternyata berhadapan dengan tempat penginapan saat haji dan hotel yang di Mekkah tempatnya di depannya Masjidil Haram, jadi enak banget kalau mau ke Masjidil Haram, setiap saat bisa. Pintu di Masjidil Haram tuh banyak banget tapi pintu favorit untuk keluar masuk sejak haji adalah pintu 78.

Kalau di Masjid Nabawi nggak buka 24 jam seperti di Masjidil Haram, dan tempat yang paling favorit adalah raudhah. Saat ibadah haji untuk bisa dapet tempat di raudhah harus cepet-cepetan, jadi pada banyak yang nunggu di pintu masjid yang paling deket dengan raudhah dibuka dan kemudian adu cepet lari supaya bisa dapet tempat di raudhah buat shalat subuh. Soal lari cepet-cepetan di dalem masjid sepertinya cuma terjadi di Masjid Nabawi. Dulu juga ikutan lari cepet-cepetan sih, selalu dapet tempat untungnya, hehe... Kalau saat umrah enak karena nggak harus rebutan tempat.

Yang enak juga kalau umrah, dari Madinah ke Mekkahnya naik pesawat, nggak seperti saat berhaji yang naik bus terbuka, yaitu bus yang nggak berpintu dan jendelanya nggak menggunakan kaca. Waktu dari Jeddah ke Madinah juga gitu, kalau umrah naik pesawat dan saat berhaji naik bus. Kalau pada saat berhaji jadwal di Madinah disesuaikan dengan 40 kali shalat lima waktu di Masjid Nabawi secara berturut-turut.

Hal yang sungguh sulit dilakukan saat ibadah haji yang bukan hal wajib dari rangkaian ibadah hajinya adalah mencium hajar aswad. Sebabnya karena harus berdesak-desakan. Pernah sekali nyaris mencium hajar aswad tapi nggak keburu karena nggak mudah untuk mempertahankan diri di antara kerumunan. Mencium hajar aswad berkali-kali saat umrah karena suasananya sepi, yang perempuan juga punya kesempatan buat mencium hajar aswad karena nggak harus berdesak-desakan, cukuplah dengan ikut antrian.

Yang agak menjadi persoalan pada saat berumrah adalah hal makanan. Bukan berarti makanannya nggak berkualitas, hanya rasanya kurang sesuai untuk selera, padahal jika ditilik dari penampilannya sungguhlah menggiurkan serta menggugah selera. Nggak buat semua makanannya tentu. Untungnya setiap mau makan ngambilnya sedikit-sedikit, jadi tau mana yang sesuai selera mana yang enggak karena hampir semuanya dicoba. Besok-besoknya hanya mengambil makanan yang sesuai selera.

Dan sehubungan dengan judul, karena bertahun-tahun kemudian baru menyadari bahwa pada saat umrah itu sebetulnya juga adalah untuk menentukan soal pilihan jalan mana yang harus dilalui. Memilih untuk meneruskan jalan yang sebelumnya telah dilalui, udah diwanti-wanti untuk memilih jalan yang lain tapi saat itu diabaikan. I didn't take the one less traveled by.

Gimana jadinya kalau memilih yang the one less traveled by? Hmm... bisa jadi blog ini nggak pernah ada dan nggak pernah juga ngirim email soal I love you ;-) Seandainya ada mesin waktu, pengen juga kembali lagi ke saat itu, to change the future, not back to the future ;-)

 

We'll be shadows in the moonlight
Darlin' I'll meet you at midnight
Hand in hand we'll go
Dancin' through the milky way

Featured Post