Untuk tulisan kali ini, mau ngebahas kenapa dan gimana kok dulu kuliah di ITB untuk S1. Kalau keterimanya di ITB sih nggak sulit, sebab tanpa harus mengikuti tes-tesan segala seperti Sipenmaru atau yang sekarang dikenal sebagai SBMPTN tapi melalui jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan). Sebenernya agak takjub juga bisa keterima di ITB melalui PMDK karena merasa nggak pinter-pinter amat, di sekolah sepertinya banyak yang lebih pinter. Nggak pernah jadi peringkat satu juga di kelas tapi pernah di peringkat dua untuk satu sekolah saat kelas dua semester dua. Kalau di kelas tiga semester satu malahan pernah di peringkat 40 dari 50 murid. Keren kan? Hehe...
Sungguh merasa beruntung karena dulu ada program PMDK, entahlah gimana andaikan nggak ada, ragu apakah bisa keterima di ITB jikalau harus mengikuti Sipenmaru. Bisa keterima di ITB melalui PMDK mungkin disebabkan yang nilainya pada lebih bagus nggak memilih ITB tapi milih PTN yang lainnya. Karena nggak banyak saat itu murid SMAN 3 Malang yang keterima di ITB melalui PMDK, nggak nyampe 10 orang.
Dulu bukan milih ITB sih sebenernya, tapi lebih ke milih Bandungnya. Karena Bandung cuacanya (katanya, karena belum pernah ke Bandung sebelumnya) mirip-mirip dengan Malang, adem. Nggak pengen kuliah di Malang sebab pengen cari suasana baru. Selain Bandung dulu alternatif lainnya adalah UGM Jogja tempat bapak kuliah, suasana Jogja tampak enak juga. Kalau ke Jakarta males. Surabaya apalagi, malesin banget, selain sumuk nyamuknya ampun-ampunan. Tapi waktu itu pilihan kedua ke Surabaya karena hanya bisa memilih dua universitas/institut dan yang satu harus di wilayah yang sama dengan wilayah SMA, nggak bisa milih Bandung dan Jogja. Pilihan keduanya kedokteran Unair padahal nggak begitu suka jadi dokter. Sempat kuatir juga seandainya diterima di pilihan kedua.
Daftar ke kedokteran Unair karena ada temen main sejak dari SMP yang bercita-cita buat jadi dokter dan daftar ke Unair, makanya ikutan aja. Sekarang temen itu memang udah berprofesi sebagai dokter, spesialis kandungan, dokter Adi Sukrisno. Kalau dokter Adi ini sejak pertama kali kenal udah dikenal sebagai siswa yang berprestasi alias pinter.
Jadi, setelah mempertimbangkan berbagai macam hal, sebagai pilihan pertama di PMDK adalah teknik mesin ITB dan yang menjadi pilihan kedua kedokteran Unair. Kenapa teknik mesin karena nggak begitu suka dengan jurusan teknik sipil, teknik elektro, atau juga teknik informatika misalnya.
Satu hal, kuliah di jurusan teknik mesin itu bukan berarti belajar untuk menjadi montir. Teknik mesin bukan sekolah montir. Yang dipelajari misalnya termodinamika, mekanika fluida, mekanika teknik, dan masih banyak lagi. Bikin puyeng lah belajarnya.
Pengisian formulir untuk PMDK ini dilakukan saat di kelas tiga, sehingga penilaiannya berdasarkan prestasi di kelas satu dan dua. Sempat agak menyesal juga karena nggak begitu serius belajar saat di kelas satu dan kelas dua, seandainya serius belajar sangat mungkin nilainya akan lebih bagus lagi. Nilai rata-rata semester kelas satu dan kelas dua waktu itu diatas 7.5 tapi masih dibawah 8. Gimana mau serius wong catatan aja sering minjem, hehe...
Tau diterima di ITB melalui PMDK setelah sore-sore lagi enak-enaknya tidur dikabarin adik cowok (adik kedua dari tiga bersaudara) sepulang dia sekolah. Dengan adik cowok satu sekolah, dia saat itu masih di kelas satu. Langsung aja setelah itu ke sekolah buat liat pengumumannya. Lega banget setelah tau keterima karena berarti nggak usah lagi ikutan Sipenmaru yang berarti harus belajar lagi buat persiapannya. Males banget kan belajar mulu? ;-)