Selain beribadah haji, umrah juga udah pernah dan udah juga pernah dibahas di blog sebelumnya. Tapi nggak apa-apa dibahas lagi, masih dengan perspektif yang lain tentu, juga untuk menyegarkan ingatan akan peristiwa yang telah lalu ;-)
Nggak seperti saat berhaji yang boleh dibilang banyak perjuangannya karena hajinya menggunakan haji biasa, umrah relatif lebih enak dan nyaman karena fasilitasnya setara dengan haji plus atau plus plus. Oleh karena umrahnya dilakukan setelah berhaji, yang dilakukan merupakan definisi dari bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Jikalau menginginkan bersenang-senang dahulu bersenang-senang kemudian tentulah untuk ibadah hajinya menggunakan yang plus atau plus plus, hehe...
Pada waktu itu segala urusan untuk umrah dipercayakan kepada Tiga Utama. Memang pelayanannya sungguh memuaskan, mulai sejak dari berangkat hingga pulang. Hotelnya di Jeddah, Madinah, dan Mekkah bintang empat atau bintang lima dan satu kamar hanya ditempati oleh dua orang. Hotel yang di Madinah ternyata berhadapan dengan tempat penginapan saat haji dan hotel yang di Mekkah tempatnya di depannya Masjidil Haram, jadi enak banget kalau mau ke Masjidil Haram, setiap saat bisa. Pintu di Masjidil Haram tuh banyak banget tapi pintu favorit untuk keluar masuk sejak haji adalah pintu 78.
Kalau di Masjid Nabawi nggak buka 24 jam seperti di Masjidil Haram, dan tempat yang paling favorit adalah raudhah. Saat ibadah haji untuk bisa dapet tempat di raudhah harus cepet-cepetan, jadi pada banyak yang nunggu di pintu masjid yang paling deket dengan raudhah dibuka dan kemudian adu cepet lari supaya bisa dapet tempat di raudhah buat shalat subuh. Soal lari cepet-cepetan di dalem masjid sepertinya cuma terjadi di Masjid Nabawi. Dulu juga ikutan lari cepet-cepetan sih, selalu dapet tempat untungnya, hehe... Kalau saat umrah enak karena nggak harus rebutan tempat.
Yang enak juga kalau umrah, dari Madinah ke Mekkahnya naik pesawat, nggak seperti saat berhaji yang naik bus terbuka, yaitu bus yang nggak berpintu dan jendelanya nggak menggunakan kaca. Waktu dari Jeddah ke Madinah juga gitu, kalau umrah naik pesawat dan saat berhaji naik bus. Kalau pada saat berhaji jadwal di Madinah disesuaikan dengan 40 kali shalat lima waktu di Masjid Nabawi secara berturut-turut.
Hal yang sungguh sulit dilakukan saat ibadah haji yang bukan hal wajib dari rangkaian ibadah hajinya adalah mencium hajar aswad. Sebabnya karena harus berdesak-desakan. Pernah sekali nyaris mencium hajar aswad tapi nggak keburu karena nggak mudah untuk mempertahankan diri di antara kerumunan. Mencium hajar aswad berkali-kali saat umrah karena suasananya sepi, yang perempuan juga punya kesempatan buat mencium hajar aswad karena nggak harus berdesak-desakan, cukuplah dengan ikut antrian.
Yang agak menjadi persoalan pada saat berumrah adalah hal makanan. Bukan berarti makanannya nggak berkualitas, hanya rasanya kurang sesuai untuk selera, padahal jika ditilik dari penampilannya sungguhlah menggiurkan serta menggugah selera. Nggak buat semua makanannya tentu. Untungnya setiap mau makan ngambilnya sedikit-sedikit, jadi tau mana yang sesuai selera mana yang enggak karena hampir semuanya dicoba. Besok-besoknya hanya mengambil makanan yang sesuai selera.
Dan sehubungan dengan judul, karena bertahun-tahun kemudian baru menyadari bahwa pada saat umrah itu sebetulnya juga adalah untuk menentukan soal pilihan jalan mana yang harus dilalui. Memilih untuk meneruskan jalan yang sebelumnya telah dilalui, udah diwanti-wanti untuk memilih jalan yang lain tapi saat itu diabaikan. I didn't take the one less traveled by.
Gimana jadinya kalau memilih yang the one less traveled by? Hmm... bisa jadi blog ini nggak pernah ada dan nggak pernah juga ngirim email soal I love you ;-) Seandainya ada mesin waktu, pengen juga kembali lagi ke saat itu, to change the future, not back to the future ;-)
No comments:
Post a Comment